Posted by: blackcloudies | May 25, 2012

[FF] Chaptered – My Korean Namja – (Hanchul!yaoi) – 1

Title : My Korean Namja

Cast : Hangeng/Heechul!main, break!Hangeng/Henry, slight!Jungsoo/Heechul, Zhoumi, Sungmin, Jongwoon.

Author : DweeRae

Genre : YAOI/OOC/Angst/Romance/MPREG

Rating : PG17

Length : Chaptered

Language : Bahasa as global

Setting : 80’s Era

 

Warning : YAOI — MPREG — Tissue cleanex :<

Disclaimer : The fic is mine.

 

———————————————————–

BEIJING

 

1983

 

Sore itu begitu teduh dan asri. Siapapun yang berada di sana pasti sangat tidak ingin melepaskan nuansa segarnya hawa perbukitan indah tersebut.

 

Hangeng berdiri di sana, di samping salah satu pohon besar yang dedaunan pada rantingnya bergerak karna herpaan angin. Pria berseragam tentara itu sedang menunggu sang kekasih.

 

“Han,” panggil lembut suara pria di belakang Hangeng, ia pun menoleh kesumber suara,”Henry…” balasnya penuh senyuman.

 

Henry yang sejak tadi di tunggu itu segera berjalan mendekati Hangeng. Entahlah, tapi wajah Henry terlihat sangat sedih.

 

“Aku merindukanmu Hen, kenapa kau tidak balas suratku?” tanya Hangeng dalam pelukan mereka, tapi Henry malah melepaskan pelukan rindu itu.

 

“Han maaf. Sepertinya kita harus putus saja.” Ujar Henry. Hanya ada ekspresi datar dari wajahnya.

 

“Kenapa—Hen?”

 

Henry menunduk,”Keluargaku akan pindah ke Kanada. Aku juga akan melanjukan pendidikan di Kanada. Aku harap kau bisa mengerti Han…” jawab Henry.

 

Mengerti? Tidak, Hangeng sangat sulit mengerti dengan semua itu.

 

“Kenapa mendadak seperti itu? Kau bilang akan selamanya dengan—“ Hangeng membuang tatapannya kearah padang bukit luas,”…Kenapa menyakiti hatiku Hen?” lirihnya bertanya.

 

Henry memperhatikan telapak tangan kanan Hangeng yang terkepal, rasanya ia ingin menyentuh tangan itu—tangan yang dulu sering mengusap kesedihan di pipinya. Tapi, Henry sudah berjanji, setelah pemutusan cinta ini, ia akan mencoba melupakan Hangeng…bagaimanapun.

 

“Maaf Han.” ucap Henry.

 

= = = = =

 

Kedua matanya sembab. Hangeng berjalan pelan menusuri kota kuno Beijing dengan berjalan kaki. Entah akan pergi kemana dia, yang pasti pria itu tidak ingin mengunci kesendiriannya bersama kesedihan yang melanda hati pasca Henry pergi.

 

Lagi-lagi ia ingin menangis. Tapi Hangeng mencoba mengontrol dirinya agar tak menjadi lemah hanya karna…cinta.

 

.

.

.

 

Perjalanan Hangeng berhenti di saat bulan sudah menampakan wujudnya di antara awan-awan hitam yang gelap berhias bintang. Hangeng memasuki sebuah klub malam yang sama sekali belum pernah ia datangi. Mungkin dengan meminum beberapa botol bir bisa membuat stress-nya hilang.

 

Suasana di sana sungguh ramai, banyak orang yang mabuk, banyak pria maupun wanita yang melacurkan diri, dan banyak transaksi obat-obat terlarang di sana. Hangeng tersenyum bodoh. Ia adalah seorang tentara negara China, tapi ia sendiri malah sedang berada di sebuah tempat gemerlap malam yang penuh kesesatan. Toh, sekarang ini Hangeng juga sedang tidak memakai seragam dinasnya dan tujuan kesana juga bukan untuk membela kebenaran.

 

“Bisa aku pesan satu botol bir.” Pesan Hangeng pada seorang barista. Hangeng duduk di sebuah bangku dengan meja panjang di hadapannya. Suara di sana terlalu bising, tapi Hangeng malah sangat menyukai suasana itu. Dari pada menyendiri, keramaian seperti itu membuat Hangeng merasa lebih baik.

 

Barista itu memberikan Hangeng sebotol bir penuh yang sudah di buka tutupnya dengan satu buah gelas kaca yang masih sangat kosong. Hangeng menuangkan bir itu kedalam gelas, lalu langsung meminumnya hingga habis.

 

“Hei, kau sedang depresi?” seorang pria di samping Hangeng mengajaknya mengobrol.

 

“Aku Zhoumi, namamu siapa bung?” ujar seseorang itu lagi sembari memperkenalkan dirinya.

 

Hangeng mengangguk,”Ya, benar aku sedang-sangat depresi…” jawab Hangeng,”Aku Hangeng Tan.” Tambahnya.

 

Zhoumi menuangkan bir dari botol yang Hangeng pesan kedalam gelasnya lalu kedalam gelas Hangeng juga,”Mungkin aku bisa membantu.” Ujarnya lalu mengajak Hangeng untuk minum bersama.

 

“Membantu? Benarkah?”

 

.

.

.

 

Zhoumi mengajak Hangeng kesebuah ruangan yang masih berada di dalam gedung klub tadi. Ia akan mengajak Hangeng untuk menyaksikan sebuah pertunjukan yang hanya beberapa orang tertentu bisa ikut di dalamnya. Kebetulan Zhoumi sering mendatangi pertunjukan tersebut.

 

Pintu kayu itu Zhoumi buka, ia mengajak Hangeng untuk masuk.”Ini pesta para pria yang depresi.” Ujarnya. Walau sedikit di pengaruhi rasa mabuk, Hangeng sebisa mungkin harus menjaga dirinya sendiri. Ia waspada, kalau Zhoumi mengajaknya untuk berpesta narkotika.

 

Tapi, dugaan Hangeng ternyata salah. Itu bukan pesta narkotika, tapi sebuah pertunjukan jual-beli manusia. Human trafficking.

 

‘Apa ini?’ fikir Hangeng dalam hati. Zhoumi mengajaknya untuk duduk di sebuah bangku sofa yang melingkar sabit dengan sebuah panggung kecil setinggi sepuluh sentimeter yang penuh sorotan lampu di depannya.

 

Di sana mereka tidak berdua, tapi ada sekitar belasan orang yang juga sedang duduk bersama Hangeng dan Zhoumi. Mungkin tujuan mereka sama, untuk menikmati pertunjukan tersebut.

 

Tak begitu lama menunggu, dua orang pria memasuki ruangan yang sama. Mereka berdiri di panggung tadi, yang satu terlihat seperti orang tersiksa dengan sebuah tali tambang mengikat kedua lengannya kedepan dan yang satunya berpakaian rapi dengan toxedo hitam.

 

“Hari ini saya menawarkan sesuatu yang spesial…” ujar pria bertoxedo hitam itu yang kemudian menarik paksa pria satunya.

 

“Umur dua puluh satu tahun, asal dari korea.” Ujar pria bertoxedo itu lagi, lalu membiarkan pria tadi sendirian di atas panggung.

 

“Lima juta yen!” seorang Tuan besar membuka harga jual atas pria menyedihkan yang sedang tertunduk di atas panggung itu.

 

“Enam juta yen.” Tawar yang lainnya.

 

Hangeng hanya bisa menatap sedih pada pria itu. Kasihan dan iba. Penampilan pria itu sungguh mengenaskan, dengan sebuah kemeja putih lusuh dan celana kain hitam, pria itu juga bertelanjang kaki. Rambutnya cukup berantakan, dan wajahnya terlihat pucat.

 

‘Cantik.’ Itu kesan kedua Hangeng saat melihat lebih lama kesosok pria asal korea tadi.

 

“Delapan Juta Yen.” Suara tawaran menjadi tinggi. Pria menyedihkan itu menoleh kesumber suara yang menawar dirinya dengan harga tinggi saat ini. Dengan jelas membuat semua orang bisa melihat kedua matanya yang berkaca-kaca.

 

“Kasihan.” Gumam Hangeng memperhatikan pria itu, Zhoumi malah terkekeh,”Tsk, itu sudah biasa. Malah ada yang lebih parah.” Ujarnya.

 

“Maksudmu lebih parah?” tanya Hangeng ingin tahu.

 

Zhoumi mengangguk dua kali,”Biasanya, kalau korban penjualan terlihat murung dan hampir menangis, dia pasti sedang menahan kesakitan yang luar biasa. Beberapa yang sudah ku lihat, mereka memiliki banyak kecacatan dalam tubuhnya, ya…seperti cambukan di punggung, memar di wajah atau tindakan siksa yang membuatnya meninggalkan bekas di tubuh.” Ujar Zhoumi, lalu ia menarik bahu Hangeng untuk melihat kesebuah arah.

 

“Lihat punggung pria itu…” kata Zhoumi memperhatikan punggung pria korea tadi. Hangeng pun melihatnya juga.

 

“…Itu bukan sebuah cambukan, tapi kurasa di punggungnya ada sebuah luka yang cukup menyakitkan.” Ujar Zhoumi lagi.

 

Hangeng mengangguk, ia baru sadar kalau ada bercak darah di belakang kemeja putih pria korea tersebut,”Dia bisa bertahan dengan luka itu?” tanya Hangeng dengan raut kecemasan. Zhoumi mengangguk,”Kalau hanya untuk berdiri di atas panggung, pria itu mungkin masih bisa menahan rasa sakitnya…tapi yang sedang pria itu fikirkan pasti, bagaimana caranya nanti saat ia melayani orang yang akan membelinya—dalam keadaan seperti itu.” Jawab Zhoumi.

 

Hangeng menghela nafas. Ia menerjamakan kedua matanya sebentar. Mengenang sesuatu. Yang sebelumnya Hangeng merasa kalau dirinya adalah orang yang paling menderita di dunia ini. Terlahir tanpa orang tua, di tambah baru saja di tinggalkan dengan orang yang ia cintai. Ia salah besar.

Hangeng membuka kembali kedua matanya lalu memperhatikan pria korea tersebut. Dan baru ia sadari, kalau pria yang sedang ia lihat adalah orang yang lebih menderita di bandingkan dengan dirinya sendiri.

 

“Sepuluh juta yen.” Tatapan pria korea itu beralih kearah Hangeng yang menawar barusan. Mereka bertatapan.

 

“Hangeng kau sungguh?” Zhoumi yang di sebelahnya terkejut saat Hangeng selesai menawar tadi. Tapi pria itu tidak menghiraukan pertanyaan Zhoumi, ia hanya menatap lurus si pria korea.

 

“Sebelas juta yen.” Tawar seseorang yang lain.

 

“Tiga belas…juta yen!!” ucap Hangeng lagi yang menutup sesi pertama penjualan manusia tersebut.

 

—– TBC —–

Advertisements

Responses

  1. […] 1 […]

  2. Hai2 ak reader baru,
    karna baru tertarik denagn hanchul#selama ini kmna aj# aku ngubek2 ni blog dech,bagus ceritnya tapi kasihan juga hchul jadi barang perdagangan semoga yang dapet hangeng

    • iya karna aku sering buat hanchul happystory jadi pengen coba yang angst T^T


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: