Posted by: blackcloudies | October 4, 2012

[FF] Chaptered – My Korean Namja – (Hanchul!yaoi) – 3

Title : My Korean Namja

Cast : Hangeng/Heechul!main, break!Hangeng/Henry, slight!Jungsoo/Heechul, Zhoumi, Sungmin, Jongwoon.

Author : DweeRae

Genre : YAOI/OOC/Angst/Romance/MPREG

Rating : PG17

Length : Chaptered

Language : Bahasa as global

Setting : 80’s Era

 

Warning : YAOI — MPREG — Tissue cleanex :<

Disclaimer : The fic is mine.

“Maaf Heechul, aku hanya khawatir.” Ujar Hangeng setelahnya ia dan Heechul tertawa kecil.

 

———————————————————–

 

Hangeng duduk di kursi makan dengan sebuah hidangan sarapan yang Heechul buatkan untuknya. Sedangkan Heechul sendiri hanya memperhatikan Hangeng dari kursi di seberangnya.

 

“Apa nama makanan ini?” tanya Hangeng yang sedang lahap.

 

“Samgyubsal. Itu makanan khas korea.” Jawab Heechul.

 

“Ku kira korea hanya punya kimchi saja.”

 

Heechul menggeleng,”Tidak. Di negara ku banyak makanan khas, seperti kimbab, ramyeon, jjajjangmyeon, kue beras.” Jawab Heechul.

 

“Wah, aku hanya tahu kimchi. Itu pun tidak pernah memakanya. Lain kali aku harus ke korea.” Ujar Hangeng.

 

“Tidak perlu ke korea, aku bisa membuatkannya.” Jawab Heechul.

 

“Benarkah? Wah…” Hangeng menaruh sendok makannya di samping piring,”Ada untungnya juga kau tinggal di sini untuk sementara waktu, aku jadi bisa makan masakan yang enak.” Tambahnya.

 

“Memangnya kau biasa makan apa?” tanya Heechul.

 

“Nasi goreng. Aku hanya bisa buat nasi goreng, kalau pun lapar. Aku pasti mencari makanan di luar.”

 

Heechul memperhatikan gelas Hangeng yang kosong, ia pun segera berdiri lalu mengambil teko untuk menuangakan air kedalam gelas Hangeng.

 

“Terima kasih…kau sangat baik.” Ucap Hangeng.

 

“Aku selalu bersikap baik pada orang yang memberikan sikap baiknya juga padaku.” Jawab Heechul.

 

= = = = =

 

Pagi berikutnya, Hangeng terburu-buru menuju ke kantor pemerintahan. Padahal cuaca sedang tidak mendukung karna rintikan hujan turun dengan dinginnya.

 

Hangeng berdiri di sebuah halte bus yang kebetulan tak begitu jauh dari apartmentnya.

 

“Hangeng!” seseorang memanggil namanya, dan suara itu terdengar sangat familiar. Hangeng pun menoleh ke sumber suara dimana Heechul sedang berjalan mendekatinya.

 

“Heechul? Kenapa kau keluar?” tanya Hangeng. Mereka sudah berhadapan, Heechul memberikan suatu benda ke tangan Hangeng. Sebuah payung hitam yang terlempit rapi.

 

“Aku takut nanti kau kebasahan karna hujan.” Ujar Heechul. Ia tersenyum dan membuat wajahnya semakin cantik, berbeda seperti pertama kali Hangeng melihat Heechul di klub malam waktu itu.

 

“Terima kasih…tapi,” Hangeng memberikan kembali payung itu,”…Aku lebih takut kalau kau yang kebasahan Heechul.” Ujarnya, Hangeng pun bertanya-tanya mengapa dirinya berkata seperti itu. Tapi itulah yang Hangeng ingin ucapakan pada Heechul.

 

“Han,”

 

Bus yang di tunggu Hangeng sudah datang,”Aku tentara yang kuat. Aku tidak akan jatuh sakit hanya karna hujan, kau—pulanglah Heechul. Tunggu aku di sana, dan—jangan buat aku mencemaskan mu, mengerti?” ujar Hangeng.

 

Heechul mengangguk,”Hati-hati Han…” ucapnya.

 

.

.

.

.

.

 

Sepuluh jam waktu kerja Hangeng usai. Ia segera kembali ke apartmentnya. Hangeng jadi lebih bersemangat sekarang. Entahlah, Hangeng juga bingung mengapa dia jadi lebih bersemangat.

 

“Heechul?” Hangeng segera menyebut nama itu, memastikan si pemilik nama masih berada di dalam ruangan tempat tinggalnya.

 

“Kau sudah pulang Han?” Heechul pun keluar. Ia membawa semangkuk kimchi buatannya. Hangeng belum membuka sepatu dan seragam tentaranya, ia malah menghampiri Heechul.”Itu apa?” tanya Hangeng.

 

“Kimchi. Kau kan ingin merasakan kimchi, makanya aku buatkan untukmu.”

 

Hangeng langsung mencicipi sesendok kimchi lezat tersebut. Baru pertama kali pria china itu merasakan rasa kimchi, rasa yang belum pernah sama sekali ia kenal. Hangeng mengecutkan wajahnya,”Ah, rasanya…unik.” ucapnya. Heechul langsung tertawa kecil melihat wajah Hangeng yang terlihat seperti orang sedang makan garam.

 

“Karna baru pertama kali, jadinya belum terbiasa.” Ucap Heechul yang segera memberi Hangeng segelas air mineral.

 

.

.

.

 

Mereka berdua duduk bersama di sofa. Mereka menyaksikan sebuah acara keluarga dari televisi hitam-putih yang berada di ruang tamu.

Tertawa dan serius, lalu tertawa lagi kemudian serius. Belum ada obrolan di antara kedua pria itu. Mereka hanya menonton acara saja.

 

“Oh ya.” Hangeng teringat sesuatu, ia mengambil sebuah kertas berlipat di dalam saku celananya.

 

“Tadi aku mengunjungi duta besar korea selatan, aku menceritakan masalahmu. Mereka sepertinya ingin membantu, lalu mereka menitipkan tiket ini untukmu.” Ujar Hangeng seraya memberikan kertas tiket tadi kepada Heechul.

 

“Tiket?”

 

“Seminggu lagi Korea selatan akan mengadakan pemilihan umum, beberapa staff kedutaan besar akan kembali ke korea, mereka juga ingin kau ikut bersama kembali ke seoul.” Jelas Hangeng.

 

Heechul ingin menangis. Malah kedua matanya sudah berkaca-kaca. Ia seperti di kelilingi oleh keajaiban. Miracle. Bertemu Hangeng, mengenalnya. Heechul baru sadar kalau Tuhan sudah sangat baik kepadanya.

 

“Hangeng…” Heechul sudah menteskan air matanya,”…Bagaimana caranya aku membalas kebaikanmu.” Heechul semakin menangis.

 

Hangeng menyeka air mata itu, lalu mendekap Heechul di dadanya,”Buatkan aku makanan korea selama kau ada disini, aku—pasti akan senang.” Ujar Hangeng.

 

“Han…”

 

= = = = =

 

Hari-hari berlalu, Hangeng dan Heechul semakin dekat. Pertemanan itu menjadi sangat akrab.

 

“Setelah makan, piring sebaiknya langsung di cuci, jangan di diamkan karna sisa makanan akan kering dan menjadi bau.” Ujar Heechul pada Hangeng yang sedang mencuci piring bekas sarapan mereka berdua. Ya, hari ini Hangeng absen dari militernya. Tanpa alasan yang pasti, pria itu memaksakan diri untuk tetap berada di kediamannya dari pagi hingga malam nanti.

 

Heechul berdiri di samping Hangeng, membantunya untuk mengelapi piring yang sudah di cuci bersih.

 

“Tsk, rumah ini akan berantakan lagi kalau kau pergi Heechul.” Gurau Hangeng.

 

“Seharusnya selama aku ada di sini, kau bisa belajar bagaimana caranya mengurus rumah yang baik dan benar.” Ujar Heechul. Mereka berpandangan –lalu tertawa, saling menertawakan. Dan, diam.

 

“Besok aku akan pergi.” lirih Heechul, kedua matanya masih tak lepas dari pandangan Hangeng.”Aku—pasti akan sangat…merindukanmu.” jawabnya. Tak sadar, mereka berdiri berhadapan , jarak wajah mereka hanya beberapa centimeter saja. Bukan dalam hitungan centi lagi, tapi mili, bibir mereka pun hampir bersentuhan.

 

“Maaf…” Hangeng langsung membuang muka. Jantungnya begitu cepat memompa. Hangeng langsung berupaya menahan diri. Mereka hampir berciuman.

 

.

.

.

 

Beberapa hari ini, dapur di kuasai oleh Heechul. Tapi khusus siang ini, Hangeng-lah yang menjadi kokinya.

 

“Apa sudah matang?” tanya Heechul yang duduk di kursi makan, sedang memperhatikan Hangeng memasak sesuatu. Hangeng menggeleng,”Sebentar lagi.” dan Heechul menunggu kembali dengan sabar.

 

Beberapa menit, sepiring nasi goreng terhidang matang dan sangat lezat. Hangeng memberikan makanan buatannya pada Heechul dan tak lupa segelas air mineral untuk minumnya. Nasi goreng itu terlihat biasa, tapi mempunyai rasa yang sangat,”Wah luar biasa. Kau pandai juga memasak.” Puji Heechul setelah menyantap sesuap nasi goreng.

 

Hangeng ikut duduk di sampingnya, lalu memperhatika Heechul yang sedang lahap,”Mungkin karna dari dulu terbiasa memasak nasi goreng. Jadi lambat laun makanan ku terasa enak.” Ucapnya. Mereka tersenyum.

 

Heechul terlihat sangat menikmati makanan tersebut, sampai beberapa butir nasi yang menempel di sekitar bibirnya ia tak kerasa.

“Nasinya berantakan.” Ucap Hangeng seraya membersihkan butiran nasi goreng tersebut, dengan pelan dan hati-hati.

 

Diam sejenak. Heechul pun menaruh sendoknya. Nasi di bibir Heechul sudah bersih, tapi telapan tangan Hangeng masih menyentuh pipi cantiknya. Mereka bertatapan.

 

Setan apa? Tiba-tiba Hangeng menarik perlahan wajah Heechul agar lebih dekat dengan dirinya. Heechul menutup mata.

 

“Em,maafkan aku.” Hangeng melepaskan tangannya dari wajah Heechul, dan pria cantik di sampingnya membuka mata kembali. Ia tersenyum.

 

“Kau tahu Han…” ucap Heechul dengan memperhatikan kembali nasi goreng di atas mejanya.”…Saat kau menawarku malam itu. Aku melihat wajah mu yang serius. Lalu seseorang menawar dengan harga lebih tinggi dari yang kau tawarkan, dan kau—kembali menawarku lagi. Entah kenapa, aku merasa kau pria yang berbeda dari semua pria yang menawarku waktu itu.” Tambah Heechul, menuangakan isi hatinya.

 

Pria korea itu kembali bercerita.”Hari itu bahu ku sangat sakit, aku menahan tangis. Tapi…” Heechul tersenyum kecil,”Saat kau mulai mengajakku kerumahmu. Kau, Hangeng…menggenggam tanganku sambil berjalan bersama, rasanya sakit itu tiba-tiba hilang.” Heechul mengangguk,”…Ya, benar-benar hilang. Rasanya sudah tidak sakit lagi.” tambah Heechul.

 

“Kau pria yang hangat dan sangat baik hati.” Ujar Heechul lagi, di akhiri tangisan kecil. Ia menangis.

 

Perlahan tangan Hangeng mengusap rambut Heechul, menarik kepala yang tertunduk itu dan membiarkan Heechul menangis dalam dekapannya.”Aku—senang bisa membantumu. Aku juga ikhlas.” Ucap Hangeng.

 

.

.

.

 

Malam ini tiba-tiba kembali sepi seperti saat Hangeng masih tinggal sendiri. Heechul sedang berada di kamar Hangeng, duduk termenung di atas ranjang. Sedangkan Hangeng sendiri, berada di luar dan menyender pada pintu kamar tersebut.

 

“Kau—sudah—tidur, Heechul?” tanya Hangeng hati-hati. Kalau tidak ada jawaban, berarti benar pria yang di tanya Hangeng barusan memang benar sudah terlelap.

 

“Han…” Hangeng terjatuh kebelakang saat pintu kamar di buka Heechul, ia segera bangun.”Kau sedang apa?” tanya Heechul dengan senyuman tawaan kecil. Hangeng menggaruk kepalanya malu,”Ti-tidak, aku hanya…” Hangeng pun tertawa dan tak melanjutkan jawabannya.

 

“Kau sudah berkemas?” tanya Hangeng. Pria itu masuk ke dalam kamarnya yang beberapa hari ini di tempati Heechul untuk berisitirahat.

 

“Tidak. lagi pula tidak ada yang harus ku bawa pulang kan’?” ucap Heechul yang ikut berjalan mengikuti Hangeng dari belakang. Pintu kamar masih terbuka setengah. Hangeng dan Heechul duduk bersama di atas ranjang kecil tersebut.

 

Tirai jendela kamar yang terbuka, memudahkan mereka untuk melihat hamparan bintang-bintang di luar sana. Penuh dan sangat cantik berkilau.

 

“Besok kau tidak ada lagi di sini.” Lirih Hangeng. Heechul berdehem.

 

“Besok aku akan kesepian lagi.” tambah Hangeng dan kali ini Heechul mengusap bahunya.”Aku akan selalu mengingatmu Han.” ujar Heechul.

 

Hati Hangeng memberontak, ia tidak ingin Heechul pergi. Tapi, kenyataan esok, Hangeng tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa diam, dan merelakan.

 

“Sial!” dercik Hangeng tiba-tiba. Heechul pun memperhatikannya lebih serius. Hangeng menoleh kearah Heechul, membalas tatapan serius dari pria di sampingnya tersebut.

 

“Kenapa, aku bisa mengenalmu Heechul?” tanya Hangeng pelan.

 

“Kenapa?” tanyanya lagi lebih pelan. Heechul tersenyum sedih,”Andai bisa tahu kenapa.” Jawabnya.

 

Itu takdir. Mereka belum menyadari.

 

Heechul membenahi kerah kemeja putih Hangeng,”Aku sempat menyesal karna mendapat nasib buruk saat berada di negara ini. Tapi jujur, setelah mengenalmu. Aku tidak menyesal lagi Han.” ucap Heechul.

 

“Ini—takdir, Heechul.” Balas Hangeng dan mereka berdua menyadarinya.

 

“Berarti aku harus berterima kasih dengan takdir itu.” Ucap Heechul.

 

Hangeng memeluknya, mereka berpelukan. Ia mencium kening Heechul, lalu pipinya, dan bibir. Sangat intim tanpa keraguan. Tubuh mereka menjadi satu. Hangeng dan Heechul memberikan kenangan yang manis untuk keduanya. Kenangan yang sangat sulit di lupakan. Mereka, bercinta.

 

= = = = =

 

Kicauan burung gereja membangunkan Hangeng dari tidur berkesannya semalam. Ia membuka mata, lalu menoleh kearah samping. Kosong.

 

Hangeng segera duduk di ranjang itu. Tubuh polosnya hanya di tutupi selimut putih yang tipis. Hangeng memperhatikan sebuah kertas berlipat yang berada di samping selimutnya. Dengan hati-hati ia mengambil kertas itu, membukanya dan membaca beberapa kalimat yang tertulis di dasar kertas tersebut.

 

‘Hangeng, terima kasih untuk segalanya. Berpisah denganmu, rasanya lebih sakit dari pada rasa sakit di punggungku karna tembakan peluru tajam. Aku, akan percaya kalau pertemuan kita adalah takdir. Selamat tinggal…Aku, mencintaimu.’

Advertisements

Responses

  1. […] 3 […]

  2. Yah jok heechul ninggalin hangeng sich#seret heechul balik, haha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: