Posted by: blackcloudies | June 30, 2013

[Fanfict/Chaptered] The Line Of Destiny – part 2

Title : The Line Of Destiny

Author : Blackcloudies

Cast : Yesung/Henry!broken, Zhoumi/Henry!later, characterdeath!Yesung

Genre : OOC/BL/Romance/Angst

Rating : T+

Length : Chaptered

Disclaimer : The casts are belong to GOD and themselves. “The Line Of Destiny” © Mine.

Warning : [!] This is boys-love story with rare pair [!!] Unbetaed

 

Summary : Dia fikir dia-lah satu-satunya orang yang mencintai pria itu dengan tulus, tapi tidak—Tuhan lebih mencintai pria itu, dan ia menyesal karna tak sempat, tak pernah , tak mampu menyatakan perasaannya pada pria yang menjadi semangat hidupnya tersebut || untuk pria lain yang datang dikehidupannya…“Sebelum kau mencintaiku, cintai dulu Tuhanmu.”

.

.

.

‘Apa kau tersesat? Kau anak baru? apa kau penghuni baru?’

 

Henry ketakutan luar biasa waktu itu. Melihat kedatangan Yesung dan segerombolan anak panti asuhan yang menyerbunya didepan gereja. Ia menggeleng.’Lalu kau siapa?’ tanya Yesung lagi.

 

Dengan memberanikan diri Henry mencoba mempercayai Yesung,’Aku baru tinggal dikawasan ini. Aku mencari sebuah gereja lalu mendengar suara lonceng, jadi aku kesini…tapi sepertinya aku lupa jalan pulang.’

 

‘Ah. Kita dapat teman baru! ayo kita bantu dia untuk pulang.’ Ujar Yesung waktu itu—dan ia bersama anak-anak panti asuhan memberikan bantuannya pada Henry agar bisa kembali pulang kerumah.

 

‘Terima kasih sudah membantu. Kalian sangat baik!’

 

‘Lalu bagaimana, kita jadi teman kan’?’

 

Henry mengangguk,’Tentu. Kita bisa berteman!.’

Kenangan yang membuatnya hampir menangis. Henry membalas salaman tangan Zhoumi,”Tentu. Kita bisa berteman.” Jawabnya lirih.

.

.

.

Rasanya semangat sekali. Matahari belum juga menampakan sinar terang, tapi Henry sudah rapi dengan kemeja putih bersih dengan black jeans dan sebuket mawar merah yang segar mengiasi tangan kanannya.’Ah Gege. Tunggu aku.’ Ucapnya dalam hati.

Tahun lalu ia sudah janji kalau tepat hari ini ia akan bertemu dengan Yesung digereja, karena tepat hari ini adalah hari dimana untuk pertama kali mereka berkenalan. Walau…nyatanya sosok indah Yesung tak lagi dapat Henry lihat secara nyata, tapi Henry akan merayakannya seorang diri.

Memang masih pagi. Panti asuhan pun masih terlihat sangat sepi. Henry perlahan membuka pintu gereja yang memang tak terkunci. Wajahnya tersenyum walau air matanya sedikit basah tapi tangisan tak mengubah senyuman itu. Henry berjalan perlahan, kedua matanya menatap patung Tuhan yang terbias sedikit cahaya dari pantulan kaca didepan hadapan altar, kemudian tatapannya beralih pada bangku kayu deretan nomer tiga. Henry duduk disana.

“Ge, kau ingat sekarang hari apa?” suara parau Henry membuka kalimat heningnya.

“Sekarang tanggal empat Juni. Aku masih ingat sekali, saat aku tersesat ditempat ini dan kau yang membantuku saat itu. Untuk pertama kalinya kita bertemu, aku sangat berterima kasih.” Tambahnya. Henry meletakan buket mawar merah tadi disampingnya—ditempat biasanya Yesung duduk.

“Aku tak akan pernah menyesali kebodohanku karena pernah tersesat ditempat ini. Malah sangat berterima kasih karena terjebak ditempat ini dan pada akhirnya bisa mengenal seseorang sepertimu. Kau…seperti surga.” ucap Henry lagi. Jemari tangannya menyentuh lembut kelopak bunga mawar disampingnya,”Aku mencintaimu, kau tidak tahu kan’ Ge?” tanyanya pelan.

‘Atau kau tahu tapi berpura-pura untuk tidak tahu.’

Kesepian itu sedikit terusik ketika didengarnya suara seperti pantulan basket yang tersaring dengan jelas dari luar gereja. Tuhan, sungguh suara itu membuat jantung Henry seakan mati. Ingat sekali kalau Yesung sering memainkan basket diluar halaman luar gereja dipagi hari, dan Henry yang tak pandai berolah raga hanya mengintip Yesung dari salah satu jendela gereja.

“Gege?!” Henry segera mengambil kembali buket mawarnya lalu bangun dari bangku dan segera berlari menuju luar gereja. Ia bukan ketakutan, tapi ia hanya penasaran. Hati kecilnya berharap apa yang didengarnya adalah sama seperti yang sering ia dengar dahulu. Walau…pada akhirnya ia sadar kalau itu bukanlah Yesung. Tapi,

“Oh hai, wan an! (selamat pagi)” sapa pria asing itu—atau Zhoumi ketika melihat Henry berlari mendekatinya. Ia sudah tiga hari tinggal untuk sementara dipanti asuhan tersebut, dan Henry pun sudah mengenali sebelumnya, yah walau hubungan mereka belum begitu akrab.

Langkah lari Henry berubah menjadi pijakan kecil—berjalan mendekati Zhoumi yang sedang asyik memantulkan sebuah bola basket ditangannya.”Dari mana kau mendapatkan bola itu?” tanya Henry dengan nafas agak tersengal karena berlari cukup kuat tadi. Zhoumi segera menangkap basketnya—ia mendekapnya dan memperhatikan Henry yang bertanya barusan.”Oh ini. Aku menemukannya dibawah kasur ku. Sepertinya ini milik orang yang dulu tinggal dikamarku…jadi—“ jawaban Zhoumi belum lengkap benar, namun intrupsi Henry memotongnya,”Itu milik Yesung-gege!” ujarnya agak tersentak.

“Yesung?”

Henry segera merebut bola basket yang berada ditangan Zhoumi—agak kasar memang, tapi Henry hanya tak ingin ada orang lain menyentuh barang peninggalan Yesung itu.

“Hei! Kenapa kau jadi seperti itu?! Kau tak sopan tahu?” kata Zhoumi terkejut melihat tingkah Henry yang seenaknya merebut bola basket tersebut.

“Karena ini bukan milikmu.” Hanya itu jawaban Henry, kemudian dirinya segera berjalan menuju pintu masuk panti asuhan—ingin mengembalikan salah satu benda kesayangan milik Yesung. Zhoumi tak habis fikir, melihat sikap Henry malah membuatnya penasaran. Ia mencoba ingin tahu apa yang sebenarnya tak diketahui.

Ya. sejujurnya. Banyak hal yang Zhoumi ingin tahu tentang siapa itu Yesung. Karena semenjak pertama ia menapaki kaki di panti asuhan, nama Yesung sudah sering sekali ia dengar walau tak satupun penguni panti mau menceritakan tentang pria itu. Bahkan saat si pemilik panti mempersilahkannya untuk tidur dikamar Yesung, ia hanya bilang agar menjaga kamar sebersih mungkin karena pemilik kamar yang lama sangat menyukai kebersihan.

Henry baru ingin membuka kenop pintu sebuah kamar usang yang dulu sering ia datangi, tapi sebuah telapak tangan menggenggam lengannya—mencegah Henry untuk membuka pintu tersebut,”Tolong bersikap sopan. Ini kamarku.” Ucapnya yang tak lain adalah Zhoumi. Henry menepis kasar tangan Zhoumi.”Ini bukan kamarmu. Kau hanya menumpang. Ingat?” balas Henry dengan tatapan serius. Mungkin marah.

Zhoumi masih tak mau mengalah,”Walau aku hanya menumpang, toh ini juga bukan kamarmu. Jadi pergilah.” Ujarnya.

Tatapan dingin keduanya saling bertautan,”Ini…kamar Yesung-gege. Aku hanya ingin mengembalikan bola basketnya saja.” Ucap Henry yang langsung membuat Zhoumi terdiam seribu bahasa, hanya pandangannya pada Henry yang menimbulkan benak pertanyaan tentang hubungan antara Henry dan Yesung-itu. Dengan terpaksa Zhoumi mempersilahkan Henry untuk membuka pintu kamar.

Suasana hangat yang dulu kembali terasa. Henry bahkan hampir membasahkan kedua manik matanya ketika memperhatikan kamar usang yang sudah lama tak ia kunjungi. Tuhan, kalau saja Henry tak bisa menahannya—mungkin ia sudah menangis darah sekarang. Sakit memang, mengetahui sang pemilik kamar kini telah tiada, hanya ada benda-benda peninggalan yang setidaknya bisa memutar kenangan indah tentang Yesung.

Langkah kaki Henry perlahan mendekati kesebuah ranjang yang hanya ada satu didalam kamar. Ingat sekali ia pernah berada disana, membangunkan Yesung kalau dirinya malas untuk sarapan. Ingat pula saat Henry hampir pingsan karena kepalanya tak sengaja tertimpa reruntuhan dinding saat gereja sedang dalam tahap renovasi, dan Yesung membawa Henry kekamarnya untuk beristirahat. Sungguh kenangan.

Henry tak lupa dengan tujuan awalnya, ia segera mendekati sebuah lemari kayu dengan dua pintu yang memang letaknya berada tepat disamping ranjang. Ia menaruh basket yang sedang dipegangnya kesamping lemari tersebut, kebetulan disana ada sebuah kotak kayu yang memang dijadikan Yesung sebagai tempat menaruh basket.

Lagi-lagi hati Henry merasa sakit. Tak ingin lama berada disana, Henry pun segera kembali keluar kamar.

“Hanya karena sebuah bola, kita malah berdebat. Itu lucu ya.” Ucapan itu sengaja membuat Henry menghentikan langkahnya. Segera ia tatap orang berucap barusan,”Maksudmu?”

Zhoumi tersenyum sekilas, ia tak ingin ada suasana dingin kembali mengheningkan keduanya,”Tidak. Aku hanya heran saja.” Jawabnya tak ingin memperkeruh lagi suasana karena melihat mimik wajah Henry yang sepertinya sangat serius.”Aku akan pergi keluar. Kalau kau masih mau berlama dikamar itu yah silakan. Tak akan ku ganggu.” Ujarnya lagi—Zhoumi pun berlalu meninggalkan Henry yang masih berada dikoridor depan kamar. Meninggalkannya terlebih dulu.

Pagi ini sepertinya sangat kacau untuk Henry. Padahal tepat hari ini seharusnya ia bahagia, tapi kenyatannya malah terbalik. Ah, ia juga merasa bersalah dengan Zhoumi. Dan rasa bersalah itu ia dapati ketika semuanya telah terjadi. Tidak seharusnya ia merebut basket itu, karena Zhoumi hanya meminjamnya. Lagipula dulu Yesung juga sering meminjamkan basket kesayangannya itu kepada siapa saja.

‘Apa aku terlalu berlebihan?’

Henry membuang nafas berat, rasanya ingin berteriak. Tapi…

‘Apa aku harus meminta maaf?’

.

.

.

“Untuk apa?” tanya Zhoumi ketika waktu bersantainya diganggu oleh kedatangan Henry dan sebuah…”Bola basket untukmu.” Jawab Henry. Karena melihat kedua tangan Zhoumi yang masih memegani sebuah kamera DLSR berwarna hitam, Henry pun akhirnya menaruh saja bola basket yang ia bawa kesamping Zhoumi yang sedang duduk dibangku taman tersebut.

“Iya aku tahu itu bola basket. Tapi untuk apa memberikannya padaku?” tanya Zhoumi lagi. Rupanya basket tersebut berhasil membuatnya berpaling pada kamera mahal yang sebelumnya ia pegang. Zhoumi memainkan basket tersebut dengan kedua tangannya.

“Aku tak enak karena tadi pagi kita berdebat soal bola basket. Menurutku tidak seharusnya aku bertindak tak sopan seperti tadi. Jadi ku berikan basket milikku untuk kau mainkan…untuk mengganti bola basket milik…”

“Yesung?”

Henry mengangguk pelan.”Iya. dia.”

“Sepertinya…dia sangat spesial untukmu.”

Ucapan Zhoumi barusan sungguh membuat kedua bibir Henry mengunci.

“…Terlihat sekali dari sorot matamu Henry-sshi. Ketika kau mengucapkan nama pria itu—kau menjadi perasa.” Ujar Zhoumi lagi.

“Dia sangat spesial untuk semua orang disini, termasuk untukku.” Itu saja jawabannya. Tapi Zhoumi faham bahwa spesial untuk Henry adalah sesuatu yang berbeda.

.

.

.

Perbukitan Guilin disore hari sungguh indah. Zhoumi pun sedari tadi tak melewatkan beberapa moment yang ia abadikan dalam kamera beresolusi tinggi tersebut. Takjub memang melihat hamparan indah buatan Tuhan tersebut—ia tak pernah melihat pemandangan seindah Guilin sebelumnya.

Tapi sesekali lensa kamera-nya terfokus pada punggung seorang pria yang sedang berjalan didepannya—dengan memeluki sebuah bola basket. Pria yang masih menggunakan kemeja putih sedari pagi tersebut memang sosok yang indah, Zhoumi tak bisa memungkirinya. Baru ingin mengambil sekali lagi, sosok berkulit putih itu berhenti melangkah. Ia segera membalikan tubuhnya—memperhatikan Zhoumi yang mengikutinya dibelakang. Tak dapat berkutik, Zhoumi sangat terpesona menyadari sosok Henry yang begitu menawan ketika dilihatnya dari lensa kamera.

“Ini…makam Yesung-gege.” Ucap Henry yang baru Zhoumi sadar jika pria menawan itu sedang berdiri didekat sebuah makam yang menjulang dengan rerumput hijau disekitarnya. Ada sebuah salib berbentuk kayu yang terpajang diujung makam yang hanya ada satu saja dibukit tersebut. Zhoumi segera menurunkan kameranya, kemudian mendekati Henry.

“Kenapa dimakamkan diatas perbukitan yang jauh dari Gereja?”

Henry duduk membelakangi makam itu, ia lebih memilih memperhatikan hamparan luas bukit nan asri. Alasannya, ia hanya tak ingin menangis. Basket yang ia bawa ia taruh disampingnya.”Kata pemilik panti, Yesung-ge pernah bilang jika ia meninggal di Guilin, ia ingin tempat ini menjadi makamnya…”

“…Aku bahkan baru tahu kalau Yesung sering kemari.” Tambah Henry dengan suara parau.

“Seberapa dekat kalian? Uhm…maksudku seberapa dekat ia dengan semua orang yang ada dipanti?” tanya Zhoumi yang sebenarnya ingin mengetahui tentang kedekatan Henry dengan Yesung.

“Aku baru kenal satu tahun. Yesung…sangat ramah, walau ia bukan asli orang china dan bahasanya masih sangat berantakan, tapi ia bisa membuat semua orang nyaman dengan sikapnya. Dengan canda tawanya, dengan semuanya…”

Walau dari samping, tapi Zhoumi melihat ekspresi Henry yang tidak bisa ia gambarkan. Seperti perasaan sedih tapi penuh dengan cinta.

“Kau menyukainya?”

Henry dibuatnya menoleh dengan pertanyaan Zhoumi tadi,”Siapa yang tidak menyukainya. Semua orang menyukainya…termasuk aku.” Jawabnya.

“Bukan bukan…kau mencintainya kan’?”

Tepat sekali pertanyaan itu langsung membuat hatinya mendesir. Pertanyaan yang tak mampu untuk Henry berbohong, namun tak dapat juga berkata jujur pada Zhoumi yang sepertinya sudah tahu tentang perasaan Henry sesungguhnya.”Tentang perasaanku padanya itu adalah urusan pribadi.” Hanya itu jawabnya.

Zhoumi menyunggingkan senyuman,”Tch, tak perlu dijawab aku juga tahu kalau kau mencintainya.” Jawabnya. Henry hanya memperhatikan wajah pria tinggi semampai tersebut.

Tak ingin berlama ditempat tersebut, Henry memutuskan berdiri dan ingin kembali lagi kegereja. “Ayo kita kembali ke gereja…kau sudah kukenalkan dengan Yesung kan’.” Ujarnya seraya mengajak Zhoumi yang sebelumnya penasaran dengan lokasi makam tempat tubuh Yesung beristirahat untuk selamanya tersebut.

Zhoumi mengangguk. Ya, sepenggal kisah Yesung memang sudah Henry ceritakan padanya saat mereka berdua berjalan menuju lokasi makam. Ia tahu pada akhirnya kalau Yesung adalah pria yang memang sangat menarik. Dari ceritanya, Henry menunjukan sebuah perasaan yang menggebu ketika mengisahkan tentang kenangannya dengan Yesung. Tapi satu hal yang membuat Zhoumi masih penasaran.’Apa mereka sebelumnya menjadi sepasang kekasih?’

“Jadi dia kekasihmu?” tanya Zhoumi pelan, malah ia berharap Henry untuk mendengarnya. Tapi salah, Zhoumi malah dibuatnya terkejut ketika Henry yang sudah berdiri terlebih dahulu kini menatapinya.”Bukan.” jawabnya.

Ternyata bukan. Tapi entahlah, Zhoumi masih kurang yakin walau ia tahu Henry memiliki perasaan khusus terhadap Yesung.

“Aku…” nada lirih itu menghentikan gerak Zhoumi yang baru ingin bangun dari duduknya.

“…Sialnya aku…belum sempat bilang kalau aku ini sangat mencintainya.” Lanjut nada yang sebelumnya berlirih tersebut.

Tidak ada air mata di kedua mata Henry, tapi Zhoumi dapat melihat kesedihan luar biasa yang terpancar di pandangan mata Henry. Rasanya ingin memberikan tumpangan bahu atau usapan lembut di punggungnya, tapi Zhoumi tak berani bertindak seperti itu. Yah, setidaknya sekarang rasa penasaran Zhoumi sudah dibalas dengan pengakuan Henry barusan.

.

.

.

.

.

[TBC]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: