Posted by: blackcloudies | August 25, 2013

[Fanfict/Chaptered] The Line Of Destiny – part 3

Title : The Line Of Destiny

Author : Blackcloudies

Cast : Yesung/Henry!broken, Zhoumi/Henry!later, characterdeath!Yesung

Genre : OOC/BL/Romance/Angst

Rating : T+

Length : Chaptered

Disclaimer : The casts are belong to GOD and theirselves. “The Line Of Destiny” © Mine.

Warning : [!] This is boys-love story [!!] don’t like please don’t read. [!!!] No plagiarism or copy-paste without my permission. Thank ^^

 

 

Summary : Dia fikir dia-lah satu-satunya orang yang mencintai pria itu dengan tulus, tapi tidak—Tuhan lebih mencintai pria itu, dan ia menyesal karna tak sempat, tak pernah , tak mampu menyatakan perasaannya pada pria yang menjadi semangat hidupnya tersebut || untuk pria lain yang datang dikehidupannya…“Sebelum kau mencintaiku, cintai dulu Tuhanmu.”

.

.

.

“Aku…” nada lirih itu menghentikan gerak Zhoumi yang baru ingin bangun dari duduknya.

 

“…Sialnya aku…belum sempat bilang kalau aku ini sangat mencintainya.” Lanjut nada yang sebelumnya berlirih tersebut.

 

Tidak ada air mata di kedua mata Henry, tapi Zhoumi dapat melihat kesedihan luar biasa yang terpancar di pandangan mata Henry. Rasanya ingin memberikan tumpangan bahu atau usapan lembut di punggungnya, tapi Zhoumi tak berani bertindak seperti itu. Yah, setidaknya sekarang rasa penasaran Zhoumi sudah dibalas dengan pengakuan Henry barusan.

 

.

.

.

.

.

Henry masih tak percaya kenapa kejadian kemarin sore membuatnya teringat selalu.

 

“Bagaimana bisa aku menceritakan tentang perasaanku itu pada dia. Ah bodoh sekali aku ini.” Cela-nya pada diri sendiri.

 

“Tapi…orang itu baik juga. Dia bisa dijadikan teman…”

 

“Sepertinya…”

 

“Ah…kenapa jadi teringat olehnya. Bodoh sekali…”

 

Andai saja ada banyak orang disekeliling Henry yang sedang berkata seorang diri di depan gereja seperti tadi, pasti mereka beranggapan kalau Henry sudah tak waras. Tapi untungnya belum ada satupun manusia yang datang ke gereja, jadi Henry berbuat apapun sepertinya tak akan ada yang melihat.

 

“Dingin sekali.” Gumamnya. Henry merekatkan kembali blazzer hitam yang ia sedang pakai. Ingin rasanya Henry segera masuk kedalam gereja dan membantu Pendeta Jung yang sudah masuk satu jam lalu, tapi tunggulah, ia masih ingin berada diluar gereja sebelum kebaktian minggu berlangsung tiga jam lagi.

 

“Aku akan tunggu Shen Ming dan yang lainnya…” ucapnya pelan sembari memperhatikan dari jauh pintu panti asuhan yang belum terbuka sama sekali.

 

“Akan ku tunggu…” ucapnya lagi. Tatapan Henry menjadi teduh—kedua manik matanya bergeser memperhatikan sebuah jendela yang tak jauh dari pintu panti asuhan.”…Seperti dulu…akan ku tunggu…selalu…” lirihnya hampir tak terdengar. Dadanya kembali sakit—membayangkan kalau jendela itu akan terbuka dengan keras seperti dahulu, dan seseorang dari balik jendela akan tersenyum padanya lalu berteriak Zhao an Henry!’

 

Semua hanya kenangan saja sekarang.

 

“Ya sudahlah…aku duluan Ge…” getir suaranya menandakan Henry menyerah untuk menunggu yang pastinya tak akan pernah datang kembali. Ia memutuskan untuk segera memasuki gereja dan membantu pendeta Jung untuk membenahi properti didalam gedung tersebut.

 

“Hai. Selamat pagi!” sapaan dari seseorang yang melintas didekatnya memaksa Henry untuk berhenti melangkah. Ternyata Zhoumi. Yang menyapanya dengan senyuman semangat dipagi ini.”Selamat pagi.” Balas Henry biasa saja.

 

“Rapi sekali? Kau selalu terlihat rapi ya?” tanyanya, yah sekedar basa basi. Karena agak lucu menurut Zhoumi disaat dirinya masih menggunakan kaos oblong dengan celana training dan berpapasan oleh Henry yang sudah rapi dengan kemeja putih dipadukan blazzer hitam yang senada dengan celana panjang sutranya.

 

“Hanya ingin menghadiri kebaktian minggu dengan penampilan yang rapi.” Jawab Henry yang juga merasa sebuah kontras tercorak jelas diantara mereka.

 

“Oh, kebaktian.”

 

“Kau tidak bersiap juga untuk kebaktian?”

Zhoumi menggelengkan kepala-nya sekali sebelum dirinya menjawab,”Tidak. Aku tak akan datang.”

 

“Eh? Tidak datang?”

Zhoumi mengangguk kali ini.”Ah aku tak pernah…”

 

“Kau bukan seorang Christian?” pertanyaan Henry memotong kalimat yang Zhoumi akan jawab sebelumnya.

 

“Oh. Yap. Aku Christian…tapi memang aku sudah lama tak pernah datang ke gereja manapun.”

 

 

Sunyi kemudian menyelimuti keduanya. Rasanya canggung. Mengenal Yesung yang memiliki rasa cinta terhadap Tuhan yang luar biasa membuat Henry sudah terbiasa dengan dunia Tuhan, tapi ketika mengenal Zhoumi yang sepertinya sangat jauh dari Tuhan, membuatnya menjadi…kecewa.

“Kenapa tak pernah datang ke gereja?” Henry memberanikan diri untuk bertanya hal itu, karena sungguh Henry sangat penasaran tentang pria tinggi bernama Zhoumi tersebut.

 

Zhoumi tersenyum datar sebelum akhirnya menjawab,”Gereja bukan tempatku. Aku tak layak berada disana…”

 

Henry mengangguk pelan-pelan, wajahnya tanpa ekspresi namun perasaan dihatinya tersirat sebuah kekecewaan,”Aku tahu…” katanya,”…setiap orang memiliki kisah pribadi mereka dengan Tuhan-nya.” Tambahnya lagi. Henry memberikan senyuman sekilas,”Tapi percayalah, sejauh apapun kau pergi meninggalkannya, Tuhan selalu ada didekatmu. Dan, gereja tidak seburuk yang kau kira.”pada akhirnya Henry masuk kedalam gereja seorang diri.

 

Petir dan getir menyelimuti hati Zhoumi. Sebenarnya sudah banyak orang yang bertanya tentang mengapa Zhoumi tak pernah lagi melayani Tuhan. Dan jawaban mereka bermacam-macam. Kebanyakan sebuah kontra atau nasihat yang semakin membuat Zhoumi enggan memegang teguh kepercayannya. Namun, kalimat yang diutarakan Henry tadi sungguh mengetuk pintu hatinya. Memang benar ada sebuah cerita pribadi antara Zhoumi dan Tuhan. Dan itulah dasar yang membuat Zhoumi seperti tiada beragama. Hanya saja semua orang tak mengerti tentang kisah hidupnya dimasa lalu, dan membuat spekulasi miring tentang dirinya.

 

Ucapan Henry membuat batinnya bergemetar. Tidak seperti orang-orang yang mencaci atau memaki, tapi Henry seolah memberikannya motivasi. Zhoumi menekan sebuah rasa sakit didadanya. Bukan karena penyakit, tapi ada perasaan sesak saat mengingat kembali kalimat Henry barusan. Andai saja—andai saja dulu tak ada tragedi maut yang menewaskan semua keluarganya beberapa tahun lalu, pasti Zhoumi tak akan seperti ini.

 

Henry, lagi-lagi ia teringat  dengan sosok itu. Andai saja pria berkulit putih susu itu tidak memasuki gereja, mungkin saja Zhoumi sudah mengejarnya dan mengungkapkan tentang semua kejadian di masa lalunya. Agar tiada salah paham lagi.

 

.

.

.

Hujan disiang hari. Satu hal yang membuat Henry paling malas. Ia lupa membawa payung, dan semua payung digereja sudah diprioritaskan untuk jemaat gereja yang lupa membawa payung untuk mereka pulang.

 

Hujan. Henry terkenang dengan air hujan terakhir kali mengguyur kota Guilin. Hari itu setelah beberapa Henry tak bertemu dengan Yesung. Hari itu pula Yesung pergi meninggalkannya untuk selamanya.

 

Henry membuang nafas berat. Ia berjalan cepat menuju luar gereja.”Henry masih hujan!” kata Pastur yang sedang merapikan beberapa Alkitab.”Tak apa.” Jawab Henry yang memutuskan untuk segera pulang dari tempat itu. Bukannya apa-apa, Henry hanya tak ingin terjebak disana terlalu lama, karena bisa membuat kenangannya tentang Yesung terputar kembali.

 

.

.

.

 

“Zhoumi!!” kaget bukan main. Henry segera menarik lengan Zhoumi yang sudah basah kuyup karena air hujan membasahi tubuhnya. Niatnya ingin mengajak Zhoumi masuk kembali ke gereja, tapi kemudian sadar kalau Zhoumi tak ingin ketempat itu. Ia melepaskan tarikannya. Membiarkan Zhoumi tetap berada diluar sana.

 

“Kembalilah ke asrama! Kau bisa sakit!” teriak Henry berharap suaranya dapat didengar karena hujan deras masih mengguyur.

 

Kedua mata Zhoumi basah, bukan karena tangisan. Tapi karena hujan yang menjatuhi alis hingga turun ke kelopak mata dan memasuki cela kedua matanya.

 

“Zhoumi…”

 

.

.

.

.

.

 

Benar saja. Pria tinggi itu jatuh sakit karena hujan deras yang membuatnya pingsan didepan gereja kemarin siang.

 

“Kau sudah sadar?” suara itu terdengar ketika pintu kamar Zhoumi terbuka oleh Henry. Tubuh lemah Zhoumi berusaha duduk untuk bersender di bantal yang menumpuk.”Oh. Kurasa masih panas, tapi pusing-ku sudah hilang.” Jawabnya dengan suara pelan. Ia memperhatikan Henry yang tengah memasuki kamar ruangannya, sendirian—dengan menenteng sebuah pelastik berwarna hitam yang kemudian ditaruhnya keatas meja yang berada disamping ranjang tempat Zhoumi duduk.”Jeruk untukmu.” Kata Henry,”…Jeruk baik untuk pemulihan.” Tambahnya sebelum ia memilih duduk di samping ranjang tersebut.

 

Rasa bahagia itu tergambar dengan senyuman Zhoumi yang tak bisa ia tutupi,”Terima kasih. Kau baik sekali.” Ucap Zhoumi yang semakin senang ketika Henry membalas senyumannya pula,”Aku khawatir dengan keadaanmu. Cepatlah sembuh!” balas Henry menyemangati. Tapi kemudian ekspressi semangat itu berubah jadi terlihat agak sedih,”Kau tahu, rasanya sakit tanpa satupun keluarga disekelilingmu…sangat sepi. Jadi, ku harap aku bisa menemanimu hingga kau sembuh kembali.” Ujarnya.

 

Zhoumi mengangguk paham.”Seperti Yesung, kan?” tanyanya kemudian.

 

“Yesung?…ya…seperti dia.”

 

“Saat ia sakit tak ada keluarga. Dan kau menemaninya…”

 

Henry memilih diam namun tetap memasang pendengarannya.

Dan,

Zhoumi  menunduk sejadinya, yang kemudian teringat dengan percakapan dingin antara dirinya dengan Henry tempo hari lalu, didepan gereja.

 

“Sepertinya, kisah hidupku tak jauh berbeda dengan Yesung.” Ujar Zhoumi membuka sebuah topik pembicaraan.

 

Henry tak bertanya, ia hanya menatap wajah Zhoumi yang sedang tertunduk itu—berharap Zhoumi akan melanjutkan cerita yang sesungguhnya membuat Henry sangat penasaran.

 

“Aku sudah terbiasa seperti ini. Hidup seorang diri. Saat sakit pun selalu sendirian saja,” Zhoumi mengangkat kepalanya, membalas tatapan serius Henry.

 

“Memangnya…dimana semua, keluargamu?” tanya Henry yang akhirnya mengikuti arah pembicaraan mereka.

 

“Aku tidak punya keluarga. Satupun.” Jawab Zhoumi. Sebuah jawaban sedih dengan sebuah senyuman—sungguh kontras.

 

“Kenapa?”

 

Butuh waktu untuk Zhoumi menjawabnya. Sering kali pertanyaan ‘kenapa?’ dan ‘mengapa?’ muncul ketika ia mulai menceritakan tentang kisah hidupnya—sering pula Zhoumi memilih tak melanjutkan cerita hidupnya tersebut kepada semua orang yang bertanya. Tapi kali ini, rasanya tak apa membagi secuplik kisah itu kepada Henry. Tatapan teduh Henry terasa nyaman—membuat Zhoumi merasa tak keberatan.

 

“Kecelakaan.” Jawabnya singkat sebelum menceritakan semuanya.

 

“Kecelakaan?”

 

“Aku masih tujuh masih delapan tahun saat kejadian terjadi. Rumahku kebakaran…kedua orang tuaku terbakar hidup-hidup didalamnya.” Mimik wajah Zhoumi menjadi sendu, dan Iba-pun terlihat dari ekspresi Henry yang sedang menyimak.

 

“Aku tidak punya kakak atau adik. Aku juga tak tahu siapa keluarga besarku. Jadi…” Zhoumi mengepal kuat kain yang menyelimutinya,”…Jadi, aku sebatang kara. Sangat kasihan kan?” tambahnya.

 

Sebatang kara. Sangat kasihan. Seperti Yesung.

 

Henry memanggut paham dan bertambah paham dengan alasan yang mungkin membuat Zhoumi menjadi jauh akan Tuhan.”Itu sebabnya kau jadi murka dengan…Tuhan?” tanyanya mencoba mengulik lebih dalam tentang Zhoumi.

 

Tak ada balasan sama sekali, tapi anggukan beberapa kali membuat Henry paham kalau pertanyaannya memang benar.

 

“Yesung juga sepertimu. Ia sebatang kara, dan sendirian. Tapi…dia tak pernah lupa Tuhan, dia selalu melayaninya dengan kasih yang tulus.” Ujar Henry. Bukan bermaksud membandingkan, tapi Henry hanya ingin mengenang kembali pria itu.

 

“Aku tidak langsung menjauh dari-Nya. Aku perlu waktu lama untuk itu—saat-saat lelah aku memujinya, selalu berdoa dan berharap kalau Ia akan mengembalikan kedua orang tuaku. Tapi semuanya nihil. Diumur semuda itu aku dipaksa berfikir realistis dan harus menerima kenyataan untuk hidup seorang diri tanpa keluarga. Sangat…menyakitkan.” ujarnya dengan emosi yang tertahan, karena tak ingin membuat Henry menjauh darinya.

 

Kedua tangan lembut Henry mencoba menyentuh kepalan telapak tangan Zhoumi , membuatnya tak beremosi lagi.”Mana bisa Tuhan mengembalikan keluargamu yang sudah bahagia di surga sana. Tuhan pasti mendengarmu. Ia…hanya ingin kau menunggu dengan sabar dengan rencana indahNya.” Jawab Henry.

.

.

.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: