Posted by: blackcloudies | May 25, 2012

[FF] Chaptered – My Korean Namja – (Hanchul!yaoi) – 2

Title : My Korean Namja

Cast : Hangeng/Heechul!main, break!Hangeng/Henry, slight!Jungsoo/Heechul, Zhoumi, Sungmin, Jongwoon.

Author : DweeRae

Genre : YAOI/OOC/Angst/Romance/MPREG

Rating : PG17

Length : Chaptered

Language : Bahasa as global

Setting : 80’s Era

 

Warning : YAOI — MPREG — Tissue cleanex :<

Disclaimer : The fic is mine.

 

———————————————————–

“Tiga belas…juta yen!!” ucap Hangeng lagi yang menutup sesi pertama penjualan manusia tersebut.

 

———————————————————–

 

“Aku tidak sangka kau akan membeli pria itu.” Ujar Zhoumi pada Hangeng saat obrolan mereka di depan klub malam yang hampir tutup.

 

“Aku hanya—kasihan.” Jawab Hangeng. Seseorang datang menghampiri mereka dengan langkah yang sangat pelan. Ia adalah pria korea tadi. Ia berdiri di samping Hangeng dengan kepala tertunduk.

 

“Okay, sudah malam Han. Senang bisa bertemu dengamu.” Ujar Zhoumi. Hangeng tersenyum ramah,”Aku juga.” balasnya. Zhoumi pun pergi meninggalkan Hangeng bersama pria korea-nya.

 

Dan sekarang hanya tinggal mereka berdua saja. Hangeng bingung harus memulai obrolan apa, ia juga bingung harus di apakan pria korea yang telah ia beli itu. Tapi satu hal yang bisa Hangeng lakukan pertama, yaitu membuka tali tambang yang mengikat kedua tangan si pria korea.

 

“Ah, sa…kit.” desah pria korea tadi, terlihat dengan jelas kedua lengan tangannya memerah karna tali yang mengikat cukup kencang. Pria itu masih menundukan kepalanya.

 

“Namaku Hangeng. Kau siapa?” tanya Hangeng mencoba berkenalan. Pria korea itu belum mau menaikan wajahnya, tapi Hangeng mencoba meraih dagunya dengan lembut. Mereka bertatapan.

 

“Tolong jangan takut, katakan saja siapa namamu?” tanya Hangeng lagi. Bibir pria korea itu bergemetar –siap menjawab sesuatu.

 

“Hn, n-namaku, Hee—Heechul, Kim Heechul.” Jawabnya pelan. Hangeng tersenyum,”Okay Heechul. Bisa kita berteman?” tanya Hangeng kemudian. Heechul si pria korea tadi terlihat bingung,”Ber-teman?” tanyanya masih dengan suara pelan. Hangeng mengangguk,”Iya. Berteman.”

 

.

.

.

 

Hangeng tidak membawa mobil, malah dia tidak punya. Ia bersama Heechul menuju ke sebuah halte bus yang lumayan agak jauh dari tempat klub malam tempat mereka bertemu. Hangeng menggenggam tangan Heechul, takut kalau Heechul akan kabur, karna ia tahu Heechul pria sebatang kara di negaranya.

 

Mereka melewati pinggir jalan pertokoan yang masih belum tutup. Hangeng memasuki kesebuah pertokoan dengan tetap menggenggam tangan Heechul. Ia membeli sepasang sepatu berwarna putih bersih yang ia langsung pakaikan ke kaki Heechul.

 

“Terima kasih.” Ucap Heechul.

 

Mereka berjalan kembali, tapi terhenti di sebuah super market untuk membeli beberapa hal lagi. Hangeng membeli sekotak plaster, satu botol betadine, satu bungkus kapas halus, dan tidak lupa membeli dua susu coklat cair juga dua bungkus roti manis.

 

Mereka pun berjalan lagi sampai kesebuah halte bus. Kebetulan ada bus yang berhenti di depan halte, Hangeng segera mengajak Heechul untuk naik kedalam bus yang sepi. Hanya ada seorang supir dan tiga orang penumpang dengan jarak duduk agak berjauhan. Hangeng mengajak Heechul untuk duduk di bagian belakang bus. Di sana, Hangeng mengambil dua susu coklat dan roti manis yang ia beli, ia memberi Heechul masing-masing satu.

 

“Terima kasih.” Ucap Heechul berterimakasih lagi.

 

= = = = =

 

Apartment tempat tinggal Hangeng sangat sederhana. Itu seperti rumah susun berlantai lima, dan Hangeng tinggal di lantai tiga sebuah kediaman kecil. Hanya ada satu ruang tamu yang menyatu dengan ruang makan dan dapur, lalu sebuah kamar tidur dan satu buah kamar mandi kecil.

 

Hangeng menyalakan lampu ruangan sesaat ia menutup kembali pintu apartmentnya. Agak berantakan, mungkin karna Hangeng memang tidak sempat untuk membereskan rumahnya.

 

“Duduklah di sana. Aku akan ambil minuman dulu.” Ujar Hangeng menyuruh Heechul untuk menunggunya di sebuah sofa berwarna coklat soft. Heechul duduk di sana, ia memperhatikan setiap detik Hangeng bergerak.

 

Tak lama Hangeng datang menghampiri Heechul. Ia membawa secangkir teh manis dan sebuah mangkuk besar berisi air hangat dengan sebuah handuk kecil di sampingnya.

 

“Minumlah teh nya, kau pasti haus.” Ucap Hangeng. Heechul menurut saja, ia meminumnya dengan perlahan. Hangeng duduk di samping Heechul dengan bisu. Mereka berdua masih canggung untuk membicarakan banyak hal.

 

Waktu sudah melewati angka dua belas. Hangeng dan Heechul masih di sofa yang sama, duduk bersampingan dengan sepi.

 

“Em, bisa kau buka kemejamu?” tanya Hangeng hati-hati, Heechul langsung menoleh dengan cepat, jemarinya menarik erat kerah kemeja yang sedang ia pakai—ketakutan.

 

“Aku—hanya ingin mengobati punggungmu saja.” Ucap Hangeng, perlahan Heechul melepaskan eratannya pada kerah kemeja. Ia tertunduk,”Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya pelan.

 

“Lukamu berada di punggung, kau hanya bisa merasakan luka itu, tapi tidak bisa melihatnya kan’? aku—bisa melihatnya, tapi tidak bisa merasakannya.”

 

Dada Heechul sesak, rasanya ingin menangis. Pria yang ia kenal ini sangat baik dan perhatian. Beruntung Heechul berada bersamanya.

 

.

.

.

 

Dengan hati-hati Hangeng menyeka darah beku yang berada di punggung kanan Heechul, sedangkan Heechul masih duduk di depannya dengan secangkir teh manis yang hangat—mungkin bisa menghangatkan tubuhnya yang bertelanjang dada kini.

 

“Aku rasa bukan pistol biasa, sepertinya sebuah senapan focus. Peluru yang menembakmu begitu dalam menembus, tapi untungnya kau bisa selamat.” Ujar Hangeng, Heechul menghembuskan nafasnya,”Aku yang salah. Andai…” ia ingin menceritakan semua masalahnya kepada Hangeng, tapi masih ragu.

 

“Ceritalah Heechul, aku bisa menjadi pendengar yang baik.” Ucap Hangeng seakan bisa membaca fikiran Heechul.

 

Heechul tersenyum datar, ada sedikit perasaan nyaman di hatinya.

 

“Saat terjadi invasi perang Jepang dan Korea, kedua orang tua ku di culik tentara Jepang dan mereka membawanya sebagai budak. Aku dan adik laki-lakiku hanya tinggal berdua setelah itu. Saat aku dewasa dan perang dua negara telah mereda, aku mencoba pergi ke Jepang sendirian untuk mencari Omma dan Appa. Tapi, di tengah perjalanan laut, kapal kecil yang ku tumpangi di serbu oleh sindikat penjualan manusia…dan aku di paksa ikut mereka ke Beijing.”

 

“Kau—menjadi salah satu korbannya?”

 

Heechul mengangguk,”Entah apa yang mereka lihat dari diriku, tapi selama tiba di Beijing, aku selalu di kurung saja di sebuah kamar. Orang-orang yang menjadi korban bersamaku sudah di jual semuanya, kecuali aku. Entahlah…”

 

Hangeng tersenyum,”Mungkin karna kau—cantik.” Ucapnya. Heechul ikut tersenyum pula.

 

“Tersekap di ruangan itu bisa membuat aku menjadi gila. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk kabur dari jendela, tapi sial, mereka melihatku dan…”

 

“Menembakmu kan’?” tebak Hangeng, Heechul mengangguk,”Ya. Sehari setelahnya, aku di bawa ke klub malam tadi. Dan aku di jual—“ Heechul menoleh kebelakang memperhatikan Hangeng di belakangnya,”…Lalu, bertemu denganmu.” Tambah Heechul. Mereka bertatapan kembali.

 

.

.

.

 

Hangeng telah selesai memberikan obat ke punggung Heechul dan memplasternya dengan sangat rapi. Sudah satu jam berlalu, mereka juga belum tidur.

 

“Kau tinggal sendirian?” tanya Heechul bergantian. Ia sudah terlihat lebih nyaman.

 

“Ya. Aku sedirian sejak kecil.” Jawab Hangeng sembari memijat tengkuk lehernya yang kelelahan. Heechul memandangannya dengan akrab,”Mau bergantian menceritakan kisahmu?” tanya Heechul dan membuat Hangeng tersenyum kecil.

 

“Papaku seorang tentara militer, Mamaku seorang ibu rumah tangga biasa. Aku tidak kenal mereka berdua, mungkin hanya satu tahun—itu pun aku masih belum mengerti tentang dunia ini.” Hangeng terdiam sebentar sampai akhirnya ia dengan suka rela melanjutkan perjalanan hidupnya selama ini,”Kedua orang tuaku di bunuh oleh kelompok komunis china saat aku berumur satu tahun. Sebagai bentuk rasa simpati, aku di besarkan dan di sekolahkan oleh pemerintah. Dan, sebagai rasa berterima kasih ku kepada mereka, aku memutuskan untuk menjadi tentara juga—seperti Papa.” Cerita Hangeng.

 

“Oh, kau seorang tentara?” tanya Heechul.

 

“Iya.”

 

Heechul menunduk bersamaan dengan perasaan nyamannya,’Pantas dia begitu baik. Aku yakin dia bukan orang yang jahat.’ Fikir Heechul. Kemudian pandangan Heechul tak sengaja memperhatikan sebuah figura foto kecil yang terpajang di meja dekat ruang tamu. Heechul mengambilnya,”Ini…siapa?” tanya Heechul.

 

Hangeng segera merebut foto itu dengan sopan,”Dia…” Hangeng memperhatikan sosok pria yang sedang berdiri di sampingnya dalam foto tersebut,”…Dia Henry, orang yang pernah ku cintai.”

 

“Kekasihmu?”

 

Hangeng membalikan foto tersebut,”Dulu. Sekarang bukan lagi.” jawabnya.

 

Heechul mengambil foto itu lagi lalu menaruhnya ketempat semula,”Dia putih dan manis, seperti adikku.” Ucap Heechul dan membuatnya sedih,”Mungkin sampai sekarang, adikku mengira aku sedang berada di jepang.” Tambah Heechul lagi. Membuatnya semakin sedih.

 

Hangeng menghangatkan tubuh Heechul dengan sebuah selimut hangat,”Aku janji, kau pasti bisa kembali ke negaramu, korea.” Lirihnya.

 

= = = = =

 

Pagi hari ini Hangeng terbangun agak siang karna semalam tertidur hampir pagi. Harum kaldu yang lezat membangunkannya.

 

“Heechul.” Panggilnya. Hangeng bangun dari sofa dan segera berlari ke dalam kamar karna ia menyuruh Heechul untuk tidur di kamarnya –sementara waktu. Pria korea itu ternyata tak disana, Hangeng berubah menjadi cemas.

 

Kecemasan berubah menjadi sebuah keheranan. Ia memperhatikan hidangan makanan yang telah siap di atas meja makan, dan Hangeng baru tersadar kalau seisi apartmentnya menjadi sangat rapi dan teratur juga bersih.

 

“Tapi, dimana dia?” Hangeng cemas kembali.’Apa dia kabur? Atau dia kemana?’ benaknya. Hangeng menggeleng,’Tidak. Pria itu tidak mungkin nekat berkeliaran sendirian di Beijing, apalagi dengan keadaan seperti itu.’ Ujar Hangeng dalam hati.

 

Pintu apartment terbuka, seseorang memberinya senyuman pagi.”Kau sudah bangun Hangeng?” tanya seseorang itu yang kemudian menutup kembali pintu dan berjalan pelan kearah Hangeng.

 

“Kau sudah sarapan?” tanya pria itu lagi. Hangeng menatap dalam seseorang itu, lalu memeluknya,”Jangan pergi lagi Heechul. Kau—membuatku cemas.” Ujarnya.

 

Heechul merasakan betapa hangatnya pelukan itu, pelukan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.”Han…punggungku, masih sakit.” Ucap Heechul. Hangeng langsung melepaskan pelukan mereka. Wajah keduanya jadi memerah.

 

“Maaf Heechul, aku hanya khawatir.” Ujar Hangeng setelahnya ia dan Heechul tertawa kecil.

 

——- TBC ——

Advertisements

Responses

  1. author~
    ceritanya keren.
    Next partnya cpetan ya
    😀

    • ne ^^ ghamsa komennya ^^

  2. next part ^^

  3. […] [ 2 ] […]

  4. Akhirnya hangeng juga yang dapet,keren thor,langsung baca part 3 nich

    • ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: