Posted by: blackcloudies | August 25, 2013

[Fanfict/Chaptered] The Line Of Destiny – part 4 [END]

Title : The Line Of Destiny

Author : Blackcloudies

Cast : Yesung/Henry!broken, Zhoumi/Henry!later, characterdeath!Yesung

Genre : OOC/BL/Romance/Angst

Rating : T+

Length : Chaptered

Disclaimer : The casts are belong to GOD and theirselves. “The Line Of Destiny” © Mine.

Warning : [!] This is boys-love story [!!] don’t like please don’t read. [!!!] No plagiarism or copy-paste without my permission. Thank ^^

 

 

Summary : Dia fikir dia-lah satu-satunya orang yang mencintai pria itu dengan tulus, tapi tidak—Tuhan lebih mencintai pria itu, dan ia menyesal karna tak sempat, tak pernah , tak mampu menyatakan perasaannya pada pria yang menjadi semangat hidupnya tersebut || untuk pria lain yang datang dikehidupannya…“Sebelum kau mencintaiku, cintai dulu Tuhanmu.”

.

.

.

Tertegun. Zhoumi tak dapat lagi membalas apa-apa. Baginya Henry seperti menyihir. Dengan kalimat sederhananya namun selalu bisa menggetarkan hati dingin Zhoumi—Henry sudah begitu spesial rupanya.

 

“Tunggulah, dan kembali padaNya.” Kata Henry terakhir kali sebelum pada akhirnya tangan-tangan mereka berpisah, dan Henry pamit untuk keluar kamar tanpa kata-kata. Dan setelah sosok itu menghilang, barulah Zhoumi sadar dengan perasaan yang menyerbunya belakangan ini.

 

“Apa…dia…yang kau rencanakan untukku, Tuhan?”

 

.

.

.

.

.

 

Lagi-lagi cucuran hujan di esok berikutnya membuat Henry sangat malas. Entah mengapa sekarang ia lebih benci dengan hujan dari pada menyukainya seperti dulu. Mungkin terlalu banyak hal yang menyakitkan.

 

“Anak-anak yang lain tidak mau latihan paduan suara kalau sedang hujan.” Jawab Ming ketika Henry bertanya mengapa tak ada satupun anak panti asuhan yang berkumpul seperti biasa.

 

“Ah, ya aku tahu, ya sudah hari ini dibatalkan saja.” jawabnya yang dianggukan oleh Ming. Karena tak mungkin juga untuk Ming dilatih seorang diri maka ia memutuskan untuk berlari lagi menuju rumah panti asuhan. Berlari terus berlari walau cucuran air nan dingin itu berjatuhan membasahi tubuhnya.”Hati-hati Ming!” teriak Henry yang kini tertahan didepan pintu gereja seorang diri—menunggu hujan reda.

 

Henry terdiam lagi. Ia lupa membawa payung dan lupa pula kalau payung milik gereja sedang dipinjam oleh beberapa warga karena hujan yang membasahi Guilin kemarin lusa. Sesekali Henry berbalik arah memperhatikan suasana redup didalam gereja—membuatnya tak berniat untuk masuk kedalam dan lebih memilih berdiri didepan pintu saja. Bukannya takut, tapi ada kenangan manis tentang gereja saat hujan tiba. Kenangan manis yang tak ingin ia ingat sama sekali.

 

Uhm…kau belum pulang ternyata?” pertanyaan itu berhasil membuat Henry memperhatikan arah dimana seseorag sedang berdiri disampingnya—terlihat seseorang itu sedang menutup payung yang terlihat basah.

 

“Zhoumi?” balas Henry bertanya.”Ng…Zhoumi???” tanya Henry lagi karena ia baru sadar kedua kaki jenjang pria itu sudah berada dilantai yang sama dengan dirinya.’Bukankah ia tak suka ke gereja?’ benak Henry.

 

“Mau temani aku masuk?” tanya Zhoumi setelah ia menyenderkan payung hitamnya dipinggir pintu gereja.

 

“Masuk? Kedalam gereja?…Sungguh?”

 

Zhoumi tersenyum kecil melihat ekspresi Henry yang terlihat terkejut dengan ajakannya,”Aku tahu kau pasti tidak percaya,” ujarnya sembari memperlihatkan sebuah Alkitab kecil yang tadinya tersembunyi dilengan kiri,”…Aku juga tak percaya mengapa aku bisa membawa ini dan berjalan di derasnya hujan untuk datang kemari.” Tambahnya lagi.

 

Henry tersenyum, walau tak berlebihan juga menunjukan rasa senangnya dengan kehadiran Zhoumi sekarang.”Mungkin Tuhan yang membawamu datang kemari.” Kata Henry mencoba menjawab. Senyumannya terbalas,”Bisa jadi juga kau yang membawaku kemari.” Balas Zhoumi.

 

.

.

.

 

Henry memilih duduk dideretan kursi paling depan, bersama Zhoumi tentunya. Biasanya ia akan duduk dikursi deretan nomer tiga—tempat biasanya ia dan Yesung duduk bersama. Tapi kali ini tidak. Entahlah.

 

“Bagaimana aku harus memulai?” tanya Zhoumi pelan, tapi masih bisa terdengar karena suasana didalam ruangan itu memang sepi.

 

Henry terlihat menyimpulkan senyuman,“Tidak perlu bertanya, kau tahu apa yang harus kau lakukan.” Jawabnya. Henry berdiri dari duduknya, tapi pandangannya masih tak lepas dari mimik wajah bingung Zhoumi,”Pertama, memohon ampun dulu pada Tuhan karena selama ini kau telah mengabaikannya…” kalimat pertama Henry sebelum dirinya benar-benar keluar dari area tempat duduk, Henry berjalan mundur menuju kursi dibelakang tempat Zhoumi duduk didepan sendirian, membiarkan pria itu merenung seorang diri,”…Selanjutnya hanya ada kau dan Tuhan.” Tambahnya kemudian.

 

Henry duduk tepat dibelakang bangku Zhoumi. Dari sana ia bisa melihat tengkuk leher Zhoumi yang perlahan tertunduk. Tidak ada suara sama sekali yang bisa ia dengar darinya, hanya ada kesunyian.

 

“Aku tidak bisa.” Zhoumi membuka suaranya—dilanjutkan dengan membangunkan diri dari duduknya. Henry cukup terkejut dengannya, ia pun ikut berdiri. Pandangan mereka saling beradu ketika Zhoumi berbalik arah menghadapnya,”Aku tidak bisa Henry. Aku rasa aku terlalu berdosa, Ia pasti tak akan memaafkanku.” Ujarnya.

 

Henry tahu kalau Zhoumi sedang gusar dan pasti merasa gugup.”Kau bisa, hanya saja belum terbiasa Zhoumi…” balasnya pelan, memberinya sedikit pengertian.

 

Zhoumi berfikir sejenak. Bertanya pada diri sendiri mengapa keraguan menyelimutinya kembali.”Yakinkan dirimu kalau kau pasti bisa.” Kata Henry lagi yang membuat Zhoumi terpaksa menatap wajah sendu nan damai dihadapannya itu.

 

Zhoumi merasa lemah, tapi tetap berdiri tegar dihadapan pria yang telah membuka lebar-lebar pintu fikirannya yang telah terkunci sekian lamanya tersebut. Semua ini seperti permainan takdir. Ayolah, niat awal Zhoumi kemari hanya untuk mencari gambar-gambar indah untuk ia abadikan disebuah majalah terkenal yang akan menunjang karirnya. Bukan malah mengenal dengan pria manis yang selalu membuat dirinya nyaman dan selalu menggetarkan hati ketika kalimat-kalimat keluar dari mulutnya. Memang baginya Henry adalah sosok yang indah dari apapun, tapi Zhoumi sadar banyak batas perbedaan diantara mereka. Henry seorang yang takut akan Tuhan, sedangkan ia sendiri adalah seorang pengkhianat Tuhan.

 

Dan sekarang, ketika ia berkorban demi sedikit untuk lebih bisa diterima oleh Henry sebagai ‘pria baik’, Zhoumi sendiri malah merasa gusar.“Kenapa, mencintaimu sangat sulit sekali…” lirihnya dengan kepala yang sudah tertunduk.

 

Henry tidak tuli, ia jelas dengan apa yang Zhoumi utarakan tadi, namun tetap kurang paham,”Apa?”

 

Terlihat senyuman terulas dibibir Zhoumi saat ia memberanikan diri untuk mendongakkan kembali kepalanya,”Ya…untuk menyukai pria seperti-mu sangat sulit ternyata. Antara aku, kau dan Tuhan…” Zhoumi menggeleng, senyumannya hilang diganti dengan wajah serius,”…Aku rasa ini seperti sebuah karma yang Tuhan berikan untukku.” Lanjutnya.

 

“Kau menjadikanku motivasimu untuk berubah dan kembali pada Tuhan?…”

 

Zhoumi hanya memandang Henry yang kini sedang bergantian menyuarakan hati-nya tersebut.

 

“…Sebelum kau mencintai seseorang, cintai dulu Tuhan-mu, Zhoumi. Apa begitu sangat menyulitkan?”

 

.

.

.

.

.

 

Semuanya seperti telah berlalu.

 

Hari-hari di Guilin tampak sama seperti biasanya, ah tidak—semua warga terlihat lebih sibuk karena Natal akan segera tiba.

 

Henry berjalan seorang diri menuju gereja yang tengah dihias oleh beberapa orang. Dikedua tangannya membawa sebuah kotak kardus yang berisi beberapa hiasan pohon natal.

 

“Ah Gege biar aku saja yang bawa!” Ujar Ming yang langsung merebut bawaan milik Henry tersebut.”Xie xie Ming, kau baik sekali.” Balasnya pada anak yang paling dekat dengan dirinya tersebut.

 

Henry memasuki pelataran gereja. Terlihat ramai didalam. Beberapa orang sedang membersihkan piano putih yang akan dipakai untuk mengiringi anak-anak panti yang akan menyanyikan pujian-pujian untuk Tuhan.

 

Henry memilih duduk dibangku deretan nomer tiga. Dari tempat itu ia mengamati semua tingkah anak panti yang sedang latihan vocal untuk acara malam natal nanti malam. Terlukis sebuah senyuman kecil diwajahnya. Rasanya tak percaya dengan jarum waktu yang telah berlalu hingga kini. Berada disebuah kota kecil, terpencil. Mengajar barisan nada-nada indah pada sekumpulan anak-anak disana. Sekumpulan anak-anak yang dengan tulus menyanyangi Henry, menerima Henry menjadi bagian keluarga mereka juga—tanpa syarat. Henry sangat berterima kasih karena mendapatkan anak-anak baik hati seperti malaikat tersebut. Walau…merasakan sedih juga karena ia harus kehilangan dua orang yang mengajarinya rasa cinta dengan dua cara yang berbeda.

 

Sadar ponselnya bergetar, Henry segera merogoh benda yang berada didalam sakunya tersebut.

 

“Hallo?” jawabnya sesudah sambungan telepon masuk kedalam ponselnya.

 

“Oh, Henry? Syukurlah nomer-mu tidak diganti.” Jawab orang yang berada diseberang sana.

 

Jemari Henry yang sedang mengangkat ponselnya tersebut bergemetar, kedua matanya membulat, rasanya tidak percaya dengan suara yang sedang ia dengar sekarang,”…Gege?”

 

“Aku berada di terminal Guilin. Tapi sepertinya lupa jalan menuju gereja. Bisa kau kemari??”

 

“…Yesung-gege?”

 

“Henry bisa kau menyusulku kemari?”

 

Satu jam lagi acara malam natal berlangsung di gereja, tapi Henry malah meninggalkan tempat itu. Ia tahu tindakannya sangat konyol. Tapi Henry perlu kesuatu tempat demi menghilangkan rasa penasarannya. Tuhan, ia telah meminta maaf padaNya karena mangkir dari acara yang sudah lama ia tunggu-tunggu.

 

Diluar sana sangat dingin dan bodohnya Henry lupa memakai mantel yang tertinggal dibangku. Hanya kemeja panjang putih polos dengan celana bahan hitam yang melekat ditubuhnya kini. Rambut cokelatnya terlihat basah sedikit karena perlahan salju turun terhias indah dimalam yang sangat dingin tersebut. Henry terus berlari, ia sangat tidak sabar untuk bertemu dengan pria yang menelponnya barusan. Suara dari obrolan tadi membuatnya masih tak percaya, bagaimana bisa suara yang telah lama hilang itu terdengar kembali. Dikiranya itu fatamorgana, tapi keyakinannya menjadi bukti kenekatannya.

 

Henry menaiki sebuah bus yang akan mengantarnya ke terminal di kota. Malam yang sepi membuatnya mudah mendapatkan bus karena suasana jalan tak seramai biasanya. Didalam bus pun masih banyak kursi yang kosong tapi Henry sama sekali tak memanfaatkan kursi-kursi itu, dan memilih untuk tetap berdiri didekat pintu bus. Bus itu mulai berjalan menuju satu halte ke halte yang lain hingga berujung pada terminal yang menjadi tujuan Henry. Tidak terlalu begitu lama, bus yang membawanya telah sampai di terminal. Segera ia turun sesudah membayar ongkos bus itu.

 

Henry mematung sejanak sesaat kakinya telah berpijak diatas lantai terminal. Rasanya aneh dan sedikit lucu. Ia sudah berada disana—dikerumunan orang yang berada ditempat yang sama. Tapi Henry bingung untuk kemana ia memulai mencari pria itu. Syukurlah ponsel yang tersimpan disakunya berdering. Henry tak berfikir lama untuk menjawab sambungan telepon itu,”Kau dimana? Kau dimana?!” tanya Henry.

 

‘Oh kau sudah di terminal? Aku berada…didepan sebuah jam dinding besar…kau tahu?”

 

Mendengar jawaban itu Henry segera berputar kesekeliling arah, mencari sebuah jam dinding besar sebagai acuan untuk mereka bertemu.

 

“Aku…menemukannya…” jawab Henry sambil berjalan perlahan menuju sebuah jam dinding besar yang terpajang didekat pintu masuk utama terminal.

 

“Oh sungguh? ya sudah akan ku tunggu kau disini.” Jawabnya dari seberang.

Tubuh Henry bergemetar, bukan karena hawa dingin dari tempat itu tapi lebih karena rasa penasarannya dengan seseorang yang ditelepon barusan. Rindu itu berkemelut kembali. Suara-suara yang barusan ia dengar mampu membuat Henry hampir lumpuh. Hanya sedikit air yang membasahi kedua matanya yang mengiring Henry menuju tempat tersebut.

 

Jam besar didinding menunjukan tepat pukul dua belas. Lonceng jam pun berbunyi dua belas kali. Seseorang yang sebelumnya sudah lama duduk didepan jam tersebut segera berdiri. Tangan kirinya mengambil sebuah ransel yang langsung ia punggungkan untuk dibawa, dan tangan kanannya ia telungsupkan kedalam saku mantel hitam yang menyelimutinya—dengan sebuah ponsel tetap berada digengaman tangan kanannya. Baru dirinya berjalan beberapa langkah, seseorang yang tengah menghampirinya membuat langkah kedua kakinya terhenti.

 

“Henry…”  panggi pria itu dengan tersenyum lega.

 

Henry hanya terdiam dan menatap lurus kearah pria itu. Ada rasa kecewa tapi lebih banyak rasa bahagia setelahnya. Pelan-pelan langkah keduanya saling mendekati.

 

“Apa aku terlalu lama?” tanya Henry pelan. Sekali ia lihat sebuah kalung salib yang melingkar didadanya, membuat Henry tersenyum. Pria dihadapannya menggelengkan kepala,”Ah sepertinya tak terlalu lama.” Jawabnya.

 

“Dan bagaimana kabarmu Zhoumi?” tanya Henry lagi menatapi pria yang membuat rasa penasarannya sudah terjawab.

 

Zhoumi mengulas senyum,“Aku baik-baik saja. yah walau sedikit flu dan membuat suaraku sedikit serak…” jawabnya.

 

Mungkin karena itu pula membuat suara Zhoumi ditelepon terdengar seperti Yesung atau bisa jadi karena rasa rindu Henry pada Yesung membuatnya berfikir bahwa pria yang akan ia temui adalah Yesung. Walau begitu, pertemuannya kembali dengan Zhoumi membuat malam Natalnya menjadi semakin indah.

 

“Sepertinya kita telat untuk merayakan malam Natal.” Ujar Zhoumi dengan wajah memperhatikan jarum jam yang sudah menunjukan pukul dua belas lewat beberapa menit.

 

“Malam natal sudah lewat, tapi hari natal baru tiba.” Jawab Henry.

 

Keduanya saling berpandangan tersenyum. Lagu-lagu bertemakan natal terlantun di segala sudut terminal, seakan mengisi suasana diantara keduanya. Dari sana pun terlihat sebuah bintang besar yang menyala yang berada dipuncak pohon natal. Salju-salju kecil yang turun seakan sebagai penghias tengah malam yang membuatnya semakin indah.

 

“Mau merayakan natal bersamaku?” tanya Zhoumi.

 

Salju-salju yang turun semakin banyak dan meramaikan suasana malam nan indah tersebut. Membuat Henry semakin bersyukur karena masih bisa merasakan hari natal ditahun ini. Henry tahu selalu ada rencana indah yang telah Tuhan rangkai untuknya.

 

“Ya.” jawab Henry.

 

.

.

.

 

[The End. 2013-07-15]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: