Posted by: blackcloudies | August 25, 2013

[Fanfict/Chaptered] HOME – Chapter 3

HOME

by

Blackcloudies

Cast : Brothership!Yesung,Kyuhyun,Ryeowook, Kyuhyun/Sungmin, slight!Siwon/Sungmin,Siwon/Yesung!later, incest!Yesung/Ryeowook/Kyuhyun, later!Henry/Ryeowook, slight!Yesung/Kibum, Hangeng/Heechul, Eunhyuk/Donghae, Leeteuk/Kangin, Shindong, straight!Zhoumi/Zhangliyin.

Genre : Family/Brothership/Romance/Angst/Sho-ai in to YAOI

Rating : PG15 in to PG17

Length : Chaptered

Language : Bahasa

Disclaimer : The casts are belong to GOD and their selves. “Home” © Blackcloudies.

Warning : [!] This is boys-love story. [!!] Unbetaed. [!!!] M-preg?!

 

Summary : Mereka di pisahkan—terpisahkan, tapi mereka mencoba untuk berkumpul kembali. Seperti dulu, menjadi satu. Di rumah mereka. KRY

 

————

= = = = = chapter 3 ======

 

11 years later (11 tahun kemudian)

 

SEOUL

 

Yesung menyender pada meja bar di samping dapur kecilnya. Ia sedang menonton berita pagi, dengan secangkir teh hangat dan sepiring sandwich lezat di meja dekatnya. Ia menikmati sarapan sendiriannya itu dalam apartment mewah.

 

‘DH group berencana akan membuka pusat perbelanjaan mewah baru di pusat central seoul. Di kabarkan mall yang akan di buat nanti, bisa dibilang lebih high class karna di dukung dengan kerja sama para pemilik rawa laba terkenal baik di Asia maupun uni-Eropa. Dan sudah di konformasi, proyek ini secara langsung akan di kepalai oleh pewaris DH group yang sudah sangat di kenal oleh publik, Lee Siwon.’

 

Yesung tersenyum saat melihat sosok Lee Siwon yang sedang di bicarakan di layar televisi tersebut.

 

“Pria itu…” Ucapnya—lalu menyeruput teh nya.

 

“Siapa?” tanya seorang pria yang ternyata sudah memasuki ruangan itu beberapa menit lalu. Ia mendekati Yesung dengan membawa sekotak cake.

 

“Tentu saja kau—Siwon.” Jawab Yesung pada pria itu, Siwon. Sosok pewaris tahta perusahan besar yang sebelumnya berada di berita tv tadi.

 

Siwon menaruh kotak cake itu keatas meja, lalu mencium pipi Yesung—kekasihnya. Mereka menyender bersama pada meja bar tadi.

 

“Kau akan menangani proyek mall besar?” tanya Yesung.”Yap. kau pasti sudah melihat berita kan’?”  ujar Siwon. Ia meregangkan otot lehernya yang lelah,”Ah, aku pasti akan sangat sibuk nanti.” Tambah Siwon.

 

Yesung menoleh kearahnya,”Mau teh? Atau—coffee?” tawar Yesung dan Siwon menggeleng,”Tidak usah. Aku hanya sebentar kemari…aku, harus segera pulang.” Ucapnya.

 

Yesung menjadi tertunduk. Ia sadar, ia hanya seorang—pria simpanan, dan Siwon punya kehidupan lain di luar sana.

 

“Kedua orang tua-ku sedang di China, jadi aku harus segera pulang. Memeriksa rumah, lagian—pekerjaanku juga sangat banyak. Sorry.” Ujar Siwon. Yesung pun mengangguk dengan fahamnya.

 

“Siwonnie…” panggil Yesung pelan.

 

“Eum?”

 

“Aku—boleh bekerja?” tanya Yesung hati-hati. Mereka berdua sudah pernah membicarakan masalah ini, tapi waktu itu Siwon selalu menolaknya. Mungkin saja jawabannya akan berubah kali ini.

 

“Tidak.” jawab Siwon—sama seperti jawaban yang pernah ia utarakan.

 

“Kenapa? Aku ingin bekerja, aku tidak ingin melewatkan hari-hariku hanya untuk bersenang-senang saja. Aku—bosan.”

 

“Aku, tidak mau melihatmu lelah. Aku hanya ingin kau bersantai dan selalu ada untukku.” Jawab Siwon, serius.

 

Yesung menghela nafasnya,”Aku seperti orang jahat disini. Aku bisa bertahan hidup karna mu. Kau memberiku segalanya, apartment, mobil, uang—biaya kuliah. Tapi apa yang bisa ku balas untukmu.” Ucapnya.

 

“Asal kau selalu ada untukku, itu sudah membayar semuanya Yesungie.” Balas Siwon.

 

“Tapi…” Yesung menaruh cangkir teh-nya, lalu menatap Siwon dengan tenang,”Aku sudah dewasa. Aku harus punya jalanku sendiri, aku—tidak ingin bergantung pada orang lain. Termasuk dirimu.” Ucap Yesung lagi.

 

Siwon menautkan kedua alisnya,”Aku hanya…aku tidak ingin kau di remehkan dengan orang lain, seperti masa SMA dulu. Kau selalu di anggap anak yatim-piatu yang malang. Kau di anggap miskin, kau di anggap—tak layak hidup karna tak memiliki siapa-siapa. Aku tidak mau kau di sakiti.” Ujarnya.

 

Yesung tersenyum kecil,”Aku sudah dewasa Siwon, bukan remaja SMA lagi. Dulu mungkin aku sering menangis kalau teringat hal itu, tapi kali ini tidak…percayalah.”

 

Siwon kalah,”Okay, kita bicarakan ini lain kali. Aku—akan mencari pekerjaan yang cocok untukmu.” Janji Siwon yang berhasil membuat senyuman Yesung kembali.

 

“Sekarang…” Siwon mengambil cake yang tadi ia bawa,”…Pergilah kerumah dokter Zhou. Hari ini dia berulang tahun kan’?”

 

Yesung menerima cake itu,”Hari ini? Tapi—aku,” Yesung agak ragu untuk kembali kerumah keluarga yang pernah membesarkannya dari kecil sampai masa SMA tersebut. Sudah lama tak kesana, Yesung canggung.

 

“Percuma kau membulatkan angka itu di kalendar, kalau nyatanya kau tidak mau merayakannya.” Ujar Siwon.

 

Yesung memperhatikan keluar jendela apartment, memperhatikan dunia luar yang sangat ramai. Banyak sekali yang ia fikirkan. Termasuk, bagaimana caranya mengingat kembali masa kecilnya yang terlupakan—11 tahun lalu.

‘Mungkin sudah saatnya.’

 

Berharap, pertemuan kembalinya pada dokter Zhou, akan membuatnya teringat sedikit masa lalunya yang hilang.

 

= = = = =

 

GYEONGJU

 

Yesung memarkir Corolla Altis-nya di depan sebuah rumah sederhana nan modern. Ia segera memasuki gerbang rumah itu dan menekan beberapa angka pada alat pengaman pintu. Yesung masih hafal, karna kode itu tidak pernah di ganti oleh sang pemilik.

 

Pintunya langsung terbuka, Yesung segera memasuki ruang tengah yang biasanya menjadi tempat dokter Zhou dan istrinya beristirahat.”Tumben sepi?” tanya Yesung pelan memperhatikan isi rumah yang bernuansa mandarin tersebut.

 

“Yesungie, kau datang?” Nyonya Zhou kebetulan baru keluar dari dapur, dan ia begitu terkejut melihat kedatangan Yesung –anak angkatnya.

 

Yesung menundukan kepalanya sekali—memberi penghormatan.”Yesungie??” panggil Tuan Zhou juga pada dirinya. Keluarga kecil itu berkumpul lagi.

 

.

.

.

 

“Maaf, sudah hampir dua tahun aku tidak pulang.” Ujar Yesung kepada Tuan Zhou dan Nyonya Zhang. Mereka bertiga duduk di ruang tengah dengan sebuah cake manis di depan meja mereka.

 

“Kami juga jarang berkunjung ketempatmu, lagipula kau sedang sibuk kuliah waktu itu. Aku tidak mau mengganggu.” Balas Tuan Zhou.”Asal tahu kabarmu sehat-sehat saja, kami sudah tenang, Yesung.” Timpal Nyonya Zhang. Mereka berdua memang sangat menyayangi Yesung seperti anak mereka sendiri, tidak—bukan mereka berdua saja. Tapi ada seseorang lagi, putra mereka.

 

“Dimana Henry? Dia belum pulang sekolah?” tanya Yesung mencari sosok adik angkatnya tersebut. Tuan Zhou tertawa,”Apanya yang sekolah, Henry sudah kuliah…hari ini hari pertama masa orientasi kuliahnya.” Jawabnya.

 

“Kuliah? Ku kira dia masih SMA…” fikir Yesung.

 

.

.

.

.

.

 

Seorang anak laki-laki mungil berlari menaiki tangga dengan cepat. Ia takut telat mengikuti hari pertama kuliahnya.

 

Sudah di lantai dua, ia mendekati kesebuah ruang aula besar tempat semua calon mahasiswa baru berkumpul untuk mendapatkan arahan dari para senior.

 

“Permisi, boleh aku masuk?” tanya pria tadi kepada salah seorang senior yang menjaga pintu aula.

 

“Kau telat? Kau tahu sekarang jam berapa?” tanya senior itu padanya –dengan kurang ramah.

 

Pria itu menunduk,”Maaf…tadi aku harus mengantar roti dulu ke beberapa toko, setelah itu baru aku bisa berangkat kuliah.” Jawabnya dengan jujur.

 

Mendengar ucapan pria itu malah membuat sang senior merasa sangat tinggi derajat,”Uh? Jadi kau bekerja sambil berkuliah?…” katanya.

 

Pria tadi hanya terdiam.

 

“Kau tidak boleh masuk! Tetap di luar saja.” Ujar sang senior.

 

Pria tadi menunduk, merenungkan keterlambatannya.

 

“Hey! Biarkan kami masuk!” seorang pria lain di belakang pria mungil itu memaksa masuk dan membuat si senior menjadi semakin kesal,”Cih, dua orang calon mahasiswa telat di hari pertamanya?! Mau jadi apa kalian nanti??!”

 

“Ayahku dulu juga sering terlambat masuk kuliah, tapi faktanya dia berhasil lulus dari universitas ini dan—malah pernah menjadi seorang rektor di sini.” Ucap pria yang memaksa tadi.

 

“Uh? Rektor? Ayahmu pernah jadi seorang rektor?” Si senior itu sedikit tak mempercayai ucapannya, tapi sebuah jawaban berhasil membuat ia mengalah,”Ayahku, dokter Zhoumi. Prof Doctor dr Zhoumi MM. Kau—tidak kenal?”

 

Si senior itu hanya terdiam kaku. Mendengar nama dokter Zhou yang terkenal itu membuatnya mengalah pada sosok yang mengaku bahwa dirinya adalah anak dari doker Zhou. Dokter Zhou memang sudah di kenal luas oleh para mahasiswa, walau sudah berhenti menjadi rektor satu tahun lalu, tapi jasa nya tetap di kenang dan di banggakan.

 

“Biarkan kami masuk.” Ucap pria yang memaksa tadi sekali lagi. Ia menarik tangan si pria mungil yang di depannya, lalu mengajaknya masuk kedalam ruang aula bersama.

 

Di dalam sana sudah ramai banyak calon mahasiswa yang sedang mendengarkan arahan dan bimbingan dari beberapa dosen. Kedua pria tadi duduk di kursi paling atas tribun belakang.

 

“Terima kasih, karna kau akhirnya aku bisa masuk kemari.” Ucap si pria mungil.

 

“Uh, no problem. Uhm…Aku, Henry. Kau?” balas yang satunya sambil memperkenalkan diri pada si pria mungil itu.

 

“Aku…Kim Ryeowook. Salam kenal.” Jawabnya.

 

.

.

.

 

BEIJING

 

Waktu di dinding menujukan pukul satu pagi. Si Tuan muda rumah mewah tersebut baru saja pulang pada bersenang-senangnya. Biasa, ke club malam.

 

Ia masih di dalam mobil Jaguar putihnya, membaringkan kepalanya pada stir mobil dan menunggu seseorang dari dalam rumah untuk membantunya masuk.

 

Tak butuh waktu lama. Ia mendengar seseorang mengetukan pintu kaca mobil. Ia lantas membuka mobil itu, lalu keluar dari dalam mobil—dengan setengah mabuk.

 

“Lama sekali kau Kyuhyun!! Aku sudah menunggu di dalam mobil hampir sepuluh menit!” kesalnya.

 

“Maaf Min, tadi aku dan Daddy Han sedang membicarakan sesuatu.” Jawab Kyuhyun.

 

Hampir setiap akhir pekan Kyuhyun harus terjaga lebih pagi, demi menunggu Sungmin pulang dari bersenang-senangnya. Selalu seperti itu.

 

Hangeng dan Heechul bukannya tidak tahu dengan ulah Sungmin. Mereka bahkan sudah berulang kali memarahi hoby gemerlap pada dunia malam putra mereka itu. Tapi tetap saja Sungmin memberontak. Baginya hidup hanya untuk bersenang-senang, mumpung Tuhan masih memberinya nyawa sampai sekarang.

 

“Kau bisa kecelakaan kalau mengemudi dalam keadaan mabuk, Min.” Ucap Kyuhyun setelah susah payah membantu Sungmin—yang terpengaruhi minuman keras—untuk masuk kedalam kamar.

 

“Yang penting aku happy.” Ucap Sungmin. Kemudian ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dengan sepatu yang belum terbuka, ia sudah bersiap untuk bermimpi.

 

Kyuhyun duduk di samping ranjang itu,”Kau bisa sakit nanti…” lirihnya dengan telapak tangan kanannya yang berada di atas kening Sungmin.”Aku akan baik-baik saja kalau ada kau.” Jawab Sungmin dengan mata sudah terpejam.

“Sweet dream.” Lirih Kyuhyun setelah ia membuka sepatu yang masih menempel dikedua telapak Sungmin, dan menyelimutinya. Tak berlama lagi, Kyuhyun segera keluar dari kamar Sungmin untuk menuju kamarnya sendiri. Tugas hari ini sudah selesai rupanya. Mengetahui Sungmin sudah pulang akan membuatnya bisa tertidur dengan nyenyak.

 

.

.

.

 

Ulah semalam Sungmin ternyata berimbas ke pagi hari berikutnya. Heechul marah, sangat marah. Apalagi saat ia mendengar seseorang mengadu padanya kalau Sungmin dan beberapa temannya terlibat mengacau di bar tadi malam.

 

“Kita akan ke Korea seminggu lagi.” ucap Heechul dengan serius di tengah sarapan mereka berempat.

 

“Ko-Korea? Tapi Dad, a-aku…”

 

“Tidak ada tapi-tapi Min, kita akan kesana. Semuanya sudah Daddy urus.” Ujar Heechul lagi.

 

Hangeng pun mengangguk,”Maaf tidak membicarakan ini dulu pada kalian, tapi rencana pindah ke Korea sudah kami fikirkan sangat lama. Apalagi, perusahaan kita di sana sudah sangat maju—harus ada orang mengawasi. Lagi pula, Korea kan tempat kelahiran Daddy-mu, dan—Kyuhyun juga berasal dari sana kan’?”

 

Kyuhyun menoleh kearah Hangeng, ia tersenyum kaku. Kyuhyun menyembunyikan tangannya yang bergemetar.

 

“Yah baiklah, terserah kalian saja.” Jawab Sungmin tak peduli.

 

Keputusan ke Korea itu bukan semata-mata hanya untuk mengurus perusahaan keluarga mereka saja. Tapi Heechul mengharapkan ada perubahan tingkah laku pada diri Sungmin. Ya, lingkungan yang baru, teman yang baru.

 

Tapi agaknya keputusan itu membuat batin Kyuhyun sedikit takut. Sudah sangat lama ia nyaman dengan kehidupan barunya di China, dan keputusan pindah segera ke Korea membuatnya dihantui kecemasan akan masa lalunya.

 

.

.

.

 

Sungmin dan Kyuhyun duduk bersama di sebuah bangku panjang, di hadapan mereka ada piano putih besar.

Masa-masa kuliah mereka yang telah berakhir, membuat kedua pria itu menjadi banyak waktu untuk bersenggang, santai seharian, dan melakukan apa saja yang mereka suka.

 

“Kyu…” panggil Sungmin pada Kyuhyun di sampingnya,”Kyuhyun…” panggilnya lagi saat menyadari Kyuhyun sedang memikirkan sesuatu di benaknya.

 

“Ya! Kyuhyun-ah.” Panggilan ketiga akhirnya bisa membuat Kyuhyun sadar.

 

“Ya? Ada apa?” balas tanya Kyuhyun. Sungmin menautkan kedua alisnya, menatap curiga pada sosok Kyuhyun,”Kau sedang melamunkan apa?” tanya Sungmin.

 

Kyuhyun menggeleng,”Tidak—bukan apa-apa.” Kyuhyun lalu fokus memperhatikan tuts piano di depannya, dan memainkan sebuah lagu medley. Baru lantunan sebait, Sungmin sudah menarik lengan Kyuhyun agar permainan itu di hentikan.

 

“Katakan padaku, kau—sedang memikirkan apa?” tanya Sungmin lagi. Sebelas tahun tinggal bersama membuat Kyuhyun dan Sungmin sudah saling mengenal sifat masing-masing, walau keakraban mereka sangat sulit di persatukan dulu, tapi nyatanya sekarang mereka sudah saling peduli seperti satu jiwa.

 

“Tidak ada Min.” Jawab Kyuhyun dengan pandangan kosong. Berbohong.

 

“Semenjak Daddy bilang kita akan ke korea, tiba-tiba saja kau jadi agak pemikir, Kyu?”

 

Kyuhyun membalas tatapan Sungmin yang memperhatikannya penuh pertanyaan.

 

“Kau—takut bertemu mereka? Bertemu…keluargamu?” tanya Sungmin menduga. Kyuhyun malah tertawa kecil,”Kau bicara apa Min? Takut apa—“ Kyuhyun sebisa mungkin tak ingin mengingat tentang sesuatu yang ingin ia lupakan.

 

“Kyuhyun…” Sungmin menaruh telapak tangannya di pundak kiri Kyuhyun,”…Jangan tipu hatimu. Jangan tipu janji yang kau buat juga. Mereka pasti juga sedang menunggumu Kyu. Mereka—keluargamu.” Ucap Sungmin padanya, tapi Kyuhyun malah seakan tak menghiraukan ucapan Sungmin barusan. Kyuhyun kembali memainkan nada medley yang terhenti tadi,”Kau tidak tahu apapun tentang aku, Min.” Ucapnya di sela permainan piano-nya.

 

Sungmin tersenyum sebal, kemudian ia bergantian memainkan sebuah lagu di piano yang sama. Puff a magic dragon.

 

“Tapi aku selalu ingin tahu tentang dirimu, Kyu.”

 

.

.

.

 

Permainan piano dua pria dewasa itu tak berlangsung lama. Hangeng mengajak mereka berdua untuk menyantap sarapan di balkon rumah lantai dua. Lunch hari ini begitu spesial, karna ada tamu yang akan ikut bergabung.

 

“Hyung! I miss you, sudah lama kita tak bertemu.” Dua orang pria dewasa bergantian memeluki Heechul dan Hangeng. Mereka berdua orang korea, sama seperti Heechul dan Kyuhyun.

 

“Aku fikir kalian akan telat, dimana putra kalian?” tanya Heechul.

 

Salah satu tamu yang mempunyai senyum ramah menjawab,”Siwon di seoul. Sedang sibuk untuk project baru, jadi aku kemari hanya bersama Hyujkae saja.” Jawabnya.

 

Sungmin dan Kyuhyun hanya memperhatikan keempat orang tua yang sedang bernostalgia itu.

 

“Oh, kau Sungmin??” Hyukjae mendekati Sungmin, mengusap rambutnya dan tak percaya jika anak kecil yang dulu ia kenal kini telah menjadi pria dewasa. Walau beberapa sisi masih terlihat sama, manis dan mata cantiknya.

 

“I-iya aku Sungmin.” Jawabnya gugup.

 

Heechul mempersilahkan kedua tamu itu untuk duduk pada bangku yang menghiasi meja bundar penuh makanan tersebut.

 

“Sungmin pasti sudah lupa dengan kalian.” Ujar Hangeng.

 

“Kalian jarang membawa Sungmin ke seoul, pastinya kami juga terlihat asing di mata Sungmin.” Balas pria bersenyum ramah tadi,”Aku Donghae Lee, dan dia Hyukjae Lee.” Tambah pria itu lagi dengan memperkenalkan dirinya dan pasangan hidupnya.

 

Sungmin menunduk beberapa kali dengan kaku.

 

“Mereka teman Daddy. Kau pasti sudah lupa Min.” Kata Heechul. Sungmin hanya tersenyum paksa. Masih tidak ingat kalau dulu pernah bertemu dengan kedua orang tadi.

 

“Dulu…kau dan Siwonnie sering bertengkar saat TK. Kau selalu merebut mainan milik Siwon dengan kasar, tapi ujung-ujungnya selalu kau yang menangis.” Cerita Heechul mengingat sedikit kenangan masa lalu. Mereka semua tertawa. Termasuk Kyuhyun.

 

Donghae dan Hyukjae pun menyadari keberadaan Kyuhyun yang asing di kedua mata mereka.”Kau siapa?” tanya Hyukjae ingin mengenal pria muda itu.

 

“Aku, Kyuhyun.” Jawabnya sopan.

 

“Dia putra angkat kami, Kyuhyun Tan.” Hangeng menambahi.

 

—- To be continued —

 

 

 

Advertisements

Responses

  1. mereka sudah dewasa,,hadeh rumit juga
    jadi nantinya kry akan saling nerkaitan?oya ko yesung cuma jadi simpana?emang siwon punya kekasih lain?
    Next…next…next lanjut
    penasaran dg pertemuan kry

  2. henly so sweet~~~

    ini si abang wook sendiri kah yg g’ diadopsi ?? kok jualan kue segala ??

    henly adik yeye ♡♡♡

    • wook juga di adopsi, tapi….

      makasih komennya

  3. Semoga saja Yesung ingat masa lalunya.. Masih bingung sama kyu, kenapa kyu jadi gitu ? Gak mau ketemu sama saudaranya atau apa ? … Penasaran gimana nasibnya Wookie setelah ditinggal Yesung dn kyu.. Masih tinggal di panti kah atau diadopsi ? .. Ditunggu kelanjutannya… ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: