Posted by: blackcloudies | May 30, 2013

[Fanfict/Chaptered] The Line Of Destiny – part 1

Title : The Line Of Destiny

Author : Blackcloudies

Cast : Yesung/Henry!broken, Zhoumi/Henry!later, characterdeath!Yesung

Genre : OOC/BL/Romance/Angst

Rating : T+

Length : Chaptered

Disclaimer : The casts are belong to GOD and themselves. “The Line Of Destiny” © Mine.

Warning : [!] This is boys-love story with rare pair [!!] Unbetaed

 

Summary : Dia fikir dia-lah satu-satunya orang yang mencintai pria itu dengan tulus, tapi tidak—Tuhan lebih mencintai pria itu, dan ia menyesal karna tak sempat, tak pernah , tak mampu menyatakan perasaannya pada pria yang menjadi semangat hidupnya tersebut || untuk pria lain yang datang dikehidupannya…“Sebelum kau mencintaiku, cintai dulu Tuhanmu.”

.

.

.

Lonceng gereja sudah berbunyi. Sore hari itu pun terasa sangat singkat dari biasanya.

 

“Sepertinya musim gugur hampir datang.” Lirih Henry—pria muda yang biasa mengajarkan musik pada anak-anak panti asuhan—didekat sebuah gereja kecil di Guilin—suatu daerah yang memiliki banyak gunung-gunung kecil yang menjulang tinggi dan memiliki aliran sungai yang panjang. Salah satu daratan China dengan pemandangan memukau.

 

Sudah satu tahun lebih sejak Henry dan keluarganya pindah ke Guilin. Setiap sore di waktu senggangnya, ia memang senang mengajar semua hal tentang musik di salah satu gereja kecil di kota tersebut. Dari bernyayi, memainkan alat musik seperti piano, biola, gitar dan sebagainya—semuanya ia ajarkan. Ia tak minta bayaran atau pujian, ia hanya ingin membagi ilmu yang ia dapat selama empat tahun meraih pendidikan tentang musik di Beijing.

 

Semilir angin yang menerpa wajah membuatnya tersenyum senang.

 

“Segar yah? Seperti di surga.” ucap seseorang dengan suara bariton dan aksen China-nya yang masih kaku. Henry tersenyum—menatap pria itu yang sedang memerjamkan kedua matanya dan merasakan segarnya tiupan angin yang memberantakan rambut coklat gelapnya.

 

“Ah Yesung-ge, kau bicara seperti sudah pernah ke surga saja…” ujar Henry padanya—Yesung—salah seorang penghuni panti asuhan yang lebih tua lima tahun dari Henry. Mereka berdua berteman baik, Mereka berdua pun saling membantu dalam mengajarkan musik pada anak-anak panti asuhan yang lain. Henry juga senang mengajarkan bahasa China yang masih belum dikuasai Yesung dengan benar. Maklum saja, Yesung memang berdarah asli korea, dan Henry hanya tahu satu alasan mengapa Yesung berada dipanti asuhan tersebut,’Karena Tuhan yang membawaku kemari.’ Ucapnya setiap Henry tanya.

 

Huh, nanti juga aku bisa merasakan surga.” jawab Yesung yang akhirnya membuka kedua matanya. Dan hanya ada senyuman setelah itu.

 

Sudah sore. Sudah waktunya Henry untuk kembali kerumah sebelum petang. Walau rumahnya tak begitu jauh, tapi dikarenakan ia berjalan kaki terpaksa membuatnya untuk segera pulang. Padahal…waktu-waktu bersama Yesung adalah waktu yang paling ia tunggu. Bukannya berpura-pura bodoh, tapi Henry hanya tak ingin mengakui bahwa Yesung sudah berhasil mencuri perasaan. Hati yang selalu berdegup kencang jika sedang berbicara berdua atau pipi kemerahan ketika Yesung menatapnya—sudah lebih dari bukti bahwa Henry mencintai Yesung. Tapi, pria berkulit putih dan berpipi chubby itu takut untuk mengakuinya.

 

“Pulanglah, kalau hari sudah hampir gelap jalanan akan sangat sepi. Itu berbahaya untukmu.” Ujar Yesung peduli. Satu poin lagi alasan untuk menyukainya.

 

Henry siap menenteng tas biolanya,“Hao. Aku akan pulang dan kembali lagi besok siang!” jawabnya menggebu. Masih dengan semangat, Henry mulai berjalan meninggalkan halaman gereja tersebut. Tapi…ada perasaan kaku yang memaksa Henry untuk menghentikan langkahnya. Ia segera membalikan badan—memperhatikan punggung Yesung sedang memperhatikan sesuatu—lonceng gereja.

 

Gege…” panggilnya pelan. Yesung pun menoleh,”Apa? Kenapa belum pulang. Cepat pulang…” katanya. Henry merasa ada sesuatu yang aneh, dihatinya bahkan dilidahnya yang tak mampu untuk berkata apa-apa lagi, ia hanya memperhatikan wajah pucat Yesung sekilas, kemudian segera berjalan kembali menuju rumahnya.’Semuanya akan baik-baik saja. Aku percaya.’ Batinnya dalam hati.

 

.

.

.

.

.

 

Begitu dingin. Tetesan hujan yang berjatuhan itu memaksa Henry untuk berteduh disalah satu pohon yang berada dipinggir jalan menuju gereja.

 

“Ah, padahal beberapa meter lagi, tapi malah hujan. Sial sekali.” Gerutunya dengan nada malas.

 

Malas. Ya memang. Sebenarnya Henry memang tak ada niat untuk datang ke gereja hari ini—bahkan sudah beberapa hari ia enggan untuk kesana. Tidak ada Yesung, itu alasannya. Oke, Henry memang ikhlas mengajar musik disana, tapi suasana hati seseorang siapa yang tahu. Henry butuh Yesung untuk memberinya semangat, itu saja. Dan sudah seminggu lebih rupanya Yesung tak ada, lebih tepatnya Ia belum kembali dari Seoul.

 

“Aku jadi rindu kan…” lirihnya pelan. Ia mendesah berat, selain rindu tentu ada perasaan cemas. Terlalu cemas.

 

“Apa dia baik-baik saja?”

 

“Apa dia bahagia disana?”

 

“Yesung-ge sedang apa?”

 

Henry kesal. Ia menyenderkan punggungnya pada pohon tempatnya berteduh—seraya berdoa agar hujan lebat itu segera berakhir jadi dirinya dapat segera berlari menuju gereja,’Siapa tahu Yesung-ge sudah pulang.’ Fikirnya.

 

Masih hujan sangat lebat dan Henry pun masih terjebak di bawah pohon itu. Gemericik hujan yang membasahi genangan air dan membuat gelembung air menjadi tontonannya. Gemericik yang lain menyita perhatiannya sesaat. Air hujan yang membasahi sebuah payung hitam dengan seorang anak kecil berada didalamnya membuat Henry lega. Ada penolong yang datang. Tapi…

 

“Henli-ge…” nada suara anak itu melemah walau ia sudah berdiri didepan Henry.

 

“Ada apa Shen Ming?” tanyanya khawatir—melihat wajahnya sudah basah, bukan karena hujan tapi karena air mata. Anak kecil bernama Shen Ming itu terlihat sedikit ketakutan, bibirnya bergemetar.

 

“Ada apa?” tanya Henry sekali lagi. Shen Ming malah menjatuhkan kembali air matanya.

 

“Yesung-ge…dia…sudah pulang…” jawab Shen Ming agak terbata. Sinyum simpul Henry hiaskan di wajahnya,”Ah sungguh!!”

 

Shen Ming menjatuhkan payung hitam yang ia bawa, jemari tangannya dengan bergemetar meraih telapak tangan Henry,”Yesung…Yesung-ge…dia…sudah kembali ke surga Tuhan. Dia…meninggal dunia…”

 

Hujan semakin lebat saja, tangisan parau Shen Ming dibuatnya tak terdengar.

 

“Meninggal…”

 

Henry tak percaya dengan kalimat itu. Tapi ia tahu kalau hari ini akan datang. Hari dimana ia pasti akan tak kuasa untuk merelakan kepergian Yesung menuju rumah Tuhan.

 

‘Dokter ternyata pembohong.’

 

‘Eh, kenapa ge?’

 

‘Huh, dia bilang umurku tidak lama lagi, hanya tiga bulan lagi. Tapi ini sudah lima bulan berlalu dan aku masih hidup.’

 

‘Gege…’

 

‘Mungkin dokter benar tentang umurku, tapi sepertinya Tuhan masih memberi kesempatan aku untuk hidup.’

 

‘…’

 

‘Jangan menangisi pemakamanku nanti Henli…’

 

Percakapan menyedihkan yang pernah terjadi itu terulang kembali difikiran Henry. Membuatnya semakin tak kuasa untuk meraung. Rasanya tak rela. Walau dari awal sudah tahu tentang kanker hati yang hampir melumpuhkan sebagian tubuh Yesung—Henry tetap tak bisa  menerima dengan garis takdir ini.

 

.

.

.

 

‘Aku fikir Aku-lah satu-satunya orang yang mencintamu dengan tulus, tapi tidak—Tuhan lebih mencintaimu ge, dan sungguh, aku menyesal karna tak sempat, tak pernah , tak mampu menyatakan perasaaku padamu. Kau semangat hidupku.’

 

.

.

.

 

Sudah satu bulan. Sosok penyemagat itu benar-benar tak dapat Henry rasakan lagi. Yang sisa hanya ada luka.

 

Hampir satu jam Henry terduduk disana—dikursi panjang derertan nomer tiga yang berada didalam gereja. Tempat kenangannya bersama Yesung. Bahkan sampai saat ini masih terasa jika Yesung masih berada disampingnya—sedang bercerita tentang banyak hal dengan ekspresi wajah yang serius tapi dibumbui dengan lelucon-lelucon yang membuat Henry selalu tertawa. Ah, Henry ternyata rindu.

 

“Gege, apa hari ini kita tidak belajar musik? Teman-teman choir sudah bersiap tapi gege masih didalam gereja.” Shen Ming menyadarkan Henry dari kenangan-kenangan indahnya tersebut. Mencoba terlihat tegar, Henry memberikan senyumannya walau tidak alami.

 

“Baiklah aku akan segera keluar menyusul kalian. Kau kembali saja—Gege ingin berdoa sebentar.” Jawabnya. Shen Ming mengangguk mengerti, ia pun segera berlari keluar gereja. Henry sendiri lagi didalam gereja yang sunyi dan gelap tersebut. Ia mulai berdoa—melipatkan kedua telapak tangannya, menutup kedua matanya, dan fokus dalam doa sucinya. ‘Semoga ia bahagia disurga.’

 

.

.

.

 

Sudah sedikit semangat Henry untuk mengajar belasan anak yatim-piatu tersebut, namun sebuah mobil audi hitam mewah terparkir dengan seenaknya didepan halaman gereja. Mobil itu memang tidak mengganggu lahan mengajar Henry, tapi melihat semua anak didiknya mendekati mobil itu dan membuat mereka mengabaikan sekolah musiknya—membuat Henry menjadi terganggu.

 

“Hei!! Kemarilah, katanya ingin belajar musik!” seru Henry.

 

“Gege saja yang kemari! Lihatlah mobil ini keren kan’?!” balas Shen Ming yang dianutkan semua rekan-rekannya.

 

Henry berdercak kesal. Malah membuatnya jadi teringat kembali dengan Yesung.’Andai masih ada kau ge, aku tidak akan repot seperti ini.’ Benaknya. Tak ingin terlarut kembali dengan kenangan tentang Yesung, Henry memilih pasrah mendekati semua anak didiknya.

 

“Semuanya ayolah kita kembali belajar. Kita harus banyak latihan untuk acara natal.” Ujar Henry mencoba membujuk Shen Ming dan kawan-kawannya. Tak ada gubrisan, belasan anak kecil itu masih saja terpukau dengan mobil mewah yang memang jarang sekali melintas didaerah itu.

 

“Ah! Kalian!” kesal Henry karena tak seorang pun menggubris ucapannya.”Ya sudahlah, gege pulang saja.” Tambahnya yang memutuskan untuk meliburkan sekolah musik hari ini.

 

“Pulang kemana? Mau ku antar?” tanya seseorang yang seperti terdengar dari arah belakangnya. Henry pun membalikan badan—melihat sosok asing yang sama sekali belum pernah ia kenal. Tinggi semampai, berkemeja rapih, dan kaca mata hitam yang mengesankan bahwa pria itu kaum urban dari perkotaan.

 

“Siapa kau?”

 

“Aku pemilik mobil itu. Sepertinya kau tertarik? Mau naik bersama ku?” tanya pria itu mengajak. Oh dari bahasanya Henry bisa menebak kalau pria yang sedang berjalan menuju arahnya adalah tipe pria yang memiliki kepercayaan diri cukup tinggi.

 

“Aku tanya kau siapa?” Henry mengulang pertanyaanya. Pria itu tersenyum ramah, mencoba ramah maksudnya,”Aku Zhoumi.” Jawabnya.

 

Zhoumi. Nama asing yang belum pernah Henry dengar.

 

Tak ingin membuat suasana menjadi dingin, Zhoumi beralih menuju bagasinya—mengambil sebuah koper besar dan satu kantung pelastik besar yang kemudian ia berikan pada Shen Ming.

 

“Waw! Banyak sekali permennya!!”

 

“Itu untuk kalian semua! Salam kenal ya!” ujar Zhoumi. Semua anak-anak yang senang dengan hadiah dari Zhoumi segera memberikan ucapan terimakasih padanya.

 

“Kau juga mau?” Zhoumi menyodorkan satu buah permen pelangi yang masih terbungkus rapi. Henry tak mau menerima—entahlah, ia tak begitu suka dengan pria yang sok kenal dengannya.

 

“Ayolah permen ini manis. Seperti kau.” Godanya yang semakin membuat Henry tak tahan untuk meninggalkan tempat itu. Ingin berjalan, tapi telapak tangan Zhoumi sudah mencegah pundaknya terlebih dahulu,”Hey! Jangan takut seperti itu. Aku hanya ingin kita berteman saja. Bagaimana?” ujarnya.

 

‘Berteman?’

 

“Aku seorang photographer yang sedang bertugas mencari foto untuk launching sebuah majalah terbaru, untuk beberapa minggu akan tinggal disini—aku akan menginap di panti asuhan untuk sementara waktu.”Zhoumi menjelaskan kedatangannya. Perlahan Henry merasa tenang, toh sepertinya Zhoumi orang yang baik.

 

“Ya sudah. Semoga kau betah di sini.” Itu saja balasan Henry, ia berjalan kembali menuju pintu halaman gereja, tapi lagi-lagi tangan itu mencegah langkahnya.”Lalu bagaimana? Kau mau jadi temanku kan’?” tanya Zhoumi.

 

Henry terdiam. Bukan pertanyaan sulit baginya, tapi pertanyaan itu membuat Henry teringat akan sebuah kenangan yang tak akan pernah Henry lupa. Kenangan saat pertama Henry berkenalan dengan, Yesung.

 

‘Apa kau tersesat? Kau anak baru? apa kau penghuni baru?’

 

Henry ketakutan luar biasa waktu itu. Melihat kedatangan Yesung dan segerombolan anak panti asuhan yang menyerbunya didepan gereja. Ia menggeleng.’Lalu kau siapa?’ tanya Yesung lagi.

 

Dengan memberanikan diri Henry mencoba mempercayai Yesung,’Aku baru tinggal dikawasan ini. Aku mencari sebuah gereja lalu mendengar suara lonceng, jadi aku kesini…tapi sepertinya aku lupa jalan pulang.’

 

‘Ah. Kita dapat teman baru! ayo kita bantu dia untuk pulang.’ Ujar Yesung waktu itu—dan ia bersama anak-anak panti asuhan memberikan bantuannya pada Henry agar bisa kembali pulang kerumah.

 

‘Terima kasih sudah membantu. Kalian sangat baik!’

 

‘Lalu bagaimana, kita jadi teman kan’?’

 

Henry mengangguk,’Tentu. Kita bisa berteman!.’

 

Kenangan yang membuatnya hampir menangis. Henry membalas salaman tangan Zhoumi,”Tentu. Kita bisa berteman.” Jawabnya lirih.

 

.

.

.

TBC

Advertisements

Responses

  1. zhoury met ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: