Posted by: blackcloudies | October 4, 2013

[Fanfict/Chaptered] De’ Dimension – Chapter 11 – ENDING

Title : De’ Dimension

Previous title : 342407 Dimensions

Author : Blackcloudies

Cast : Super Junior!OOC

Genre : Sci-fi/fantasy/romance/family

Rating : T-Pg

Length : Chaptered

WARNING : [!] Boys love story ; yaoi and mpreg [!!] crack and random couple [!!!] unbeta [!!!!] don’t like please don’t read. [!!!!!] No plagiarism or copy-paste without my permission. Thank ^^

Disclaimer : The casts are belong to GOD and theirselves. “De’Dimension” © Mine.

.

.

.

Pelan-pelan Siwon membuka jendela geser berbahan kayu mahoni tersebut. Agak gelap disana, tapi cahaya dari dalam ruang makan mampu sedikit memberikan penerangan diluar sana. Dua orang sedang berdiri membelakangi jendela, yang satunya sedang dirangkul. Mungkin ada sedikit luka karena guncangan tadi.”Kalian siapa?!” tanya Siwon kepada mereka, Sungmin yang penasaran juga mencoba mengintip dibelakang punggung Siwon.

 

Mendengar suara lantang Siwon membuat kedua sosok itu segera membalikan seluruh tubuh mereka dan memperhatikan Siwon dari balik jendela tersebut.

 

“Oh my God…” lirih Siwon ketika dirasa ia mengenal siapa kedua orang tersebut.

 

“Hyaaaaa! Tuan Eun Tuan Hae!!!” Sungmin berteriak memanggil kedua orang tersebut.

 

“SIWONNNNNNNN!! MIN!!!!”

.

.

.

The last chapter – Chapter 11

Kedua mata Donghae membulat ketika dilihatnya sosok Siwon dari balik jendela dalam sebuah rumah sederhana tersebut. Ia tersenyum bahagia. Betapa tidak, sudah teramat lama ia dan Eunhyuk menantikan untuk bertemu lagi dengan putra mereka—membawanya pulang agar dapat berkumpul kembali, dan melanjutkan kehidupan mereka ditempat dan waktu yang seharusnya. Dan pada akhirnya dengan segala perjuangan yang harus dibayar oleh tetesan keringat dan darah, keluarga kecil itu dapat bertemu kembali kini.

Eunhyuk yang sedang dirangkul oleh Donghae pun terlihat tersenyum senang, walau rasa pusing menderanya karena benturan yang terjadi saat keduanya berhasil melalui perjalanan panjang dari dimensi-nya menuju dimensi sekarang, Eunhyuk tetap meluapkan kebahagian yang luar biasa,”Siwonnie…” lirihnya pelan karena sesudahnya pria itu langsung menutup kedua kelopak matanya dengan tubuh yang sudah gontai. Donghae yang memikulnya sudah tak kuasa memopong pria itu lagi dan membiarkannya terjatuh.

.

.

.

‘Kalau begitu cobalah untuk belajar mencintaiku.’

Kalimat yang sungguh mengganggu. Berulang kali Yesung selalu memikirkan kalimat yang Siwon ucapkan sebelumnya. Membuat ia tak fokus untuk mengerjakan tumpukan tugas dari sekolah.”Ah, hari ini sial sekali.” Umpat Yesung. Ia terlihat seperti orang malas. Hanya duduk bersender dengan pena di tangan kanannya yang tak jelas menggambarkan coretan abstrak.

“Apa Siwon menyukaiku selama ini?” tanyanya seorang diri dengan suara berlirih.

Seseorang membuka kasar pintu kamar tersebut, membuat sang pemilik kamar yang sedang duduk di bangku belajar segera berdiri dan meninggalkan pena-nya di tengah buku yang terbuka.

Tatapan kedua mata Yesung sangat fokus kepadanya,”Tolong aku, Yesungie.” Pinta-nya.

Tubuh Yesung meringkuh. Gugup mendengar suara itu kembali,”To-tolong apa?” balasnya.

Siwon masih berada diluar kamar setelah ia membuka keras pintu kamar tersebut,”Kedua orang tua-ku…mereka berada disini sekarang.” Katanya.

.

.

.

Alunan lagu balad dari penyanyi kesukaannya tengah menemani Kyuhyun di gelapnya jalanan malam ibu kota. Ia malas untuk segera kembali pulang kerumah. Malahan ia berniat ingin menghabiskan hari ini dengan berjalan seorang diri sampai sekiranya suasana kota telah sepi.

Biasanya dengan bergumam atau dengan suara pelan Kyuhyun akan mengikuti setiap lirik lagu dari lagu yang ia dengarkan dari media player miliknya, tapi khusus hari ini ia hanya ingin mendengarkan semua lagu-lagi itu tanpa harus ikut mendendangkannya.

“Huh…” sinar terang dari sebuah toko mainan menghentikan langkahnya. Kyuhyun menoleh kearah sampingnya—memperhatikan beberapa mainan yang terpajang dari balik jendela kaca toko tersebut. Tepatnya memperhatikan sebuah robot mainan yang masih dengan rapi terbungkus oleh kertas karton dengan bagian tengah terlapisi plastik agar bisa terlihat dari luar—Kyuhyun menyunggingkan senyumannya.

“Kau membuatku gila, Lee Sungmin.” Lirihnya dengan nada kecil. Kedua mata-nya menjadi sayu dan senyumannya sudah hilang bersamaan dengan turunnya salju-salju kecil yang dingin,”Kau membuatku tidak normal.” Ucapnya lagi.

Salju-salju yang terjatuh semakin tebal. Kyuhyun tak mau kedinginan di luar, terpaksa membuatnya berteduh di dalam toko mainan yang sepi tersebut. Sekalian mencari-cari sesuatu yang mungkin membuatnya tertarik untuk membeli.

.

.

.

Dengan perlahan Donghae menyeka wajah Eunhyuk dengan sebuah kain basah. Wajah Eunhyuk terlihat sedikit kotor karena pria itu terjatuh di halaman samping rumah yang kebetulan bersebelahan dengan ruang makan.

Sungmin ikut duduk berleseh di samping Donghae, Ia merapatkan tubuh Eunhyuk dengan sebuah selimut tebal, menjaganya dari dingin. Ruang tengah tempat mereka semua berada terlihat sangat ramai oleh semua penghuni yang mengerubungi tubuh tak berdaya tersebut.

“Sepertinya dia dehidrasi. Sebaiknya kita bawa saja ke rumah sakit terdekat.” Saran Hangeng.

Heechul tak yakin dengan ide dari suami-nya tersebut, terlebih dilihatnya hujan salju yang tak kunjung reda sedari tadi.”Ku rasa susah untuk membawanya keluar rumah. Pasti jalanan sudah terhalang saju dan mobil tak akan bisa lewat.” Ujarnya.

“Lagi pula kita kan tidak punya mobil, Omma.” Kata Henry yang sedang menyenderkan lengannya di tengah pintu.

Heechul segera menepuk keningnya sendiri”Ah iya.”

“Lebih baik kita tunggu besok pagi. Kalau keadaanya belum membaik, kita antarkan ke rumah sakit.” Ujar Hangeng yang segera di anggukan oleh semuanya.

“Ya, kalian bisa beristirahat dulu disini. Anggap saja rumah sendiri, karena Siwon dan Sungmin juga sudah kami anggap bagian dari keluarga kami.” Heechul menambahi.

Donghae meletakan kain basah yang digunakannya untuk menyeka wajah Eunhyuk, dan beralih memperhatikan Heechul dan Hangeng. Ia memberikan senyum kepada sepasang suami istri baik hati tersebut,”Aku sungguh berterima kasih karena kalian memberikan putra-ku dan kami tumpangan.” Ucapnya dengan tulus,”Apa jadinya kalau Siwon-kita terlantar di tempat asing.” Ucap Donghae lagi dengan raut khawatir.

Siwon yang tengah berdiri di belakang Donghae sedikit menundukan kepalanya, namun kedua matanya tiba-tiba saja mencari sosok Yesung yang sedang berdiri didekat pintu masuk bersama dengan Henry.

‘Apa jadinya kalau kita tak bertemu. Mungkin aku akan selamanya tersesat di tempat asing ini.’ Kata Siwon dalam hati.

Sadar karena tatapan kedua matanya terbalas oleh Yesung yang juga tengah memperhatikannya, Siwon segera memalingkan wajahnya. Membuat ekspresi Yesung menjadi kecewa.’Mungkin tak seharusnya kita bertemu, Choi Siwon.’ ucap Yesung dalam hati.

‘…Kalau kehadiranmu, hanya membuat perasaanku tersesat begitu rumitnya.’

.

.

.

Kyuhyun menaruh sebuah robot mainan ke atas meja kasir. Seorang petugas pun segera melayani barang yang hendak Kyuhyun beli tersebut.”Adikmu suka transformer kah? Dia pasti akan menyukai robot mainan ini.” Gurau si kasir sambil bekerja. Kyuhyun tertawa kecil,”Itu bukan untuk adikku. Itu…untuk pacarku…” jawabnya.

.

.

.

.

.

Ternyata hujan salju menghias kota di pagi berikutnya. Semakin membuat Henry memiliki alasan untuk tak bersekolah.”Kita bisa berangkat ke sekolah bersama dengan sepedaku, aku yang akan menggoes-nya.” Ajak Yesung yang hampir siap dengan persiapan sekolahnya.

“Ah, tidak mau. Di luar dingin sekali hyeong. Aku bisa beku.” Tolak Henry.

“Kau bisa memakai mantel tebalku, itu sangat hangat Henry.”

“Aku hanya perlu memakan sup ayam buatan Omma, dan berbaring di balik selimut tebal agar aku bisa hangat sepanjang hari.” Tolak Henry untuk kedua kalinya. Tak mau mendengar lagi kalimat persuatif dari Yesung, Henry memutuskan untuk keluar kamar dan menuju dapur.

Di ruang tengah, Siwon masih berada disana dengan kedua orang tua-nya dan juga Sungmin yang setia mendampingi keluarga kecil tersebut.

“Ada di mana kita? Tahun berapa sekarang, Siwon?” tanya Eunhyuk yang sudah sadar dari pingsan-nya.

“2012, Daddy. Kita berada di rumah seorang kenalanku.” Jawab Siwon.

“Keluarga di dalam rumah ini sangat baik Hyuk-ah, mereka juga ramah dan sangat care. Aku senang Siwon baik-baik saja berada ditempat ini.” Ucap Donghae. Sungmin ikut mengangguk,”Iya!! Mereka semua sangat baik padaku dan Siwon-hyeong. Kami di perlakukan seperti anak sendiri. Aku sangat senang berada di rumah ini.” Ucapnya bahagia. Sebahagia yang Siwon tunjukan oleh wajah cerianya tersebut.

Eunhyuk satu-satunya yang merasa kurang senang hanya bisa mengerutkan dahinya,”Kita harus segera pulang! Seberapa senang kalian berada disini aku tidak peduli. Aku ingin keluarga kita kembali berkumpul di tempat yang seharusnya, mengerti?!”

Payah. Padahal Siwon sudah lama menantikan kepulangan dirinya ke rumah. Tapi sekarang entah mengapa dirinya menjadi amat bimbang. Merasa dirinya belum ikhlas untuk segera kembali pulang ke dimensinya.

“Uhm, tidak bisakah kita berada disini untuk beberapa hari lagi, Daddy?…ng…berada disini tak terlalu buruk, kurasa.” tanya Siwon dengan keraguannya.

Eunhyuk menatap tajam sang putra, tanpa menjawabpun pastinya Siwon akan tahu dengan jawaban yang akan diutarakan,”Kau fikir, keberadaan kami disini semata-mata untuk plesir belaka? apa perlu ku jabarkan bagaimana rasa cemas kami memikirkan dirimu disana? Hargai kami, Siwon-ah.” Ujarnya.

“Uhh, kenapa kau begitu serius Dad, aku kan’ hanya…” kalimat balasan Siwon tersanggah,”Hanya main-main? Maksudmu begitu?!” oleh Eunhyuk.

“…Dewasa sedikitlah Won-ah. Renungkan atas semua masalah yang sering kau ciptakan dan bebankan pada kami…” Eunhyuk masih ingin meluapkan banyak kemarahan pada Siwon jika saja sebuah tangan lembut di punggunggnya tak membuatnya terhenyak sesaat.”Hyuk, bisakah membicarakan masalah ini dirumah saja.” ucap Donghae—si pemilik tangan lembut itu.”Tapi dia sudah keterlaluan, Hae-ah. Anak ini perlu di hajar kurasa.” Balas Eunhyuk. Usapan di punggungnya terlepas, air muka nya terlihat sedih. Ia tahu Eunhyuk sedang marah besar.

Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga dan tak lama seorang pria muda membuka pintu ruang tengah tempat Siwon dan tiga orang lainnya berada,”Hei, kenapa masih berada di kamar? Ayo kita sarapan.” Ajaknya.

Sungmin bersemangat mendengar ajakan dari Henry barusan,”Ah, ayo kita sarapan …sebelum pulang kerumah kita.” Katanya pelan. Donghae mengangguk setuju, Siwon juga mengiayakan ajakan itu walau dirinya tak mengangguk atau menunjukan wajah bersemangat.

Mereka bertiga segera berjalan keluar ruangan, namun menyadari Eunhyuk yang tak menunjukan respon membuat Siwon dan yang lainnya kembali menatapi Eunhyuk.”Hyuk?” tanya Donghae yang tiba-tiba menjadi heran dengan ekspresi kaku dari Eunhyuk. Tak hanya Donghae, Siwon dan Sungmin pun dibuatnya tak mengerti dengan kekakuan dari Eunhyuk yang seperti sedang melihat hantu, bahkan Henry yang lebih tak mengerti hanya bisa membisu.

“Ayah…” lirih Eunhyuk pelan. Ia mengepal kuat kedua tangannya yang bergemetar—kedua matanya berair, tak mau lepas untuk menatap wajah Henry.’Ayah.’

.

.

.

Yesung menatap jarum jam dinding yang bertengger di kamarnya. Sudah menujukan pukul delapan, dan ia masih berada kamarnya. Yah, sudah dipastikan ia tak masuk kelas untuk hari ini. Semuanya ulah Henry yang tak ingin berangkat sekolah bersamanya, tapi Yesung lebih senang menyalahkan keabsenannya hari ini pada hujan salju yang menahannya dirumah.

Yesung memutuskan untuk kelantai bawah, berniat mencari sesuatu yang bisa dimakan di dapur atau—kalau bisa mencari Siwon dulu kemudian meluruskan pembicaraan mereka semalam. Pembicaraan yang sejujurnya membuat Yesung susah tidur.

“Ng…dimana Siwon?” mau tidak mau Yesung bertanya pada Henry yang sedang duduk terpaku diatas meja lesehan yang berada didalam ruang tengah tersebut.

“Henry?” panggil Yesung padanya karena terlihat sang adik tersebut tak menunjukan respon sama sekali.

“Henry!” sekali lagi Yesung memanggilnya dan barulah pemuda itu menoleh memperhatikan Yesung yang sedang mendekatinya.

“Dimana Siwon? Sungmin dan juga keluarganya?” tanya Yesung ketika dirinya sudah berhenti tepat dihadapan sang adik yang masih duduk terdiam di meja lesehan ala jepang tersebut. Henry belum menjawab, telapak tangannya yang dingin menggenggam erat lengan kiri Yesung.”Hyeong…” panggilnya dengan suara lemas. Yesung menyunggingkan senyumannya, tak bisa menampik betapa bahagia karena Henry mau menyentuh dirinya lagi dan tidak merasa kesal.”Ne Henry, waeyo? Waegeudae?”tanyanya.

“Hyeong…kau pasti tidak percaya dengan apa yang akan ku ceritakan nanti.”

Tatapan Yesung menjadi terfokus dengan kedua mata Henry,”Ada apa? Katakan padaku.” Pintanya.

.

.

.

.

.

2056 Masehi.

“Selama kau dan Tuan muda Choi pergi, aku sudah belajar masak makanan enak. Hehe.” Sunhae duduk disebelah Sungmin yang sedang menyantapi sarapan pagi-nya. Sungmin menyeruput sesendok lagi sup ayam buatan pelayan wanita yang sama-sama merupakan sebuah robot manusia tersebut. Sungmin tersenyum senang,”Ini enak.” Katanya. Baru ingin menyeruput kembali, Sungmin malah mengehela nafas. Ia menaruh sendok sup-nya disamping mangkuk, lalu memperhatikan satu persatu belasan bangku makan yang berada diruangan besar tersebut—masih kosong seperti tak berpenghuni. Hanya dua yang digunakan, untuknya dan untuk Sunhae.

“Aku rindu saat makan bersama dengan Omma-Hee dan keluarganya. Bangku makan mereka hanya ada empat, jadi saat aku dan captain Choi berada disana, mereka membuatkan dua bangku lagi untuk kami. Dan…kalau Kyuhyun sedang berkunjung kesana, kami akan makan bersama di ruang tengah…duduk bersama, sambil bermain kartu atau menonton dvd.” Cerita Sungmin.

Tatapan teduh Sungmin beralih pada pemandangan sore yang panas cerah diluar jendela,”Biasanya kalau siang hari panas, Omma Hee akan menghidangkan banyak potongan buah semangka dan jus jeruk yang sangat dingin. Lalu Yesung dan Henry akan berlomba membuat perahu mainan dari kulit semangka…aku dan Captain Choi hanya tertawa melihat tingkah mereka…huft.”

Sungmin melemparkan tatapannya pada Sunhae,”Di sana sangat menyenangkan!! kau pasti iri noona-ya.” guraunya namun senyum yang terhias terlihat sedikit kekecewaan.

“Sungmin…”  Sunhae menaruh kedua telapak tangannya di pipi kanan dan kiri Sungmin, jemari di keduanya bergerak perlahan mengelap buliran air mata yang Sungmin tak sadari sudah membasahi pipi,”Sungmin… bagaimana bisa kau mengeluarkan air mata?…”tanya Sunhae.

“Huh?…Air…mata?”

Sunhae melepaskan kedua telapak tangannya dari wajah putih Sungmin,”Kita di ciptakan tidak untuk menangis, Sungmin-ah. Tapi bagaimana bisa kau mengeluarkan air-air itu…?”

Sungmin hanya menggeleng, ia tak begitu paham bagaimana bisa semua air mata itu sudah berjatuhan.

“Mungkin, memory ku tentang kenangan-kenangan disana yang membuatku jadi menangis. Disana terlalu indah, membuatku jadi takut kalau nanti memory ini akan hilang.” Jawab Sungmin.

“Aku merindukan mereka.” Tambahnya.

.

.

.

Siwon duduk menyender di salah satu sudut ruangan yang cukup besar seperti aula. Biasanya ia akan banyak menghabiskan waktu untuk berolahraga didalam sana. Bermain basket, favoritnya.

Siwon melirik sebuah bola basket yang tergeletak di bawah bangku kayu-nya, sedikit sunggingan senyum terhias,”Aku tahu bagaimana awalnya Kakek bermain basket disaat sedang kesal.” Ujar Siwon yang kemudian mengalihkan lirikannya untuk menatap sang ayah yang terduduk disampingnya—bersama Donghae yang juga ikut duduk bersama.

“Aku yang mengajarinya.” Kata Siwon dengan suara pelan. Tatapannya kembali beralih pada bola basket tadi, tak segan juga untuk mengambilnya dan meletakan bola itu di dekapannya,”Aku dan kakek sama-sama tidak suka makanan pedas. Sifat kami juga tak jauh beda. Huh…Henry…” kenangnya.

Eunhyuk ikut menghela nafas pula—mencoba memutar ulang kenangan tentang keluarganya di masa lalu.”Ayah dan keluarganya meninggal setelah perang nuklir berakhir saat revolusi abad 21 baru dimulai. Sayang sekali ia belum sempat melihatku menikah dan memiliki anak bandel sepertimu.” Kata Eunhyuk yang malah di tertawai oleh Siwon,”Tapi akhirnya aku dan Kakek bisa bertemu! Keren!” ujar Siwon bangga.

“Uhm, berarti Kangin sepupumu itu adalah anak dari Yesung?” tanya Donghae yang ikut mengambil alih obrolan.

Yesung. Nama itu terdengar kembali ditelinga Siwon. Membuat Siwon sedikit menahan rasa malu setelah mengetahui kalau ternyata dirinya pernah menyukai kakak dari kakeknya sendiri.

”Ya, Yesung-ajhussi dan ayahku hanya memiliki satu putra. Jadi Kangin-hyeong satu-satunya keluargaku yang tersisa.” Jawab Eunhyuk menanggapi pertanyaan Donghae tadi.

Siwon tak pernah menyesal karna pernah kembali ke masa lalu. Ke dimensi yang berbeda. Bertemu dengan Yesung dan keluarganya, mengenal kehidupan disana dan menjalani keseharian yang asing, membuat Siwon yakin benar semua cerita itu akan selalu diingatnya.

’Terima kasih pernah menolongku, Yesungie.’ Ucap Siwon dalam hati.

.

.

.

Rasa penasaran Siwon tentang Yesung sudah terbayarkan ketika dirinya bertandang ke sebuah villa kecil yang berada di daerah Cheon-ahn. Awalnya sedikit terkejut karena mendengar lokasi pemakaman keluarga kakeknya berada di sebuah villa yang pernah Siwon datangi saat menemani Yesung berobat dulu.

Banyak sekali foto keluarga disana. Termasuk juga sebuah foto yang membuat Siwon tersenyum dengan tulus. Sebuah foto pernikahan sederhana—Yesung dan Ryeowook menjadi pengantinnya,”Kau terlihat bahagia, Yesungie.” Lirihnya. Sebuah foto lain menarik perhatian Siwon, foto wisuda dengan sosok seseorang yang sangat Siwon kenali.”Ck Henry…oops…Kakek.” katanya dengan tersenyum geli.

Villa peninggalan keluarga Ryeowook ini masih sangat tradisional. Dulu sempat ada rencana untuk dijual, namun semua dibatalkan karena Ryeowook memutuskan untuk tetap merawatnya. Hingga ia dan Yesung dan juga semua keluarga mereka pun dimakamkan disekitar area ini. Dan kebetulan hari ini adalah hari peringatan kematian keluarga. Siwon dan keluarga kecilnya termasuk Sungmin pun berkunjung kemari.

Suara obrolan kedua orang tua Siwon yang sedang bernostalgia dengan keluarga yang lain terdengar begitu nyaring. Membuat Siwon mengerti dengan beberapa cerita di masa lalu yang sebelumnya tak ia ketahui.

“Kangin-ajhussi,” panggil Siwon yang memotong obrolan mereka. Pria yang sudah lama tak Siwon jumpai itu langsung menyahut,”Ya?” lalu memperhatikan sebuah figura foto yang sedang Siwon tunjuk. Foto yang menggambarkan Yesung dan Henry sedang berpakaian seragam yang sama di hari kelulusan mereka.

“Mereka berdua lulus di tahun yang sama?”

Kangin mengangguk,“Ya. Saat kelas tiga, Ayahku tidak mengikuti ujian sekolah karena sakit dan terpaksa membuatnya mengulang kelas. Ayah dan Henry-ajhussi berada di kelas yang sama di tahun berikutnya dan mereka lulus bersama di tahun yang sama.” Jawabnya.

‘Yesungie…’

Siwon masih memperhatikan foto dalam figura tersebut, sampai sosok seseorang membuatnya beralih untuk tak menatap foto itu lagi.

“Kenapa kalian meninggalkanku!!!!” ujar pria muda yang kemudian ikut bergabung kedalam ruangan tempat Siwon dan yang lainnya berkumpul tersebut.

”Rome!” Pria muda itu segera mendekati Kangin dan Leeteuk-sang Omma, bergelayutan manja dengan raut muka kesal.”Aish anak ini! Ayo beri salam pada paman EunHae dan pada Siwon, Rome.” Suruh Leeteuk sedari tadi duduk tenang disamping Kangin.

“Hn, apa kabar paman Eun, paman Hae.” Salamnya dengan suara khas baritonnya, mata sipitnya beralih memperhatikan Siwon yang sedang menatap takjub pada dirinya,”Ng…apa kabar Siwon-hyeong. Senang bisa bertemu denganmu.” Sapa pria yang lebih suka di panggil Rome tersebut.

Siwon masih menatap bodoh pada sosok yang baru ia kenal itu. Sangat asing, namun rupa wajahnya membuatnya teringat dengan wajah yang ia lihat didalam figura sebelumnya. Bahkan dengan seragam yang hampir sama pula.

“Woooo captain, anak itu mirip sekali dengan…Yesung ya?” bisik Sungmin yang ternyata juga sadar dengan apa yang Siwon fikirkan.”Humm…” Siwon mengangguk dengan masih tak percaya,”…Tapi anak ini lebih kecil dan pendek dari Yesung…” kata Siwon pelan.

“Kau bilang aku kecil dan pendek?! Huh…damn!” kesal Rome. Kangin malah tertawa kecil,”Tentu saja dia masih kecil dan pendek, dia baru berumur lima belas tahun.” Ujarnya memperkenalkan putra satu-satunya tersebut.

“Sorry, Boy. Habis kau sangat mirip dengan kakekmu sih. Tapi kau lebih pendek. Tsk.” Kata Siwon yang terlihat begitu tertarik dengan pertemuan keluarga ini.

“Uggh!! Namaku Jerome, Hyeong. Tapi panggil saja aku Rome.”

Siwon menyimpulkan senyumannya. Merasa tertarik dengan putra dari sepupu ayahnya tersebut.

”Rome.”

—–

THE END [14-08-2013]

Special thanks : Tuhan dan Super Junior. Juga untuk para reader yang telah membaca kisah fiksi ini. Akhirnya tamat juga ^^;;

.

.

.

.

.

Lost Scene.

Kyuhyun menenteng sebuah goodie-bag berisi robot transformer yang ia beli semalam. Langkah kakinya berjalan menuju rumah Henry. Niatnya untuk berangkat sekolah bersama, namun niatan lain Kyuhyun yang sebenarnya adalah ingin memberi goodie-bag tersebut pada Sungmin sebagai permintaan maaf.

“Pagi Henry.” Sapa Kyuhyun pada sahabat karibnya tersebut ketka Henry membuka pintu rumah. Di susul oleh Yesung di belakangnya,”Pagi hyeong.” Sapa Kyuhyun kembali.

“Apa itu?” tanya Henry yang langkahnya terhenti karena melihat bawaan goodie-bag milik Kyuhyun.

“Oh ini.” Kyuhyun melebarkan senyumannya,”Hadiah untuk Sungmin.” Lanjutnya.

Henry ingin tertawa terpingkal rasanya melihat tingkah Kyuhyun yang tak hentinya berusaha untuk mendekati Sungmin. Tapi perasaannya malah berubah menjadi sedih,”Sungmin sudah pulang. Dia tak menginap lagi disini.” Yesung yang menjawab.

Kyuhyun belum tentu percaya setadinya, tapi karena mendengar Yesung yang menjawab, Kyuhyun langsung mempercayainya.”Sudah pulang?” tanyanya lemas. Membuatnya kecewa dan semakin kecewa.

Tepukan tangan Henry di pundak Kyuhyun setidaknya bisa membuat pria itu tak meluapkan kesedihannya di pagi buta.”Sudahlah, lupakan dia. Sungmin dan…Siwon…mereka sudah bahagia di rumah yang seharusnya.” Kata Henry seraya mengajak Kyuhyun untuk melangkah bersama menuju sekolah mereka.

Hanya Yesung yang masih tertahan di halaman depan rumahnya. Ia tersenyum sebentar memperhatikan Henry dan Kyuhyun yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan.

‘Ku harap ada reinkarnasi. Agar aku bisa bersamamu di masa depan.’ Ujar Yesung dalam hati, dan Ia mulai melangkahkan kakinya, mengikuti mereka berdua dari belakang. Dalam diam, dengan senyuman.

END.

Regards, Blackcloudies (dweerae)

Advertisements

Responses

  1. huft…akhir’y end juga
    kejutan banget hehe ternyata yesung kakak dari kakeknya siwon haha
    tpi harapan yesung terkabul y?itu dia reinkarnasi jadi jerome
    ok ditunggu karya lainya chingu
    biin ff yewon lagi dunk…

    • iya biar sama sama adil jd ryeowook dpt yesung dan siwon dapet jerome hehe…
      sip
      makasih komennya dear

  2. Kasian kyu, gk smpet kasi hadiah nya, adan wooky ttp sama yesung, tapi d sini ada 1 casr yg gk muncul zhoumi.

    Akhir nya bahagia, ternyata henry itu kake nya siwon. Owwww itu gmn rs nya ya siwon suka sama kaka kakek nya.
    Hehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: