Posted by: blackcloudies | August 25, 2013

[Fanfict/Chaptered] De’ Dimension – Chapter 9

Title : De’ Dimension

Previous title : 342407 Dimensions

Author : Blackcloudies

Cast : Super Junior!OOC

Genre : Sci-fi/fantasy/romance/family

Rating : T-Pg

Length : Chaptered

WARNING : [!] Boys love story ; yaoi and mpreg [!!] crack and random couple [!!!] unbeta [!!!!] don’t like please don’t read. [!!!!!] No plagiarism or copy-paste without my permission. Thank ^^

Disclaimer : The casts are belong to GOD and theirselves. “De’Dimensions” © Mine.

 

A/N : untuk bbrp orang yg pernah menanyakan kelanjutan fic ini, here’s akhirnya saya lanjutin lagi stlah hampir setahun rasanya hiatus dan menelantarkan karya murahan ini. Walau…saya kembali dgn banyak perubahan, dari mulai mengganti judul title, nama author, dan inti cerita yang terpaksa saya ubah karena inti cerita sebelumnya udah lupa K  toh bagaimanapun juga cerita fiksi ini harus dituntaskan. Fighting!;)

 

.

.

.

.

.

.

 

“Sudah satu bulan yah?”

 

Pertanyaan itu diajukan Sungmin yang tengah menyenderkan kepalanya didinding kamar—kamar Yesung yang menyatu dengan sang adik, Henry. Dan, yah ia dan Siwon masih berada ditempat itu, di dimensi lain.

 

“Huhhhh!” Siwon hampir membanting kalender meja yang sebelumnya ia perhatikan.”Katanya mereka akan segera mejemputku?! Tapi lihat! Ini sudah satu bulan dan kita masih terjebak di tahun yang konyol ini!” tambahnya dengan kesal.

 

Siwon sangat frustasi. Walau telah lama beradaptasi dengan dunia yang belum secanggih dikehidupan aslinya, namun tetap saja membuat anak manja itu merasa berat untuk tetap bertahan.

 

“Aku ingin pulang Hyeong…” lirih Sungmin yang juga tak tahan. Siwon hanya memperhatikan adik dadakannya tersebut—tanpa kata-kata, ia hanya bisa mendesah.

 

“Ayo kita kembali ke masa depan. Kita akan berkumpul kembali dengan Tuan Eun, Tuan Hae, Sunhae noona, dan yang lainnya. Aku merindukan mereka…” tambah Sungmin lagi yang semakin membuat Siwon merasakan rindu yang sama. Rindu keluarga, rindu yang luar biasa. Tak dapat terbendung lagi rasanya, Siwon memilih untuk menahan air matanya yang sudah membasahi pelupuk. Ia ingin dilihat tegar oleh Sungmin—walau dirinya sendiri tahu kalau kesedihan itu telah memuncak dan rasanya tak sanggup jika nanti pada kenyatannya, ia dan Sungmin akan terjebak untuk selamanya di dimensi ini.

 

Siwon memperhatikan kesekeliling ruangan berukuran sedang tersebut. Masih terduduk diranjang milik Yesung—bersama Sungmin, ia memperhatikan satu persatu figura yang terpampang didinding ruangan kamar. Melihat foto keluarga Yesung, melihat foto kelulusan Yesung dan Henry, melihat moment-moment diantara kedua adik-kakak tersebut—Siwon tersenyum sedikit.’Terima kasih.’ Ucapnya dalam hati. Siwon merasa tenang karena ia tahu masih ada orang-orang yang membuatnya tetap bertahan.

 

Mungkin lebih spesifiknya, ia—Siwon, sadar kalau kehadiran Yesung-lah yang mambuatnya tetap bertahan.

 

“Kalian sedang apa?” suara itu begitu tiba-tiba setelah pintu kamar terbuka.

 

“Yesung hyeong!” teriak Sungmin saat mengetahui sang pemilik kamar telah pulang dari belajarnya disekolah. Seberkas senyum pun terhias di wajah Siwon—seakan membuatnya lupa dengan kerinduan yang sebelumnya merelung.

 

“Ah Sungmin-ah, Omma mencarimu dibawah. Sana bantu dia memasak.” Ujar Yesung yang membuat Sungmin semangat. Robot manusia itu memang suka sekali dengan semua kegiatan yang Heechul kerjakan, termasuk memasak. Dan tak perlu menjawab apapun, Sungmin segera berlari riang menuju lantai satu.

 

Yesung memasuki kamarnya, menaruh ransel diatas meja belajar lalu berjalan mendekati lemari pakaian. Satu persatu kancing kemeja seragamnya ia buka. Dari pantulan cermin yang berada ditengah lemari—Yesung sadar bahwa Siwon sedang menatapnya dari tadi.”Jangan seperti orang gila Siwonnie.” Ujarnya.

 

Eh?

 

“Apa maksudmu?” tanya Siwon tak mengerti.

 

“Sedari tadi kau tersenyum seorang diri dan…memeperhatikanku. Hati-hatilah, nanti kau bisa jatuh cinta padaku.” Hirau Yesung dengan tawaan kecil. Dia bercanda, tapi hati Siwon dibuatnya serius,”Hum. Orang akan jadi gila kalau dia sedang jatuh cinta.” Balasnya. Siwon segera bangkit dari duduk—berniat untuk menyusul Sungmin kelantai bawah.

 

Eoh apa maksudmu?” Yesung mencegahnya dengan pertanyaan itu.”…Jangan bilang kau sungguh jatuh cinta padaku? Oh hell.” Jawabnya sedikit iseng.

 

Tch…” Siwon menatap sebal pada Yesung,”Kau percaya diri sekali Yesungie. Masa iya kalau aku menyukai orang yang berasal dari dimensi lain. Konyol sekali…” ujar Siwon dan ia segera berlalu meninggalkan Yesung sendirian didalam kamar. Yesung pun tak ingin berlarut mempermasalahkan itu, ia kembali untuk mengganti pakaiannya,”Huh…Aku kan hanya tak ingin ada cinta segitiga saja.” Ucapnya sembari mengaca.

 

Siwon masih berada didekat kamar itu. Langkahnya terdiam. Jelas sekali ia mendengar ucapan terakhir yang Yesung ucapkan itu.

 

”Huh…Aku kan hanya tak ingin ada cinta segitiga saja.”

 

Membuatnya teringat dengan kejadian seminggu lalu—saat ia menemani Yesung untuk berobat ke kota Cheon-ahn. Perjalanan singkat mereka yang menyenangkan, tapi entah mengapa cerita akhir perjalanan itu menjadi sangat menyakitkan. Bahkan Siwon sendiri entah harus searching dimana tentang rasa sakit dihati yang ia rasakan dikala itu.

 

Pernyataan cinta Ryeowook pada Yesung minggu lalu, sungguh mengiris hati. Walau ia tahu bukan hanya dia yang tersakiti, tapi ia yakin rasa sakitnya sama seimbang dengan rasa sakit Henry saat ia tahu pria manis dambaannya lebih memilih sang Hyeong untuk melabuhkan hati.

 

.

.

.

.

.

 

2056 Masehi

 

Jemari Eunhyuk bergemetar. Ia bersiap untuk menekan sebuah tombol enter disalah satu keybar yang berada didinding sebuah mesin tabung besar.

 

“Aku yakin kali ini pasti akan berhasil, dicoba saja Hyuk.” Ucap Donghae yang berada dibelakangnya, ia tak berhenti berdoa. Seorang robot maid yang berada diluar mesin tabungpun sedang berdiri gugup. Ya ini sudah kali ke enam Eunhyuk memodifikasi mesin yang akan membawanya ke tahun 2012 untuk menjemput sang putra kembali kerumah. Sedikit takut, karena modifikasi sebelumnya selalu gagal.

 

“Hae-ah…” panggil Eunhyuk yang tak berani menatap Donghae—sang istri—yang berdiri dibelakangnya.

 

“Apa lagi Hyuk?”

 

Ini memang bodoh, walau tak sebodoh putranya. Tapi Eunhyuk harus mengatakan kalimat yang ingin ia utarakan,”Kalau…misalkan aku tak bisa membuat Siwon kembali kerumah kita lagi. Aku bersedia dicerai olehmu, kau boleh membenciku atau membunuhku…” belum memperpanjang kalimat bodohnya lagi, Donghae segera memberikan pukulan dipundak Eunhyuk,”Diamlah dan cepat tekan tombol enternya! Menceraikanmu itu bisa urusan nanti.” Katanya.

 

“Ugh…baiklah!…” perlahan ia menekan tombol enter pada mesin tabung tersebut. Reaksinya sungguh lama, tapi cahaya putih dari lampu-lampu yang terpancar dari segala arah membuat mesin itu menjadi sangat terang. Bahkan Sunhae—robot maid yang sedari tadi memperhatikan dua tuan besar dirumahnya tersebut tak bisa melihat lagi apa yang terjadi pada tabung mesin tersebut. Hanya ia sadar kalau benda itu tak berada ditempatnya saat cahaya itu memudar.

 

“T-tuan Eun, tuan Hae???!”

 

.

.

.

 

Henry hanya menatap malas pada layar televisi yang sepertinya tak ia fokus untuk ditonton. Padahal sang Omma—Heechul, dan Sungmin sedang asyik berada didapur yang tak jauh dari ruang tengah tempat Henry sedang berbaring malas tersebut. Ia tak sendiri tapi ada Siwon disampingnya—ikut malas menonton acara musik bersama Henry.

 

“Henry-ah! Cepat ganti saluran tv nya, aku mau liat acara discovery channel!” teriak Yesung yang langsung ikut bergabung dengan mereka berdua. Tatapan malas Henry berubah menjadi tajam, tak menjawab apa-apa atau segera mengganti channel, Henry malah melemparkan remote tv kepada sang Hyeong tersebut.”Ambilah…kuasai tv, kau memang selalu beruntung.” Ucapnya dengan tak ramah, tak lama anggota paling muda di keluarga Tan tersebut langsung pergi meninggalkan ruang tengah itu.

 

“Seperti itu lagi…dia itu kenapa sih?” lirih Yesung yang sangat merasakan perubahan sikap Henry padanya. Huh. Suatu saat juga akan tahu alasan mengapa sang adik bersikap seperti itu padanya, Yesung hanya menunggu sampai hari itu tiba.

 

.

.

.

 

Rasanya ingin sekali Henry membanting semua pepohonan yang mengelilinginya tersebut. Tapi tidak lah, ia tak memiliki kekuatan super untuk melakukan hal itu semua. Hanya duduk ditengah taman dengan raut wajah jengkel, itulah Henry sekarang.

 

“Dari pada cemberut tidak jelas, ayo kita tanding basket?” Siwon menyadarkan perhatian Henry yang sebelumnya memandang lurus tak berujung dengan semua pemikiran kesalnya karena sang Hyeong.”Basket? aku tidak bisa main itu.” Jawabnya malas—sekali ia melihat bola basket yang sedang Siwon drabble.

 

“Aku juga tidak bisa main basket. Tapi Daddy dan Grandpa ku selalu bermain basket jika mereka sedang kesal.” Ujar Siwon, tak segan ia melemparkan bola basketnya kearah Henry.”Yang kalah harus jadi babu! How?” tantang Siwon.

 

Henry masih belum mau bangun dan mengambil bola basket yang menggelinding kearahnya. Tapi sebuah ide muncul dibenaknya, ide gila?

 

“Yang kalah harus menuruti yang menang. Deal?” balas Henry kemudian. Siwon berfikir sebentar,’Apa bedanya dengan tantangan ku. Tch.’ Fikirnya.”Oke ayo!” jawabnya dengan lantang kemudian.

 

.

.

.

 

“Oh Kyuhyun. Henry tidak ada dirumah, sepertinya sedang diluar.” Jawab Yesung ketika Kyuhyun bertandang kerumahnya.

 

“Tapi bisakah kau menyuruhku masuk hyeong? Disini dingin sekali.” Balas Kyuhyun yang masih berada diluar rumah, sedangkan Yesung berada dibagian dalam.

 

“Ini kan bukan musim dingin… Ya sudahlah…” ucap sang pemilik rumah. Baru beberapa detik ia melebarkan pintu rumah, Kyuhyun sudah seenaknya memasuki rumah.

 

“Sudah kubilang Henry tidak ada. Dasar bocah nakal. Ish…” gerutu Yesung melihat pola tingkah Kyuhyun yang memang selalu bersikap seenaknya.

 

“Siapa juga yang ingin bertemu dengan Henry. Hehe.” Jawab Kyuhyun dengan nada kecil. Satu ruangan lagi ia masuki, ia yakin sekali kalau orang yang ia cari berada disana. Dan ding dong! Benar sekali. Kyuhyun segera memasuki ruangan itu, pelan-pelan ia mendekati sosok indah yang sedang berdiri didepan meja makan dengan kedua tangan yang sibuk mengirisi bahan-bahan sayur.

 

“Sungmin-ah~” bisiknya membuat telinga seseorang itu menjadi geli.

 

“Aigoh. Cho Kyuhyun.!!!”

 

Kyuhyun hampir terjatuh ketika Sungmin terkejut dengan sapaannya, apalagi saat Sungmin hampir membunuhnya hidup-hidup karena pisau ditangannya hampir menerkam pria itu.

 

Belum sempat meminta maaf, seseorang datang dengan sebuah botol minyak goreng ditangannya.”Sudah dipotong semua sayurannya, Minnie?” tanyanya pada Sungmin. Tapi sedetik kemudian pandangannya beralih pada Kyuhyun yang ternyata berada ditempat yang sama pula.”Oh Cho Kyuhyun, sedang apa kau disini? Henry sedang keluar.” Katanya.

 

Kyuhyun tersenyum dan membungkuk sekali guna memberi hormat padanya,”Anyeonghaseo Ajhumma-nim.” Sapanya,”Aku sebenarnya kemari…untuk…mengajak Sungmin pergi bersama…” tambahnya dengan malu-malu.

 

“Bolehkah?”

 

.

.

.

 

Henry terpingkal-pingkal. Beberapa kali juga ia sempat mengejek Siwon yang kalah dalam duel adu basket dilapangan kecil dekat rumahnya tersebut.

 

“Hahaha! Kau bodoh sekali masa!” ujarnya dengan tawaan geli.”Kau tinggi dan tubuhmu kekar, tapi bermain basket saja payah! Tsk!!!” tambahnya.

 

Siwon yang masih mengatur nafasnya yang terengal hanya bisa ikut tersenyum bodoh karena kekalahannya.”Aku tidak kalah tapi mengalah!” bela-nya.

 

“Tetap saja bodoh!! Mengalah untuk kalah??!!” balas Henry.

 

Ah iya. Itu sangat bodoh.’Mengalah untuk kalah…’ ekspresi Siwon menjadi diam ketika mengulang kalimat Henry dibenaknya.

 

“Lain kali jangan pernah mengalah kalau kau memiliki kesempatan untuk menjadi pemenang.” Ujar Henry lagi sebelum akhirnya pertandingan keduanya benar-benar usai.

“Ya. Lain kali…tidak akan mengalah lagi.” Jawabnya.

Dan bayangan Yesung teringat kembali difikirannya. Rasanya Siwon agak tersindir dengan kalimat itu. Membuat ia ingin kembali keminggu lalu—melakukan hal yang sama seperti yang Ryeowook lakukan kepada Yesung—menyatakan cinta. Dan tidak mengalah pada perasaannya yang masih ragu pada waktu itu.”Dan sekarang aku kalah.” Lirihnya.

 

“Ternyata, bermain basket disaat sedang emosi sangat menyenangkan nae??!!!” ujar Henry melarutkan penyesalan Siwon.

 

“Ayo kita pulang! Sambil membicarakan hukumanmu.” Ajaknya kemudian.

 

.

.

.

 

“Jangan pulang!!” Kyuhyun menarik lengan Sungmin yang ingin keluar dari dalam bioskop, dan tetap menahannya untuk duduk di kursi sampingnya—menonton sebuah film yang sama sekali Sungmin tak mengerti.

 

“Tadi disini dingin. Aku ingin pulang saja.” jawab Sungmin dengan wajah cemberut.

 

“Kalau begitu aku akan menghangatkanmu.” Balas Kyuhyun. Tak segan-segan Kyuhyun langsung merangkul Sungmin dalam dekapannya dan tersenyum geli, beruntung karena suasana didalam bioskop sangat gelap dan juga sepi, apalagi film yang sedang ditontonnya ber-rating D alias Dewasa. Membuatnya semakin bernafsu?

 

 BUGH. Tak segan pula Sungmin menyikut perut Kyuhyun dan membuatnya terbebas dari jeratan pria setengah mesum tersebut.”Pokoknya aku ingin pulang!” kata Sungmin lagi. Tak perlu mendengar ucapan Kyuhyun, Sungmin sudah terlebih dulu keluar dari dalam bioskop.

 

Kyuhyun mengalah. Ia akhirnya mengantar kembali Sungmin untuk pulang kerumah dan rencana kencan mereka pun gagal.

 

“Kenapa sih kau selalu membawa ku ketempat yang aneh-aneh?” tanya Sungmin ditengah perjalanan sepi mereka.

 

“Hum? Sepertinya tidak. Kau saja yang tidak romantis…”

 

“Pertama kau ajak aku ke taman yang penuh dengan pasangan-pasangan aneh. Lalu pernah juga kau mengajakku kerumahmu yang sepi kan? dan tadi kau ajak aku ketempat yang dingin dan gelap seperti tadi!! Mana tontonnya seronok pula.” Ujar Sungmin dengan polos.

 

“Hey itu bioskop! Dan itu bukan film seronok. Itu…film dewasa…” balas Kyuhyun.

 

Sungmin berhenti melangkah. Ditatapnya tajam-tajam kedua mata Kyuhyun,”Lain kali jangan ajak aku ketempat yang seperti itu!” hertaknya. Dan ia berjalan kembali.

 

“Aku rasa aku mengajakmu ketempat yang normal selama ini?!”

 

“Tempat normal?” Sungmin menautkan kedua alisnya,”Apa di era-mu tempat yang normal itu harus selalu sepi dan tersembunyi? Jadi kau bisa menguasaiku sesukamu?!! Huh?!”

 

Kyuhyun membulatkan kedua matanya,”Apa maksudmu dengan menguasaimu sesukaku?” tanyanya.

 

“Menguasaiku… dengan tidak sopan selalu memaksakan kehendakmu dengan tanpa permisi. Asal mengajak pergi tanpa persetujuanku, asal menggandeng tanganku, memeluk, merangkul, dan semua tindakan yang kau paksakan itu.”

 

“Huh…bukankah itu normal untuk orang berpacaran?” tanya Kyuhyun dengan kepercayaan dirinya yang tingkat dewa.

 

“Itu kah yang kau sebut berpacaran? Bahkan aku saja masih tak mengerti dengan pacaran,” Sungmin tersenyum sinis sebelum melanjutkan kalimatnya. Rasanya gerah juga meladeni anak adam yang satu ini,”…Dan itu yang tak kusukai dari manusia. Nafsu mereka lebih besar.” Tambahnya.

 

“Kau…berbicara seperti kau bukan seorang manusia saja…” ucap Kyuhyun pelan. sorot matanya memperhatikan wajah tenang Sungmin. Hampir dua bulan mengenal sosok Sungmin, baru kali ini dirinya mendapati kejanggalan yang sebenarnya sudah bisa ia rasakan dari awal bertemu. Tapi selama ini ia seakan buta karena terobsesi pada seorang Sungmin, namun kalimat terakhir yang ia dengar membuatnya tersadar dengan apa yang seharusnya ia ketahui.

 

Kedua mata Sungmin sungguh tak berkedip. Hanya membalas tatapan curiga Kyuhyun, ia belum berani menjawab apa-apa.

 

“Kau ini siapa sebenarnya Sungmin-ah?” tanya Kyuhyun. Ia memutuskan untuk lebih mendekati tubuh Sungmin. Kali ini bukan nafsu, tapi sungguh rasa penasaran yang mendorongnya berbuat seperti itu,”Dari mana kau berasal? Dimana kau tinggal? Siapa keluargamu?” tubi-tubian pertanyaan masih dilontarkan Kyuhyun. Bahkan ketika tubuh mereka sudah hampir rapat, Kyuhyun masih memberikan pertanyaan-pertanyaan lain,”Apa hubunganmu dengan keluarga Henry? Dan…mahluk seperti apa kau ini?”

 

Sungmin tak takut tapi merasa sedikit risih. Ia mendorong pelan perut Kyuhyun dengan kedua tangannya,”Aku bukan mahluk apapun.” Jawabnya pelan.

 

Kyuhyun menautkan kedua alisnya, mengekspresikan kebingungan.”Tidak mungkin kan kau hantu?” tanyanya kemudian.

 

Sungmin malah tertawa kecil,”Di era-mu masih percaya terhadap hantu ternyata.” Katanya. Ia menghela nafas sekali,”Aku ini…sebuah robot. Kau percaya?” lanjutnya.

 

Kedua bola mata Kyuhyun membulat—terkejut. Hal yang baginya terlihat mustahil tersebut membuatnya tertawa geli,”Tsk! Kalau kau adalah robot berarti aku adalah monster! Ah aku Zombie! Ah aku Transformer Haha!” jawabnya yang menganggap ucapan Sungmin adalah karangan.

 

Sungmin masih dengan tatapan tanpa ekspresinya. Ia sudah membuat kesalahan dengan membuka identitasnya sebagai sebuah robot manusia—walau Kyuhyun masih belum percaya. Dan rasanya menjadi sebuah kewajiban Sungmin untuk meluruskan persoalannya hingga tuntas, hingga Kyuhyun percaya benar kalau Sungmin adalah sebuah robot. Mungkin setelah itu Kyuhyun tak akan lagi mau mengganggunya.

 

Pelan-pelan Sungmin membuka satu persatu kancing kemeja putih yang sedang ia kenakan. Lantas saja membuat Kyuhyun yang setadinya tertawa menjadi sedikit gugup,”Apa yang kau lakukan?!” tanyanya. Terutama Kyuhyun khawatir jika ada yang melihat Sungmin.

 

Sampai semua kancing terbuka, Sungmin tak malu-malu untuk membuka lebar kemeja yang menutupinya—hingga wajah putih Sungmin terekspos dengan gratisnya. Melihat hal itu membuat Kyuhyun mati-matian menahan hawa nafsunya untuk tidak bertindak konyol pada Sungmin.

 

“Aku…”

 

.

.

.

TBC

Advertisements

Responses

  1. Wah apa yg mau sungmn tnjukin? Siwon ke2 appa mu sedang mnjuju 2012.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: