Posted by: blackcloudies | June 30, 2013

[Fanfict/1shot] Don’t Forget Me

Title : Don’t Forget Me

Author : Blackcloudies

Main pair : Henry/Minah(Girls Day)

Genre : Romance, Teenlite

Rating : PG17

Length : Oneshot

Disclaimer : The casts are belong to GOD and themselves. “Don’t Forget Me” © Blackcloudies.

A/N : my first straight fanfict………..

.

.

.

Suara bising bandara terdengar menyerbu. Lalu lalang orang-orang sekitar menjadi pemandangan sendiri didalam gedung besar itu.

Minah memperlambat langkahnya, membuat pria yang berjalan seirama dengan dirinya mendahului didepan. Hanya punggung hangat dibalik kemeja putih bersih itu yang menjadi tatapannya kini.

Gege…” lirih Minah sungguh pelan, tak mungkin jua didengar…terlebih pria itu sudah berjalan agak jauh dari dirinya.

Gege…” berusaha lagi, kali ini Minah berlari kecil menyusulnya—menarik paksa lengan kanan pria tadi agar bisa menyatukan pandangan mereka.

Uhm?” Pria itu langsung menoleh.”Wae?”

Genggaman tangan Minah pada lengan pria itu semakin kuat. Seperti kuatnya ia menahan agar tangisan tak membasahi kedua matanya. “Gege… jangan pergi yah? Kau sudah seperti oksigen untukku. Kalau kau pergi…itu sama saja kau tak mengizinkanku untuk bernafas…aku bisa mati, aku akan mati.” Lirihnya.

Pria itu mematung. Ia tak sangka kalau gadis manis yang sudah lama menjadi sahabat karibnya itu akan berkata demikian. Ingin rasanya luluh, tapi pria itu harus bertanggung jawab atas jalan yang telah ia pilih untuk hidupnya.

“Aku…hanya empat tahun saja kembali ke Kanada.” Jawab Henry—pria tadi.

“Hanya?” bagi Minah itu sangat lama. Bukan hanya hitungan tahun, tapi jarak keduanya yang terpisah negara dan benua membuatnya tak rela dengan perpisahan ini.

“Sungguh aku hanya pulang ke Kanada untuk melanjutkan study saja. Setelah itu aku akan kembali lagi ke Seoul.”

Tak ada kata-kata lagi. Minah menunduk—merasa kalah. Kalaupun ia menyatakan perasaan cintanya pada Henry sekarang, pasti pun tak akan bisa mencegah atau menunda kepergian Henry. Hari-hari bersama pria bermata sipit itu sudah membuatnya terbiasa nyaman, bahkan hingga membuat benih-benih cinta nya pada Henry terpupuk menjadi cerita rahasia yang belum berani ia ungkap. Sulit untuk jujur, karena hati kecil Minah sangat takut kalau-kalau Henry malah menjauhinya karena rasa cinta dihubungan persahabatan mereka berdua.

“Belajarlah untuk hidup tanpaku.” Ucap Henry sebisanya.

“Aku…tidak bisa…” Minah semakin menenggelamkan kepalanya. Ia menangis kecil dan malu rasanya kalau Henry melihat buliran air mata yang tertuang itu. Bahkan tangan putihnya yang menarik lengan Henry kini sudah menutupi wajah sendu Minah sendiri.

“Kau bisa…tapi kau saja yang tidak mau.” Balas Henry tepat.

Suara dari petugas bandara yang mengumumkan tentang pesawat yang akan ditumpangi Henry sudah akan lepas landas, seakan menjadi interupsi diantara keduanya. Henry pun bersiaga, dijinjingnya sebuah tas coklat yang menjadi bawaannya untuk ke Kanada. Tak lupa mempersiapkan paspor dan visa ditangan yang satunya.

“Terima kasih sudah mengantarku.” Ujar Henry kepada Minah yang masih masih terkurung dalam kesedihan tersebut.”Cepatlah pulang, aku tidak enak pada Paman dan Bibi karena kau mengantarku.” Tambah Henry lagi. Masih tiada bergeming, Minah hanya tersengguk karena isakan tangisannya.

“Hm…aku…pergi dulu.” Pamit Henry sekali lagi. Ia memundurkan beberapa langkah sebelum pada akhirnya Henry berbalik badan dan berjalan lurus menuju tempat pengecekan paspor.

“Jangan lupakan aku…” lirih Minah dengan nada kecil. Ia tak kuasa menangis, tapi Minah masih memiliki kekuatan untuk berlari mengejar Henry. Mencegahnya sekali lagi sebelum ia mengikhlaskan perpisahan sementara diantara mereka.

“Yang penting jangan lupakan aku saja.” Ujar Minah setelah lengan Henry berhasil ia genggam lagi. Kedua manik mata mereka saling mengisi.

“Melupakanmu sangat sulit. Aku mana bisa…” jawab Henry dengan senyuman kecil. Tapi malah membuat Minah semakin menangis sejadinya.

“Hey…jangan menangis…” Henry baru ingin meletakan tas jinjingnya agar ia bisa mengahapus tangisan Minah dengan tangan kanannya. Tapi sebuah sentuhan telapak tangan yang halus di pipi Henry membuat pria itu terdiam—juga terpukau saat memandang kedua mata Minah yang berkaca-kaca sedang menatapinya. Dan Henry menutup pandangannya ketika dirasakannya tarikan lembut dari sentuhan tadi yang membuat wajah keduanya semakin berdekatan. Bibir mereka berdua beradu, saling melumat walau tak juga dengan intens yang liar. Henry bisa merasakan air mata Minah yang menyatu dengan saliva mereka. Baginya itu bukanlah tetesan kesedihan, tapi bukti dari rasa cinta.

Tak ingin semakin menjadi tontonan publik, ‘ciuman pertama’ keduanya berhenti.

“Dan…jangan lupakan ciuman kita!” kata Minah dengan bibir bergemetar,”…Peka lah, kau harus paham dengan apa yang tadi kuberikan padamu!” tambahnya lagi. Kedua pipinya merah merona, Minah sungguh malu. Ia segera berbalik arah dan berjalan menuju luar bandara untuk segera kembali pulang—bersama keikhlasannya menanti Henry empat tahun lagi.

“Aku janji!!!” teriak Henry yang masih berdiri disana.

.

.

.

THE END [2013-06-26]

Note : Beberapa quotes terinspirasi dari obrolan aneh saya dan sahabat saya ;3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: