Posted by: blackcloudies | February 8, 2013

[FF] The Lucky Day (Oneshot)

 

390144_123247621126649_100003242357775_121692_957943866_n

 

Title : The Lucky Day

Author : Dweerae

Main cast : Hangeng/Heechul

Genre : Romance, Boys love

Rated : T

Length : Oneshot

Disclaimer : Hangeng is belong to Heechul, lol. This fic is mine.

Summary : -molla

—–

 

Kedua anak laki-laki kecil itu sedang serius mengambil beberapa barang-barang yang memang betul di sebut dengan sampah pada sebuah tumpukan menggunung tersebut. Itu merupakan keseharian Hangeng dan Heechul selepas mereka berdua pulang dari sekolah. Mugkin karna sudah terbiasa, jadi mereka tak pernah mengeluh tentang hal itu. Toh, mereka berdua juga sadar jika nasib keluarga mereka memang seperti itu.

 

‘Setidaknya masih bisa hidup’ ucapan Heechul yang selalu membuat Hangeng bermotivasi bekerja memulungnya—demi mencari beberapa lembar uang untuk membayar biaya sekolah dasarnya.

 

Tapi, umur mereka masih terlalu dini untuk melakukan pekerjaan tersebut. Di tambah dengan lingkup sosial yang terkadang membuat dirinya iri dengan perbedaan strata yang mencolok tesebut. Terlebih beberapa olok-olokan para teman di sekolahnya yang terkesan menghina dan merendahkan.

 

“Akh!! Aku benci jadi miskin.” Hangeng melemparkan karung berwarna hitamnya kedasar tanah, lalu berjalan penuh amarah menuju sebuah pohon untuk berteduh sebentar. Cuaca di sekitar tempat itu memang agak panas karna musim kemarau sudah memasuki bulannya.

 

“Han…” Heechul menghela nafas sebentar, lalu berjalan mendekati sahabat karibnya tersebut. Hangeng tak hiraukan, ia hanya duduk dengan menyenderkan punggungnya pada pohon itu—menutup kedua mata-nya dan berpura-pura tak melihat sampah yang berada di sekitarnya, walau wangi kurang sedap itu memang tak bisa di elakan.

 

Heechul belum bisa mengucapkan sepatah kata apapun, ia hanya ikut duduk diam dengan memperhatikan Hangeng dengan diam.

 

“Jangan hanya melihatku dengan seperti itu Hee!” ujar Hangeng tiba-tiba, kemudian membuka mata sipitnya dan membalas pandangan Heechul,”…Ayo, ceramahi aku. Bilang kalau aku tak boleh seperti ini, tak boleh seperti itu,…kalau aku harus prihatin, kalau aku harus terima nasib. Ayo ucapkan seperti itu.” Tambah Hangeng seakan tahu apa yang akan Heechul ucapkan padanya.

 

Sebuah senyumah datar memberkas di bibir Heechul, kemudian ia menunduk—tidak seperti biasanya,”Jujur, aku juga lelah kalau harus hidup seperti ini Han.” Ucapnya dengan nada agak melemah.

 

“Hn? Kenapa? Tumben.” Tanya Hangeng.

 

Entah sejak kapan, tapi kedua mata Heechul sudah membasah dan beberapa dari mereka sudah terjatuh seperti tangisan. Heechul tetap menunduk, mungkin malu menunjukan wajah sedihnya pada Hangeng.

 

“Heechul-ah, kau me-menangis?” tanya Hangeng agak ragu, malah ia tak berani menyentuh Heechul untuk saat ini. Heechul menggeleng,”Uhk…” ia menyeka air matanya, lalu memaksanya senyuman,”…Aku tidak menangis Han, aku hanya lelah.” Jawabnya kemudian.

 

“Aku lelah pada Tuhan, aku lelah menunggu nasibku berubah menjadi lebih baik. Aku ingin seperti anak yang lainnya, bisa bermain, bisa memakan masakan enak, bisa memakai baju yang bagus…bisa,” air mata Heechul kembali berlinang. Ia tak kuasa untuk melanjutkan semua harapan dan doa-nya selama ini. Heechul hanya bisa melanjutkan kesedihan itu.

 

Kemarau tak selamanya kemarau. Kemarau tak hanya panas. Tetesan air gerimis perlahan turun membasahi sekitar area tersebut. Seakan mensenadakan air mata Heechul, air gerimis yang turun terasa sangat dingin—seperti perasaan Heechul sekarang.

 

Dan hujan mengubah gerimis tersebut.

Telapak kanan Hangeng ia tadahkan ketengah hujan, dari tangan kecilnya tersebut buliran air hujan tertampung seperti berada di kolam kecil.”Aku, di masa depanku harus hidup sangat berbeda dari sekarang. Aku ingin kaya, aku ingin menjadi terkenal dan tampan. Aku akan menjadi pria hebat.” Ujarnya berharap, lalu memperhatikan Heechul yang masih bermuram sedih. Dan dengan jahil Hangeng menyiramkan semua air yang berada di telapak tangannya tersebut dan membuat bagian kepala Heechul menjadi basah.

 

Heechul tertawa kecil, tak lupa juga membalas dendan dengan menarik Hangeng ke tengah-tengah hujan. Bercanda berdua di sana, walau kotor dan berantakan, keduanya senang bisa bercanda seperti itu. Sungguh akan menjadi kenangan yang indah suatu hari nanti.

 

.

.

.

.

.

15 years later.

 

Kedua mata Heechul sudah ingin cepat untuk tertutup, tetapi perjalanan menuju apartment kecilnya membuatnya memaksakan kehendak itu sebelum dirinya memang sudah berada di atas tempat tidur.

 

“Sial!!” keluhnya di lorong tangga yang hampir sampai menuju lantai tempat ia tinggal—seorang diri.

 

“Oh God!! Why is my life always unlucky??!!” keluhnya untuk kedua kali. Tidak, mungkin keluhan itu sudah yang kesekian kalinya untuk hari ini. Setelah beberapa kejadian buruk yang menimpanya sedari pagi.”Sucks!”

 

“Sucks…” nada suaranya menjadi melemah, kantuknya menjadi hilang dan kini berubah menjadi sebuah kesedihan yang terlihat dari buliran air di kedua matanya. Heechul duduk di anak tangga tersebut dan membaringkan kepalanya di pinggir pegangan tangga. Beberapa memori yang membuatnya kesal hari ini terekam kembali. Mulai dari keterlambatannya masuk kerja, bermasalah dengan salah satu pengunjung di kafe tempatnya mencari nafkah, mendapat teguran dari atasan, hingga yang baru saja terjadi…lift apartment mati dan membuatnya harus menaiki tangga hingga lantai ke tiga belas.

 

“God, until now I still believe that one day…I’ll get my lucky days.” Lirihnya dengan senyuman,”…Aku akan menunggu hari itu.”

 

.

.

.

New morning.

 

Sebuket mawar putih mencegah Heechul untuk meninggalkan apartmentnya begitu saja, apalagi mawar-mawar nan segar itu terlihat misterius karena berada tepat di depan pintu luar apartment dengan tanpa nama pengirim, hanya ada sebuah amplop berisi selembar kertas yang asing bagi dirinya.”Wild Cursive?” bacanya pada tulisan yang tercentang di permukaan kertas tadi. Heechul menaruh buket mawar putih itu kedalam vas bunga di dalam ruangannya, kemudian bergegas menuju tempat kerja karna ia tak ingin terlambat lagi seperti kemarin pagi.

 

Buket mawar putih yang lain membuat Heechul tercengang sesaat. Hampir sama seperti yang ia lihat tadi pagi, buket mawar kali ini hanya menyertakan sebuah amplop dengan isi lembaran kertas bertuliskan ‘Wild Cursive’ saja. Heechul menaruh buket itu di atas meja bar yang berada di dalam kafe tempatnya bekerja. Sambil terus menerka-nerka siapakah si pengirim buket itu.

 

“Ahh, Jongwoon aku tahu ini darimu kan??” tebak Heechul yang memperhatikan Jongwoon—rekan kerjanya yang perlahan datang mendekati Heechul.”What? dariku apa?” Jongwoon yang tak mengerti hanya bisa menautkan kedua alis matanya.

 

“These flowers…” Heechul menujuk kearah buket tersebut,”…I know all these are from you right? Tsk. You think today is valentine day uh?!” terka Heechul yang malah di balas dengan tawaan dari Jongwoon.“Hah!! Hyeong… lebih baik aku menghabiskan uang untuk membeli makan peliharannku, dari pada membeli semua bunga-bunga itu untukmu! Tsk.” Jawabnya yang membuat Heechul kembali menjadi penasaran.

 

“Entahlah. Ini seperti sebuah kejutan manis untukku.” Ucap Heechul.

 

“Sweet surprises from sweet person, I guess?” tanya Jongwoon dengan curiga.

 

Heechul mengangguk mengiyakan,”Maybe…” ucapnya dengan senyuman senang. Ia kembali mengambil kertas yang bertuliskan ‘Wild Cursive’ tersebut dan membacanya berulang-ulang.

 

.

.

.

 

Sebuah limusin hitam yang terparkir di depan kafe membuat Heechul dan Jongwoon yang setadinya ingin segera pulang karna jam kerja mereka berakhir menjadi terganggu. Pria gagah dengan toxedo hitam yang rapi keluar dari pintu kemudi limusin, lalu berjalan mendekati Heechul dan Jongwoon.

 

“A-apa anda mau ke kafe? Tapi maaf, kafe kami sudah tutup tuan.” Ujar Jongwoon. Pria itu tidak menghiraukan, ia berpaling memperhatikan Heechul,”Anda Kim Heechul-sshi?” tanya pria itu. Heechul menunjuk dirinya sendiri,”Me?” tanyanya terkejut. Di lanjutkan dengan anggukan seakan menjawab pertanyaan singkat barusan.”Ya, aku Kim Heechul.”

 

Pria tadi menganggukan kepalanya sekali,”Heechul-sshi. Seseorang ingin bertemu denganmu, Dia menyuruhku untuk menjemputmu dan mengantarkanmu kepadanya.” Ujarnya.

 

Takut. Itu adalah kesan pertama yang Heechul rasakan saat tahu niat pria yang tidak ia kenalnya mengajaknya untuk bertemu seseorang. Heechul memundurkan tubuhnya ke belakang Jongwoon,”Si-siapa yang menyuruhmu?! Kenapa bukan dia sendiri yang bertemu denganku?!” tanyanya menyelidiki.

 

Pria itu menganggukan kepalanya sekali lagi sebelum menjawab,”Karna dia tidak bisa bertemu denganmu di tempat ini.” Membuat perlahan benak Heechul mengerti siapa yang di maksud dengan pria barusan.

 

“Apa…Hangeng?”

 

Pria itu kembali mengangguk.

 

Dengan keteguhan hati dan alasan-alasan yang masih belum di mengerti Heechul, ia akhirnya memberanikan diri untuk mengikuti permintaan pria tadi. Bertemu dengan Hangeng. Ya, sahabat lamanya yang sudah beberapa tahun tak berjumpa karna memutuskan untuk kembali tinggal di negara asalnya, China. Dan kini pria itu kembali, dengan awal pertemuan kembali mereka yang di kemas penuh kejutan istimewa.

 

Masih dengan mawar putih, Heechul takjub melihat isi dalam limusin yang juga di penuhi oleh mawar-mawar putih nan cantik tersebut.’God…Han, kejutan apa yang ingin kau tunjukan padaku lagi?!’ tanyanya dalam hati.

 

.

.

.

 

Tulisan ‘Wild Cursive’ terpampang di sebuah pintu masuk stadium indoor tempat dimana Heechul berdiri sekarang.

 

“Wild Cursive?!” Heechul langsung mengambil dua kertas yang tersimpan di sakunya, lalu membaca ulang tulisan yang berada di dalamnya.

 

Benak Heechul masih banyak pertanyaan yang belum bisa terjawabkan, namun sebuah pintu besar yang terbuka tak jauh dari tempatnya berdiri membuat Heechul semakin penasaran. Mungkin di dalam sana Ia akan mendapatkan semua jawabannya.

 

Sebuah stadium indoor. Langkah demi langkah ia telusuri, perlahan dengan diam dan jantung yang berdegup kencang—Heechul memasuki kedalam suasana yang terkesan gelap dan sepi tersebut.

“Kau lama sekali?” suara asing menghentikan langkah kakinya. Heechul segera berbalik arah, mencari sumber suara tersebut. Senyumannya terlihat lagi kini, ketika ia melihat kesebuah deretan bangku pertunjukan yang tengah diduduki oleh seseorang yang memiliki suara lembut tadi.

 

“Kau? Hangeng?” tanya Heechul yang sedikit kurang percaya dengan siapa yang dilihatnya kini. Sungguh sosok yang bebeda dari yang dulu pernah dikenalnya.

 

“Ah, ayolah…kau tidak rindu padaku?!” tanya Hangeng lagi. Heechul menunduk sebentar, sebelum dirinya berjalan pelan mendekati pria yang kini sudah sangat sukses seperti harapannya di kala dulu. Heechul duduk di samping Hangeng—tatapannya masih tak lepas dari pria china tersebut.”Ya. aku merindukanmu, banyak.” Jawabnya pelan.

 

“Sungguh?”

 

Heechul mengangguk beberapa kali sebelum dirinya berbalas tanya,”Kau sendiri apa rindu padaku? Seberapa banyak?”

 

“Sebanyak-banyaknya…” Hangeng menoleh kearah lain, lalu mengambil sebuah buket bunga mawar merah dan memberikannya langsung kepada Heechul,”Sebanyak bunga yang ku beri hari ini padamu. Sebanyak tiket konserku yang semuanya ku berikan padamu.” Jawabnya menambahkan.

 

Mimik wajah Heechul berubah menjadi terkejut,”What the?! Ja-jadi sebenernya kertas bertuliskan Wild Cursive itu adalah tiket konser?! La-lalu di mana konsernya?!” tanyanya. Hangeng mengangguk,”Ya disini. Di ruangan besar ini.” Jawab Hangeng.

 

“Then your fans?” tanya Heechul lagi sembari memandangi seluruh area yang sangat sepi tersebut. Hangeng tersenyum kecil, dan hampir membuat Heechul terkejut—ia mengusap lembut rambut hitam Heechul,”Kau penontonku. Semua kursi ini atas namamu…”

 

“…Because I want to show my success to you.”

 

Heechul menarik tangan Hangeng dari kepalanya,”Maksudmu kau ingin pamer?” tanya Heechul pelan. Hangeng menggeleng,”Bukan pamer. Aku hanya ingin…membagi semua ini padamu.” Heechul membuang muka, menatap kejauh panggung yang seharusnya di isi Hangeng untuk perform.”Membagi? dalam hal apa?” tanyanya lagi.

 

Hangeng meraih telapak tangan kanan Heechul, menggegammnya dengan lembut,”Membagi kisah hidupku, membagi kebahagiaanku, membagi hal yang kumiliki tapi tidak kau punya.” Jawabnya dengan tatapan serius. Sebuah benda agak kecil terasa di permukaan telapak tangannya yang sedang di genggam oleh Hangeng kini. Ia melihatnya, dan itu sebuah cincin. Cincin putih sederhana.

 

“Menikahlah denganku. Hidupku belum sempurna jika kau belum menjadi milikku Hee…”

 

Heechul memperhatikan cincin yang belum terpasang di jarinya tersebut, tetapi sebuah senyuman cantik setidaknya membuat Hangeng senang.”So, today is my lucky day?” lirihnya.

 

Hangeng mengecup kening Heechul sekali,”Ketika cincin itu berada di jari manismu, hari-hari berikutnya akan menjadi beruntung.” Mereka berdua tertawa kecil.

 

“Aku, akan mempercayai itu Han.” Hangeng memasangkan cincin tadi kejari manis Heechul,”Biarkan aku berjanji hal itu padamu.”I’ll make your life lucky!”

 

—–

The End

[20130208]

 

 

 

 

 

Advertisements

Responses

  1. Yes…yes…Ada HanChul lagi….
    .
    Cerita yg bagus, soft, ringan, mudah di cerna…. Jadi gak perlu ribet2 mikirnya…. Hehehe
    thanks bgt yach… Req HanChul lg dun… Hehehe maunya…ok thanks y

    • kkkkk~ XD thanks back to you~~

  2. *jump* so cute and romantic
    Han sekarang sukses tp terasa tak lengkap tanpa hee disampingnya. Han

    • becoz hanchul are belong to each other ❤

  3. romantis suka deh happy ending hanchul

    • ghamsa ❤
      berharap di dunia nyata mereka juga seperti itu kkk~~


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: