Posted by: blackcloudies | October 4, 2012

[FF] Chaptered – My Korean Namja – (Hanchul!yaoi) – 4 end

Title : My Korean Namja

Cast : Hangeng/Heechul!main, break!Hangeng/Henry, slight!Jungsoo/Heechul, Zhoumi, Sungmin, Jongwoon.

Author : DweeRae

Genre : YAOI/OOC/Angst/Romance/MPREG

Rating : PG17

Length : Chaptered

Language : Bahasa as global

Setting : 80’s Era

 

Warning : YAOI — MPREG — Tissue cleanex :<

Disclaimer : The fic is mine.

December 1983.

 

Udara dingin seoul terasa di penjuru kota. Heechul menyalakan api di atas sebuah lilin yang menghiasi sebuah cake ulang tahun kecil. Ia duduk berdua –berhadapan dengan keluarga satu-satunya yang ia milikki. Hari hampir tengah malam, besok sudah memasuki tahun yang baru.

 

“Besok ulang tahunmu Min, kau mau doa apa?” tanya Heechul pada adiknya, Lee Sungmin. Pria yang berpaut tiga tahun dari umur Heechul tersebut menerjamkan kedua matanya –melipat kedua tangan dan berdoa.

 

“Aku berharap, Hyung tidak akan pergi lagi dariku. Karna, aku hanya memiliki Hyung seorang saja. Dan, semoga Ayah-Ibu kembali pulang bersama kita. Amin.” Harapnya.

 

“Amin.” Heechul menambahi.

 

Bunyi kembang api memberisikan kota Seoul. Tahun yang baru ternyata sudah tiba.

 

Sungmin meniupkan api yang berada di lilin tadi, lalu segera mengambil sebuah pisau plastik yang berada di pinggir cake. Ia memotong satu potongan kue, lalu menaruhnya keatas piring kecil dan memberikannya kepada Heechul.

 

“Untukmu Hyung.” Ujar Sungmin memberikan potongan kue pertama pada Kakaknya tersebut. Heechul menerima, dan langsung memakan sesendok kue tadi.

 

“Wah, enak sekali.” Ucap Sungmin senang yang juga merasakan betapa lezatnya kue ulang tahun yang di belikan Heechul padanya sebagai hadiah.

 

Berbeda dengan Sungmin, Heechul malah merasa mual. Padahal baru satu gigitan, tapi perutnya seakan tak mau menampung makanan lagi. Heechul langsung berdiri dan berjalan agak cepat menuju kamar mandi. Ia memuntahkan banyak air.

 

“Hyung? Kau kenapa?” tanya Sungmin yang menghampirinya. Heechul terlihat tidak sehat, keringat basah menjatuhi pelipisnya.

 

“Entahlah Min, Hyung rasanya sangat mual.” Jawab Heechul sebisanya, tangan kirinya meraba perutnya sendiri. Heechul menduga sesuatu.

 

“Hyung, ayo kita ke dokter. Aku takut kau kenapa-kenapa?” bujuk Sungmin. Tapi Heechul tak mengiraukan ucapan adiknya tersebut.

 

Heechul berjalan pelan menuju kamarnya, lalu mengunci pintu. Ia, tak ingin di ganggu. Heechul menangis dalam diam. Ia merasa buruk. Hari ini adalah ulang tahun Sungmin, tapi Heechul malah mengurung diri di kamar.”Maaf Min.” Lirih Heechul. Benak nya kembali teringat dengan sosok seseorang yang pernah ia kenal sebulan lalu di seberang negara yang berbeda. Heechul kembali meraba perutnya untuk menghilangkan rasa mual. Di dalamnya ada sebuah nyawa yang masih sangat suci.

 

‘Han…’

 

= = = = =

 

Eight months later.

August.

 

Seorang pria memasuki sebuah ruangan rawat inap di mana Heechul berada di dalamnya, sedang di atas ranjang dengan seorang bayi mungil yang baru saja terlahir di dunia ini.

 

“Dokter bilang bayi kita terlahir normal. Tidak prematur.” Ucapnya seraya mendekati Heechul. Wajah pria itu sangat serius, kemudian tertawa kecil dengan raut kesal,”Maksudku. Bayi mu terlahir dengan normal, tidak prematur.” Ucapnya lagi.

 

Fokus Heechul pada bayinya beralih kearah sosok pria yang berujar tadi,”Maksudmu apa, Jungsoo?” tanya Heechul pada Jungsoo, pria itu.

 

Jungsoo memandangi Heechul dengan tatapan penuh curiga,”Kita menikah baru tujuh bulan, rasanya aneh saat bayimu lahir bulan ini dan dokter bilang itu—bukan prematur.” Ujar Jungsoo. Heechul membuang muka pada pasangan hidupnya tersebut, lalu memperhatikan kembali bayi mungil bermata sipit yang berada di dekapannya.

 

“Jawab aku, Chullie. Kau sudah hamil terlebih dulu kan’? sebelum menikah denganku?” tanya Jungsoo tiba-tiba, ia meraih dagu Heechul,”Siapa ayah dari bayi itu? Kumohon jawablah.” tanya Jungsoo lagi. Mereka bertatapan sangat dalam. Ada sebuah rasa bersalah di diri Heechul, ia pun menceritakan segalanya. Semuanya. Pertemuannya dengan Hangeng, hingga keajaiban seorang bayi suci yang baru saja terlahir tersebut.

 

.

.

.

.

.

 

2012

28 years later

 

Bayi bermata sipit itu kini berumur dua puluh sembilan tahun. Umur aslinya dua puluh delapan, tapi di korea, umur di hitung dari mulai ia berada di kandungan. Dan kini dia telah dewasa, menjadi pria yang sehat dan mandiri. Heechul memberi nama anak itu, Jongwoon.

 

“Appa…” suara Jongwoon terdengar di antara hembusan semilir angin di sore hari cerah tersebut. Heechul yang tadinya duduk di pangku panjang belakang rumah, segera berdiri dan mendekati asal suara yang memanggilnya.

 

“Jongwoon-ah? Kapan kau pulang?” tanya Heechul dengan perasaan yang berbaur menjadi satu antara senang, terkejut, dan lega. Jongwoon belum menjawab, ia memeluki tubuh Heechul dengan kerinduan. Lima tahun melanjutkan S2 di Kanada, membuatnya sangat rindu rumah—terutama sang ayah, Heechul.

 

“Aku pulang lebih awal. Karna besok hari chuseok. Aku ingin berkumpul dengan kalian lagi.” ujar Jongwoon. Kemudian ia mengajak Heechul kedalam rumah besar mereka,di sana ada Jungsoo yang sedari tadi memperhatikan pertemuan kembali Ayah-anak tersebut.

 

Jungsoo sadar, Jongwoon bukanlah putra kandungnya. Tapi rasa cintanya pada Heechul yang luar biasa, membuatnya rela dan ikhlas menjadikan Jongwoon sebagai putra kandung. Mereka bertiga menjadi sebuah keluarga kecil yang hangat.

 

“Untuk kalian berdua.” Jongwoon memberikan dua handbag yang masing-masing ia berikan untuk Heechul dan Jungsoo. Dua buah mantel hangat yang sama, warnanya pun juga sama.

 

“Musim dingin sudah lewat Woonie, untuk apa memberikan mantel?” tanya Heechul. Jongwoon belum menjawab tapi Jungsoo sudah sedikit membelanya,”Tidak apa Hee, ini kan bisa berguna saat musim dingin nanti.” Ujarnya. Jongwoon mengangguk.

 

“Sebenarnya…” Jongwoon menghela nafas sekali,”…Aku ingin mengajak kalian berdua ke kanada.” Tambah Jongwoon.

 

“Ke kanada?” tanya Heechul terkejut. Jongwoon mengangguk,”Kalian tahu aku sangat suka dengan negara itu, bahkan aku dapat kesempatan berkulian di sana. Aku—juga ingin mengajak orang-orang yang ku sayangi ke negara itu, kanada.” Jawab Jongwoon.

 

Jungsoo berfikir sebentar lalu akhirnya mau menerima ajakan dari Jongwoon tersebut,”Baiklah, Appa akan memakai mantel ini di kanada nanti.” Ucapnya.”Tapi…” sela Heechul,”…Rasanya canggung kalau harus pergi ke negara lain.” Tambah Heechul dengan raut lesu. Heechul tidak pernah keluar negeri lagi selama dua puluh sembilan tahun terakhir. Heechul tidak mau, ada perasaan sesak kalau harus meninggalkan korea. Lagi.

 

“Ayolah Appa, kita akan pergi bertiga.” Bujuk Jongwoon dengan senyuman. Heechul masih teguh tidak ingin ikut. Jongwoon pun mencari banyak alasan yang menarik agar Heechul mau mengikuti rencana liburannya,”Nanti kita akan ke Toronto, di sana tempat aku tinggal sementara. Di sana sangat indah dan menakjubkan, Appa pasti akan sangat senang.” Ujar Jongwoon. Tidak sekali, berkali-kali Jongwoon memuja-muja pemandangan alam Kanada yang berbeda dari Korea. Dan.”Ya baiklah.” Heechul pun pasrah.

 

= = = = =

 

Toronto, Kanada.

 

Jongwoon, Heechul dan Jungsoo sudah tiba di kota itu. Mereka menuju sebuah kawasan perumahan sederhana yang asri. Rumah bernomerkan tiga belas. Mereka bertiga berdiri di depan pintu rumah tersebut.

 

“Selama berkuliah, aku tinggal di rumah ini. Mereka keluarga yang baik.” Ujar Jongwoon. Telapak tangannya mengusap lembut dinding pintu tersebut.’Maaf…kalian bertemu kembali.’ Tambahnya dalam hati- sesak.

 

Tak lama, pintu rumah di buka oleh seseorang yang berada di dalamnya.”Jongwoon?? kau kembali?”ujar pria itu.

 

Jongwoon tersenyum,”Apa kabar Tuan Lau.” Balasnya.

 

.

.

.

 

“Aku Henry Lau.” Sang pemilik rumah mengenalkan dirinya pada Heechul dan Jungsoo. Mereka berempat bersama Jongwoon sudah duduk santai di ruang tengah rumah tersebut.

 

“Aku dengar, selama di kanada. Jongwoon tinggal bersama keluarga yang baik hati, itu kau?” tanya Jungsoo mencoba akrab. Henry mengangguk,”Ya. Aku dan suami ku sudah menganggap Jongwoon seperti anak kami sendiri, kebetulan kita satu asia. Jadi bisa lebih mudah beradaptasi.” Jawab Henry.

 

Heechul tersenyum,”Benar. Walau berbeda negara, tapi masih satu rumpun asia, kita bisa dengan cepat beradaptasi—malah melihatmu, rasanya aku pernah melihat dirimu sebelumnya.” Ujar Heechul. Mereka bertiga tertawa kecil, berbeda dengan Jongwoon yang sedari tadi mencari-cari seseorang yang ingin ia temui di rumah tersebut.

 

“Dimana Tuan Tan? Aku tidak melihatnya sejak tadi.” Pertanyaan Jongwoon belum sempat terjawab ketika sosok yang di carinya datang menuruni tangga.”Jongwoon?” sapanya.

 

Jongwoon segera berdiri dari duduknya, lalu berjalan cepat menuju pria yang menyapanya.”Aku—“ Jongwoon menarik lengan Tuan Tan dan mengajaknya untuk mendekati ruang tengah,”Aku kemari, bersama kedua orang tuaku.”

 

Langkah kaki Hangeng berubah menjadi kaku dan tak kuasa lagi bergerak.”Heechullie?” suara nya masih sama seperti dulu. Suara lembut dari seseorang yang pernah mengisi hati Heechul. Dan suara itu kini memanggilnya.

 

“Han…”

 

.

.

.

 

Kanada memang benar dingin. Mungkin itu juga alasan Jongwoon memberikan mantel untuk kedua orang tuanya. Heechul pun terasa hangat karna mantel tersebut.

 

“Jongwoon—putramu Han.” ucap Heechul seraya berjalan mendekati Hangeng yang sedang berdiri di samping pohon besar di belakang perkarangan rumahnya. Hangeng menoleh, lalu memperhatikan wajah Heechul yang masih terlihat tampan dan cantik seperti dulu.

 

“Aku sudah tahu.” Jawab Hangeng berlirih. Ia dan Heechul berdiri bersampingan, tapi pandangan keduanya memperhatikan kedepan-kehamparan luas rerumput hijau.

 

Hangeng pun mulai bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan Jongwoon,”Aku terkejut. Lima tahun lalu, seorang pria muda berdiri di tengah jalan dan memaksaku menghentikan mobil yang sedang ku kendarai. Aku keluar dan memarahinya, ternyata dia dari korea. Dia, Jongwoon. Kedua matanya hampir menangis, di saat seperti itu aku serasa melihat Kim Heechul, melihat dirmu lagi.” ujar Hangeng.

 

Langkah kaki lain mendekati Hangeng dan Heechul, ia berhenti beberapa jarak dari keduanya karna tak ingin mengganggu. Hangeng bercerita kembali, ia tersenyum,”Kata pertama yang di ucapkan Jongwoon waktu itu…’Aku—putra dari seorang pria yang pernah kau beli seharga tiga belas juta yen’ –Jongwoon benar-benar membuatku hilang akal waktu itu karna, mendengar kalimat tadi membuatku langsung mengerti. Dia putramu. Tapi, kalimat kedua yang di ucapkan Jongwoon, membuatku semakin mengerti apa alasannya dia mencegatku di tengah jalan yang hampir membuatnya mati tertabrak…”

 

“Dia bilang apa?” tanya Heechul penasaran.

 

Hangeng menoleh memperhatikan Heechul dan tersenyum kecil.

“Jongwoon bilang, dia juga putra seorang pria china yang pernah mengeluarkan uang sejumlah tiga belas juta yen demi menyalamatkan hidup seorang pria korea.” Jawab Hangeng.

 

Angin dingin seakan menyayat.

“Aku putra kalian.” Suara dari seseorang yang berdiri di belakang mereka akhirnya terkuak. Jongwoon berjalan lebih dekat lagi.

 

“…M-maaf tindakan aku ini terlalu bodoh. Ak-aku hanya…” tak kuasa. Jongwoon bingung untuk menyelesaikan kalimatnya.

 

“Maafkan Appa Jongwoon…maaf.” ucap Heechul kemudian, namun Hangeng menyahut di antara obrolan yang sedih itu.”Tidak ada yang salah disini. Karna ini semua takdir…jadi—kalian mau menyalahkan takdir?”

 

Air mata Heechul membasahi pipinya dengan kebisuan, namun segera ia seka dengan telapak tangannya. Angin sejuk pun membantu menghapus bekas air mata itu.

 

“Ak-aku sayang kalian…” isak Jongwoon terdengar dari tatapan nanarnya menatap rerumput yang ia injak. Hangeng membelai lembut rambut putranya tersebut.

 

Semua akan berlalu mengikuti takdir. Yang berlalu dahulu biarkan menjadi sebuah cerita kenanagan. Karna fakta…hidup adalah untuk mengikuti takdir.

 

—————

 

“Kau percaya reinkarnasi Han?”

 

“Mungkin…percaya.”

 

 

2113 Masehi

New York City

 

Natal tahun ini terasa lebih dingin dari tahun lalu. Sebuah keluarga merayakan hari berkumpul itu dengan suka cita, di tambah dengan sanak keluarga yang mereka kenal.

 

“Ah, putrimu cantik sekali.” Tuan Aiden memandangi seorang balita berumur lima tahun yang sedang duduk tenang di sebuah karpet dekat pohon natal yang di kelilingi banyak hadiah.

 

“Tsk…dia laki-laki, yah walau terlihat cantik. Namanya Cassey.” Balas Tuan Marcus memperkenalkan putra semata wayangnya pada sepupu jauhnya yang sudah lama tak berjumpa.

 

“Daddy daddy…” seorang anak laki-laki lain berlari mendekati Aiden, lalu memeluk kaki ayahnya tersebut,”Daddy aku ingin hadiah dari santa.” Ucapnya manja. Aiden hanya tertawa kecil sembari mengacak-acak rambut putranya tersebut.

 

“Josh…kau bisa mengambil hadiah natalmu satu. Ambilah di dekat pohon natalnya.” Ujar Marcus yang kebetulan tuan rumah dalam perayaan natal kecil tersebut.

 

“Terimakasih uncle Cho.” Ucap Joshua—putra Aiden, dengan senang hati. Ia pun segera mendekati pohon natal yang terpajang indah tersebut.

 

“Um sepertinya Min sudah siap dengan makan malam kita.” Ajak Marcus pada Aiden, dan mereka berdua pun segera menuju ruang makan yang tak begitu jauh dari ruang tengah tempat pohon natal tersebut.

 

.

.

.

 

“Ini hadiahku.” Joshua memilih sebuah kotak hadiah berwarna merah besar, lalu tersenyum senang.

 

“Eh…” Joshua menaruh kembali hadiah itu lalu memperhatikan seorang anak kecil yang menurutnya terlihat lucu.

 

“Kau Cassey kan? Kau putra dari Uncle Cho kan’? ” tanyanya pelan…ia pun duduk bersila di hadapan Cassey yang sedang menatapinya penuh kebingungan. Umur mereka terpaut tiga tahun, dan itu adalah pertemuan pertama mereka.

 

“Aku Joshua.” Ujar Joshua lagi, Cassey malah tertawa girang.

 

“Hyung!” teriak Cassey lalu tertawa girang lagi, membuat Joshua semakin gemas.

 

“Ah iya kau orang korea…ya sudah panggil aku ‘Hyung’ saja ya.” Ujar Joshua.

 

Hujan salju turun, Cassey memperhatikannya dengan diam. Joshua pun ikut memperhatikan salju yang membasahi perkarangan belakang kediaman Tuan Marcus.

 

Sangat Hangat. Joshua memberikan syal merahnya untuk ia kalungkan keleher Cassey.

 

“Hyung!” ucap lincah Cassey lalu tersenyum gemas layaknya balita lucu yang masih polos.

 

“Cassey…you are my korean namja you know…ke ke ke.”

 

Cassey hanya tertawa lagi, lalu memperhatikan hujan salju yang turun dengan cantik tersebut.

 

———-

The End ?

 

My Korean Namja [2012-06-21]

Advertisements

Responses

  1. wlpn crty agak rmit, tp endingy bgs….

    • thankyu udah RCL 🙂

  2. waaah aq baru baca, chul jd ma teuk ya tp endingx aq suka, akhirx bersama. Thor kpn nulis ff hanchul lg?

    • thankyu ^^
      pengen banget nulis fic hanchul lain tp lagi gak kesampean TvT doainyah (?)

  3. So Sweet… Miss HanChul…
    Mian numpang RCL, lg cari2 ff HanChul eh terdampar disini… Senangnya, HanChul Shiper jg soalnya… Thanks y

    • wah dengan senang hati menampung terdamparnya kamu ke hanchuland saya wkwkwkwkw 😉 I miss hanchul too

  4. […] [ 4 ] […]

  5. O…jadi ceritanya cassey ma josh itu reinkarnya heechul dan hangeng,akhirnya mwreka bisa bersatu juga,keren thor

    • Iya. walau akhirnya mereka gak bisa bersama lagi. tapi di cerita ini ada semacam penghibur sama epilogue reinkarnasi ^^

  6. mian y thor aq cma mo ksih koment ko aku ga ngerasa fealnya y mungkin karna prt hanchulnya kurang panjang thor jadifeelnya hanchul g terasa

    • ne, hm sebenernya part hanchul itu ada banyak di part 1 dan 2 ^^ di part 3 dan 4 lebih ke kehidupan sesudah pertemuan dan perpisahan mereka


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: