Posted by: blackcloudies | February 14, 2012

[FF] 2shots — VALENTINE THIS YEAR — Donghae/Eunhyuk

Title : Valentine This Year

Atuhor : DweeRae

Cast : Hyukjae/Donghae!Donghae/HyukJae, Yesung!Hyuk’s friend, Kibum!Hyuk’s classmate, Sungmin!Hae’s young brother, Teuk!Hae’s old brother.

Genre : Romance/Friendship/Angst/Sho-ai/YAOI

Rating : PG17

Length : 2shots

= = = = =

“Cih sayang sekali, tubuh seindah itu malah di balut kain yang tebal. Tidak asyik!” ucap Lee Hyukjae—seorang siswa kelas tiga SMA Konabeans. Ia sedang santai memperhatikan beberapa gambar yang terpotret di setiap lembar sebuah majalah dewasa. Itu adalah hobinya—memuaskan diri dengan melihat-lihat pemandangan ‘indah’ di majalah seharga 7U$ tersebut.

“Rok nya kurang pendek…” kritiknya saat melihat penampilan seorang model di majalah itu.”Hem…lumayan putih dan mulus.” Ucapnya lagi. Ia tak memperdulikan Jongwoon yang duduk di sampingnya.

“Benarkah? Coba aku lihat?!” Jongwoon mencoba mengintip kearah majalah yang di pegang Hyukjae—namun si pemilik merasa berat hati kalau ada yang mengganggu kesenangannya,”Jangan Hyung! Kau tidak mengerti dengan apa yang aku lihat. Urusi saja PR mu sana!” ujar Hyukjae dengan pelitnya.

Jongwoon cemberut kesal lalu melanjutkan kembali pekerjaan ‘mencontek’ paginya yang tadi terselang. Sedangkan Hyukjae masih dalam dunia yadong-nya.

“AAAAA BLUE!!!” Hyukjae berteriak histeris saat melihat beberapa gambar yang terpampang di bagian tengah majalah. Dengan model yang sama. Blue.

“Biru?” tanya Jongwoon yang terganggu lagi.

“Bukan biru! Tapi BLUE. Dia model sexy yang ku ceritakan waktu itu Hyung!” ujar Hyukjae menjelaskan. Dan dengan setengah ikhlas, Hyukjae memperlihatkan sosok Blue pada Jongwoon.

“Ah Arra!” Jongwoon mengangguk kenal,”Dia itu model yang ada di poster kamarmu kan’?”

Eunhyuk mengangguk,”Ya. Dia—wanitaku, bidadariku, bias-ku, dan idolaku.” Ucap Hyukjae lemas saat melihat sosok model pria lain yang dengan intimnya beradu mesra di gambar dalam majalah yang sedang di lihat itu,”Wah, Blue semakin cantik…tapi siapa pria ini? Asing?” tanya Jongwoon yang di balas gelengen kepala dari Hyukjae,”Entahlah aku tidak kenal, tapi yang jelas pria itu membuatku kesal.” Jawabnya marah.

“Sabar Hyuk, namanya juga model profesional, jadi Blue harus mau berfoto dengan siapa saja kan’?”

Hyukjae masih terdiam murung dan kesal. Bayangkan, idola yang ia cintai sedang berfoto sangat mesra oleh pria lain.

Hyukjae segera memasukan majalah bercover wanita dengan bandana kelinci tersebut kedalam tas sekolahnya di iringi dengan beberapa siswa yang memasuki ruangan kelas itu. Sepertinya pelajaran akan di mulai.

“Wah gawat. PR english ku belum semuanya rampung, otthoke?” Jongwoon mengigit kukunya dengan ekspresi cemas,”Tenang Hyung, aku dengar Mr Park sedang cuti. Jadi mungkin saja tidak ada guru sama se—ka—li.” Ucapaan Hyukjae terhenti saat melihat sosok pria memasuki ruang kelas dan berdiri di depan meja guru.

“Good morning.” Sapanya.

“Morning Sir,” jawab para siswa agak ragu—kecuali Hyukjae dan Jongwoon yang menatapi pria itu dengan wajah shock.

Tampan, senyuman manis, dan memilik aura baik hati. Dari tatapanyan bisa di rasakan pria itu orang yang ramah dan—menawan. Seperti model.

“Okay,” Pria itu duduk menyender di pada meja guru, lalu memperkenalkan dirinya sendiri,”…My Name is Donghae Lee. I came from Mokpo city. And i was your english teacher—replace Mr Park. Bangapseumnida.”

Jongwoon menarik-narik kecil lengan seragam Hyukjae,”Hyuk, di-dia kan pria mesum yang ada di majalah tadi kan’? yang bersama Blue-mu!” ucapnya dengan suara kecil.

Donghae duduk di bangkunya lalu membuka sebuah buku absen yang berada di atas meja guru,”Lalu, siapa ketua kelas kalian?” tanyanya dengan santai. Semua siswa dan siswi di sana mengarahkan pandangannya pada sosok seorang,”Lee Hyukjae?”

Hyukjae tak menjawab ataupun membalas panggilan Donghae kepadanya—ia hanya menatap penuh kebencian dengan mengutuk dalam hati,’I’m your hater.’

.

.

.

Istirahat makan siang Hyukjae di habiskan dengan penuh emosi. Ia meluapkan kekesalannya,”Hah?! Sekolah macam apa ini? Masa’ memperkerjakan ‘seorang model majalah dewasa’ untuk menjadi Guru. Itu hal gila!” kesalnya.

“Tapi dia lulusan universitas Seoul.” Balas Jongwoon yang duduk di sampingnya. Di satu bangku kantin sekolah.

“Tetap saja itu GILA. Nanti—bukannya di ajari pelajaran english, kita malah di ajari foto mesum.”

Jongwoon hanya mendatarkan raut wajahnya,”Bagaimana pun sekarang itu dia guru Inggris kita Hyuk. “ ucapnya pelan.

“ARRA!”

“Eh, tapi…itu sungguh dia? Wajahnya memang mirip sih’ tapi mungkin saja kita salah orang Hyuk.”

Hyukjae menatap Jongwoon dengan sebal,”Maksudmu apa? Jelas-jelas dia itu pria yang dengan seenaknya menyentuh Blue ku yang cantik di majalah tadi.” Hyukjae duduk merenung,”Biasanya Blue hanya perfoto sendirian, tapi kali ini dengan pria asing—dan pria itu ada di sekolah kita ini. Aish!!!” ucapnya lagi dengan mengacak-acak rambut coklat halusnya.

“Apa maksudmu?” suara lembut di belakang mereka berhasil mengejutkan Hyukjae dan Jongwoon. Mereka menoleh kebelakang.

“KAU?!” Hyukjae histeris melihat sosok nyata itu,”Mr Lee??” Jongwoon terkejut pula.

Donghae menyilangkan kedua lengannya,”Aku mencari ketua kelas Lee Hyukjae dan aku menemukan kalian di kantin. Tapi—sepertinya kalian sedang membicarakan sesuatu?” Donghae menatap tajam Hyukjae yang sepertinya acuh terhadapnya.

“B-bukan apa-apa Songsaenim. Kami hanya—mengobrol u-urusan anak muda.” Jongwoon mengarang sebisanya, tapi Hyukjae malah jujur berbicara langsung tentang apa yang ada di benaknya.

“Aku membencimu Mr Lee.” Ucap Hyukjae.

Donghae terdiam sebentar-membalas tatapan kebencian Hyukjae pada dirinya,”Membenciku? Tanpa alasan?”

Hyukjae menggeleng,”Aku ada alasan. Tapi rasanya aneh kalau harus membicarakan alasan itu di sekolah ini.” Jawabnya angkuh.

“Oh? Sepertinya itu karna permasalahan luar?” tanya Donghae yang semakin penasaran.

Jongwoon segera menengahi keduanya,”Err Mr Lee, sepertinya kami harus segera kembali ke kelas. sebentar lagi jam istirahat selesai.” Ujar Jongwoon kemudian menarik paksa lengan Hyukjae—tapi Hyukjae menepisnya,”Aku benci kau. Pertama, kau bukanlah seorang guru—kau hanya seorang model yang biasa berpose bugil untuk menunjukan tubuh abs-mu dan berfoto mesra dengan model wanita lain-menyentuhnya sesuka hati. Termasuk—Blue.”

Donghae mematung untuk beberapa saat—hingga akhirnya ia tertawa kecil,”Jadi—murid di sekolah ini ternyata pecandu majalah porno ya?”

“Ternyata benar kan’ kau pria itu.” Ucap Hyukjae dengan tatapan hina.

Donghae mengangguk tanpa ekspresi—ucapan dan pandangan Hyukjae terhadapanya membuat nya sedikit resah.

“Jadi—kau membenciku karna aku berfoto mesra dengan si Blue itu?” tanya Donghae serius.

“Mungkin itu alasan pribadinya, tapi alasan utamanya—aku kurang suka kalau di sekolahku ada pria hina sepertimu. Apalagi menjadi seorang guru.”

Donghae mengalihkan pandangannya kepadang rumput yang berada di dekat kantin sekolah,”Setiap manusia itu punya banyak sisi. Kau hanya melihatku di sisi yang buruk itu—kau tidak akan mengerti sisi yang satunya.” Ucapnya, kemudian berlalu pelan meninggalkan Hyukjae dan Jongwoon berdua.

= = = = =

Sudah satu bulan Donghae mengajar di SMA Konabeans—walau harus menahan rasa kebencian dari Hyukjae kepadanya, tapi Donghae tidak memperdulikan semua itu. Ia harus bekerja.

Seperti biasa, setiap pagi di awal bulan. Hyukjae sudah dengan majalah dewasa bulanannya yang ia beli dari uang jajan tiga hari.

“Ish, mungkin karna ku komentari waktu itu, jadi dia hanya sekali menjadi model di majalah ini.” Cibir Hyukjae.

“Siapa? Mr Lee?”

Hyukjae tersenyum paksa,”Ya, Our beloved Songsaenim, Mr Lee.” Ucap Hyukjae agak menyindir.

“Hyuk kau berlebihan.” Ujar Jongwoon tapi malah di balas dengan tatapan ketidak pedulian.

“Jangan sampai kau menyesal dengan rasa bencimu Hyuk.” Tambah Jongwoon lagi.

.

.

.

.

.

Hari ini Donghae absen mengajar. Tak elak membuat semua murid bisa mendapatkan tambahan jam istirahatnya.

“Hyuk, kau di suruh guru komite untuk menyerahkan form kepada Mr Lee.” Ujar Kibum meneruskan pesan yang ia terima dari ruang guru.

“Mr Lee?”

“Lee Donghae.” Jelas Kibum.

“MWO?? Aku menyerahkan form untuk dia? TIDAK MAU!!” tolak Hyukjae.

“Terserah, aku kan hanya menyampaikan pesan untukmu.” Ujar Kibum lagi lalu menyerahkan sebuah amplop coklat berisi beberapa lembar form kehadapan Hyukjae.

“Tunggu saja sampai dia masuk sekolah lagi. pokokknya aku tidak mau menyerahkan ini.”

Kibum duduk dengan tenangnya,”Kan sudah ku bilang ‘Terserah’ tapi kata Mr Shin, form itu harus di kumpulkan besok—bagaimana kalau besok Mr Lee tidak masuk?” ujar Kibum.

Hyukjae tetap kukuh,”Kenapa harus aku?”

“Kau kan’ ketua kelasnya.”

Hyukjae berdiri di tengah kelas dengan kaku. Sampai akhirnya pria itu pasrah akan melakukan hal yang sangat ia tolaknya tadi.

“Oh ya Hyuk, kau punya penggaris?” tanya Kibum untuk meminjam sebuah benda kepada sang ketua kelas.

“Ada di dalam laci.” Jawab Hyukjae masih kaku.

“Di laci? Boleh aku pinjam?”

Hyukjae menatap Kibum dengan dingin,”TER-SE-RAH.” Balasnya.

= = = = =

“Hyung, temani aku kerumah pria itu ya’?” pinta Hyukjae memelas pada Jongwoon,”Shirreo! Aku harus mengajak kkoming ke salon hewan, dia sudah sebulan tidak di hair spa.” Jawab Jongwoon.

“Besok saja di hair spa-nya, hari ini temani aku dulu kerumah Lee Donghae.” Pinta Hyukjae lagi. Jongwoon menggeleng dan tetap tidak mau,”Kau harus jadi leader yang tanggung jawab Hyuk, masa cuman menyerahkan form saja takut, payah.” Ucap Jongwoon.

“T-tapi Hyung…”

“Sudahlah Hyuk, itukan hal yang mudah. Kau hanya datang kerumahnya, lalu menyerahkan amplop itu kemudian pulang. Selesai.”

Hyukjae menunduk,”Tapi itu rasanya susah Hyung.”

.

.

.

.

.

Berbekal alamat yang tertulis di selembar kecil kertas sobekan, Hyukjae menyusuri jalan menuju tempat yang akan di tujunya. Rumah Lee Donghae.

“12…13.” Hyukjae berhenti didepan sebuah rumah sederhana yang di depan pagar kayunya terdapat tulisan berhuruf 13.

‘Apa lebih baik aku tinggalkan form ini di luar pintu saja ya?’ niat Hyukjae dalam hati. Ia masih enggan untuk menyampaikan form itu secara langsung, apalagi hubungan keduanya memang sangat dingin.

‘Sudahlah Hyuk, itukan hal yang mudah. Kau hanya datang kerumahnya, lalu menyerahkan amplop itu kemudian pulang. Selesai.’

Hyukjae teringat kembali perkataan Jongwoon—dan membuatnya berani untuk melakukan hal yang simple tersebut.

Langkah kaki Hyukjae mendekati gerbang kayu bertinggi satu meter di depan rumah sederhana tempat tinggal Donghae, ia membuka gerbang tak berkunci itu—lalu masuk mendekati pintu rumah.

Tangan kanannya ia kepal dan siap mengetuk pintu agar sang pemilik rumah mau membukakan pintunya.

Tok tok tok  

Ingin mengetuk tiga ketukan lagi, tapi pintu putih itu sudah di buka oleh sang pemilik.

“Song-saenim…” panggil Hyukjae datar.

Donghae terkejut melihat kehadiran Hyukjae di kediaman sederhananya,”Kau sendirian? Kemari?” tanyanya penasaran.

Hyukjae hanya mengangguk dengan tanpa ekspresi, kedua matanya memperhatikan penampilan Donghae yang terkesan ‘sexy’ dengan celana jeans selutut dan kaos u can see berwarna putih transparan—membuat Hyukjae berfikir negatif pada pria itu.

‘Mungkin dia sedang bersama dengan kekasihnya.’ Fikir Hyukjae dalam hati.

“Ada apa kemari?” tanya Donghae—masih di tengah pintu. Hyukjae mengambil sesuatu yang ia simpan di dalam ransel punggungnya,”Ada titipan dari…” baru Hyukjae ingin memberikan amplop coklat titipan Mr Shin, Donghae malah membalikan tubuhnya memperhatikan seorang anak laki-laki kecil berwajah pucat pasi.

“Min, kau terbangun? Kembalilah tidur, nanti demammu semakin panas.” Ujar Donghae padanya. Anak laki-laki berusia delapan tahunan itu mengangguk nurut, lalu berjalan pelan menuju sebuah ruangan.

Lagi-lagi membuat fikiran Hyukjae bertitik negativ,’Jangan-jangan itu anak haramnya.’ Benak Hyukjae.

“Titipan dari siapa?” pertanyaan Donghae melanjutkan kembali obrolan mereka yang terputus. Hyukjae langsung menyodorkan amplop coklat tadi,”Ada titipan dari Mr Shin. Di dalamnya ada form yang harus di isi oleh semua guru, termasuk kau.” Ucapnya—dingin. Donghae segera mengambil amplop itu. Lalu memperhatikan Hyukjae dan mengucapkan,”Okay thanks.” Dan pintupun di tutupnya.

‘MWO???!’ Hyukjae menatap bengis pada pintu putih yang baru saja tertutup itu.’Dia hanya mengucapkan terima kasih, lalu menutup pintu begitu saja?’ kesalnya dalam hati.

“Siapa juga yang mau bertamu. Ta-tapi kan’ setidaknya dia basa-basi dulu kepadaku, dasar guru mesum.” Cibir Hyukjae. Kekesalannya mungkin akan memuncak jika ia berlama-lama di tempat itu, maka membuat Hyukjae ingin cepat pulang dari rumah Donghae. Hyukjae membalikan tubuhnya dan bersiap melangkah keluar perkarangan rumah, tapi suara pintu yang terbuka cukup keras—membuat Hyukjae tertahan.

“Tolong aku,” ucap suara sendu seseorang yang menarik lengan Hyukjae dari belakang.

“Eh?” Hyukjae membalikan kembali tubuhnya—memperhatikan Donghae yang hampir menangis,”Ku mohon tolong aku.” Pinta Donghae dengan suara agak serak.

.

.

.

Kedua pria itu sedang duduk bersampingan di ruang tunggu –di depan sebuah kamar pasien.

“Maaf dan—terima kasih sudah membantuku.” Lirih Donghae dengan tatapan tak lepas dari lantai bersih pada koridor rumah sakit tersebut.

Hyukjae menoleh kearah Donghae. Ia merasa iba.”Dia, putramu?” tanyanya mencoba ingin mengetahui sosok anak laki-laki kecil yang sekarang sedang terbaring lemah dalam kamar pasien di depan mereka.

Donghae menggeleng,”Dia dongsaengku.” Jawabnya.

‘Oh adiknya. Aku kira…’ ucap Hyukjae dalam hati.

“Maaf hari ini aku tidak mengajar di sekolah.” Ujar Donghae kemudian.

Hyukjae mengangguk dengan fahamnya,”Ya, karna adikmu sakit, jadi kau tidak mengajar kan’?”

“Iya.”

Entah mengapa obrolan singkat ini membuat Hyukjae agak melupakan sikap dinginnya pada Donghae, Hyukjae malah ingin semakin kenal dengan pria itu. Mengenalnya semakin dalam.

“Dimana orang tua kalian? Kau hanya tinggal berdua?” tanya Hyukjae—ia berharap pertanyaan itu akan di jawab oleh Donghae. Dan YA, Donghae menceritakan semua tentang keluarganya.

“Ayahku meninggal saat aku masih sd, dan ibuku meninggal saat melahirkan Sungmin delapan tahun lalu. Aku—hanya tinggal dengan Sungmin dan Hyungku.” Ujar Donghae.

‘Dia juga punya kakak?’ tanya Hyujae dalam hati, di barengi dengan pertanyaan yang sama,”Kau punya Hyung?”

Donghae mengangguk,”Teuki Hyung. Dia juga lulusan SMA Konabeans, dia pintar dan cerdas. Tapi sayang, karna keluarga kami miskin, Teuki-Hyung memutuskan untuk keluar dari sekolah –padahal saat itu Teuki-Hyung sedang kelas 3 sma. Dia malah memilih untuk bekerja di bar sebagai barista lalu mengumpulkan uang untuk aku dan Sungmin.”

Donghae menghela nafas, Hyukjae juga. Ada perasaan bersalah pada diri Hyukjae karna fikiran buruknya tentang Donghae yang ia pandang sebelah mata.

“Tentang menjadi model di majalah dewasa itu—aku melakukannya karna terpaksa juga.” Tambah Donghae pelan.

Hyukjae terkejut, sedari tadi ia membungkam mulutnya agar tak menyinggung tentang profesi Donghae sebelum menjadi guru, tapi si subject malah memulai duluan membicarakan tentang semua itu. Pada kenyataannya Hyukjae juga sangat penasaran.

“Song-saenim…” panggil Hyukjae dengan hati-hati, Donghae menengok kearahnya.

“…Bisa, kau ceritakan masalah itu kepada ku? Biar aku tidak salah paham denganmu.” Pinta Hyukjae.

.

.

.

“Teuki-hyung bekerja keras demi hidup kami berdua. Memberi makan, membayar sewa rumah, dan menyekolahkan kami. Rasanya sangat egois jika aku tidak membantu Hyung. Karna dia ingin kedua adiknya bisa lulus sekolah tinggi dan bisa masuk universitas, dia bilang ‘kalau kau sarjana, kau tidak akan bekerja menjadi buruh’ makanya Teuki-hyung berupaya agar aku bisa berkuliah. Dan aku bekerja diam-diam selama musim pertama kuliah berlangsung…”

“Menjadi seorang model telanjang?” Hyukjae memotong cerita Donghae.

“Bukan. Aku bekerja menjadi guru les dan penjaga toko, tapi yang ku dapat tak sebanding dengan yang harus kami keluarkan. Adikku—dia sakit, parah.” Donghae menundukan kepalanya, lebih tepatnya menyembunyikan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Hyukjae merasa iba, kali ini tersentuh dengan cerita yang jujur apa adanya tersebut.

“Lalu kau bekerja menjadi…” ucapan Hyukjae terputus saat Donghae meneruskan cerita yang terpotong tadi,”Ya. Aku terpaksa menjadi model dewasa untuk beberapa bulan dan secara diam-diam, karna Hyung tidak tahu. Walau terkadang Hyung selalu merasa curiga padaku, dan curiga pula saat membawa Sungmin berobat kerumah sakit tapi biaya perawatan sudah di bayar oleh orang tanpa nama, itu aku.”

“Jadi…begitu ya.” Hyukjae menunduk malu. Malu dengan sikap dinginnya pada Donghae hanya karna sebuah salah paham. Awalnya Hyukjae mengira, Donghae memang seorang profesional model majalah dewasa, dan ia menganggap, Donghae bekerja menjadi guru di sekolahnya hanya karna keisengan semata.

“Maaf Songsaenim.” Lirih Hyukjae dengan rasa bersalahnya.

“Untuk apa?”

“Aku salah mengira banyak hal tentangmu. Aku selalu berfikir negativ…”

Donghae tersenyum kecil, itu adalah senyuman untuk Hyukjae-pertama kalinya.”Kan aku sudah pernah bilang, setiap manusia itu punya banyak sisi. Dulu kau mungkin hanya melihat sisi buruku saja, tapi kau belum tahu sisi yang satunya lagi.” ucap Donghae. Hyukjae langsung mengangguk faham,”Tapi kali ini, aku tahu sisi hidupmu yang separuhnya.”

= = = = =

Entah ada angin apa, tapi hari ini Hyukjae berangkat kesekolah dengan rasa gembiranya. Ia berjalan agak cepat demi ingin cepat sampai ke sekolah.

“Apa dia masuk hari ini ya’?” tanyanya seorang diri. Dan Hyukjae berjalan dengan riang kembali menuju SMA Konabeans.

.

.

.

“Aish, menjijikan…”

“Aku tidak sangka kalau dia ternyata pria yang seperti itu!”

“Pantas saja wajahnya tampan seperti model, ternyata…”

Hyukjae berhenti pada kerumunan siswa yang memadati sebuah majalah dinding di loby sekolah. Ia pensaran dengan apa yang sedang di bicarakan mereka semua.

“Ada apa hei?” tanyanya tapi kesibukan murid-murid yang sedang bergosip itu membuat Hyukjae tergurbris. Ia memilih mencari tahu sendiri dengan apa yang sedang di bicarakan di pagi hari ini tersebut.

“MWO??! S-songsaenim??” Hyukjae memfokuskan pandangannya dengan serius-memperhatikan beberapa potong foto majalah yang tak asing ia lihat.

“Siapa yang menyebarkan ini semua??!! Jawab aku??!!” tanya Hyukjae kesal, semua murid menggeleng tak menahu.

Hanya satu nama yang ia duga menjadi dalang penyebaran foto Donghae di mading tadi,”Jongwoon-hyung!”

.

.

.

“A-apa maksudmu? Bukan aku sungguh!” elak Jongwoon saat Hyukjae dengan kasar menarik kerah seragam kemeja Jongwoon dan bertanya tentang penyebaran foto Donghae yang berpose intim dengan Blue,”Hyung jangan berbohong! Hanya kau dan aku yang tahu tentang masalah itu.”

Jongwoon mendorong tubuh Hyukjae kebelakang, dan membuat kerah kemeja Jongwoon agak tersobek saat tertarik tangan Hyukjae,”Majalah itu di jual di mana saja. Setiap orang bisa membeli majalah itu, jadi bisa saja kan’ kalau ada murid di sekolah ini yang membelinya dan menyebarkan foto Songsaenim itu.” Ujar Jongwoon yang masuk akal di fikiran Hyukjae.

“Ta-tapi itu kan’ sudah lama Hyung, lalu kenapa baru sekarang foto itu menyebar?” tanyanya.

“Mana aku tahu?!!”

Hyukjae membuang nafas beratnya, diam lemas. Ia duduk di bangkunya kembali dan teringat dengan gambar tadi. Hyukjae pun teringat sesuatu, sebuah benda yang ia taruh di bawah laci—yang ia lupa bawa pulang kemarin.

“Eh dimana majalahku itu?” tanya Hyukjae mencari apa yang ia cari. Hyukjae memandang Jongwoon yang sepertinya masih kesal dengannya,”Hyung! Dimana majalahku itu?! Majalah edisi bulan lalu yang ada gambar…” Hyukjae terdiam mematung. Fikirannya kembali memutar kejadian kemarin siang, saat seseorang meminjam sesuatu padanya dan membiarkan seseorang itu mengambil apa yang ingin di pinjamnya dari Hyukjae.

“Kibum?”

— Flashback hari kemarin —

“Oh ya Hyuk, kau punya penggaris?” tanya Kibum untuk meminjam sebuah benda kepada sang ketua kelas.

 

“Ada di dalam laci.” Jawab Hyukjae masih kaku.

 

“Di laci? Boleh aku pinjam?”

 

Hyukjae menatap Kibum dengan dingin,”TER-SE-RAH.” Balasnya.

— END Flashback —

Siang ini Donghae memasuki kelas dengan suasana horor. Biasanya semua murid menyapanya dengan sopan, tapi kali ini Donghae malah di hadiahi tatapan sinis oleh semua murid. Bagaimanapun Donghae harus tetap mengajar. Ia bukanlah guru yang ahli, tapi Donghae sedang belajar untuk menjadi guru yang profesional—bukan model profesional.

.

.

.

Sebelum pulang sekolah, Hyukjae memaksa untuk bertemu dengan Donghae di tangga dekat lobi sekolah.

“Maafkan aku Songsaenim, semua gambar yang terpajang di mading tadi pagi, itu semua dari majalahku.” Ucap Hyukjae tak enak hati. Donghae hanya memperhatikan Hyukjae di hadapannya.

“Tapi sungguh bukan aku yang memajangnya, aku berani bersumpah.” Tambah Hyukjae lagi.

Donghae tersenyum hambar,”Kibum yang melakukanya. Dia sudah meminta maaf padaku.” Ucapnya.

Lega. Setidaknya Hyukjae berhasil membuat Donghae percaya kalau skandal tadi bukan ia yang buat, tapi tetap saja Hyukjae masih merasa bersalah.

“Tapi aku ingin minta maaf. Kalau saja aku tidak membawa majalah itu kesekolah, mungkin saja tidak akan ada kejadian ini.” Ujar Hyukjae.

“Sudahlah Hyuk, itu sudah terjadi. Lagi pula, semua foto itu sudah di cabut—hanya tinggal aku memperbaiki sikap orang-orang kepadaku saja. Bagaimanapun juga, apapun yang di simpan dengan rapat, suatu saat pasti akan terbongkar. Ini contoh keduanya.”

Hyukjae kurang mengerti dengan ucapan Donghae tadi,”Contoh kedua?” tanyanya ingin lebih faham.

Donghae mengangguk,”Semalam, Hyungku juga akhirnya tahu kalau aku pernah menjadi model dewasa. Ia melihat foto ku yang terpajang di bar tempatnya bekerja. Dia marah besar padaku.” Jawab Donghae.

Iba dan iba. Persaan kasihan Hyukjae kepada Donghae kali ini benar-benar membuatnya merasakan kejatuhan yang sama.

“Maaf…”

= = = = =

Berbeda dengan hari kemarin, hari ini Hyukjae tidak bersemangat pergi kesekolah. Kejadian kemarin masih membekas di ingatannya.

“Kau kesiangan Hyuk?” tanya Jongwoon yang menyapa Hyukjae di depan kelas.”Iya, semalam aku tidur terlalu larut.” Jawabnya lunglai.

Rasanya aneh kalau Hyukjae berkata jujur bahwa semalam dirinya tak dapat tidur karna masih memikirkan perasaan Donghae yang sekarang di anggap rendah oleh semua penghuni sekolah.

“Jangan sering begadang Hyuk, kurang baik untuk kesehatan.” Jongwoon menasehati tapi Hyukjae hanya mengangguk dan masuk kedalam kelas,”Oh ya, Mr Lee tidak masuk hari ini.” Ucap Jongwoon lagi yang membuat Hyukjae menghentikan langkahnya,”Tidak masuk?” tanyanya –penasaran.

Jongwoon mengangguk,”Iya, ku dengar Songsaenim sedang berduka. Keluarganya ada yang meninggal dunia.” Jawab Jongwoon.

Hyukjae terkejut mematung. Kedua tangannya bergemetar. Hyukjae memikirkan sesosok anak laki-laki berwajah pucat pasi,”Lee Sungmin…”

= = = = =

7 hari waktu yang di minta Donghae untuk menghabiskan rasa kesedihannya setelah dongsaeng tercintanya pergi ke rumah Tuhan untuk selamanya.

Dan hari ini pria itu kembali masuk kesekolah, mengajar lagi.

Hari ini bertepatan pula dengan hari kasih sayang. Beruntung juga bagi Donghae, karna valentine membuat semua siswa sepertinya melupakan dengan skandal foto heboh beberapa hari lalu.

“Good morning everyone.” Sapa Donghae memasuki kelasnya, semua murid membalas sapaan seperti biasa. Kali ini tidak ada lagi dengan tampang sinis dari semua murid, valentine membuat suasana hati setiap orang menjadi ceria. Salah satunya Hyukjae. Ia yang paling ceria dalam pelajaran kali ini.

“Hari ini valentine ya’? apa kalian sudah mempersiapkan coklat dan bunga untuk pacar kalian?” tanya Donghae bersantai ria, semua murid tersenyum malu.

Jongwoon mengangkat tangan kanannya,”Lalu, apa Songsaenim sudah dapat coklat hari ini? Atau—mau memberikan coklat kepada someone special?” tanya Jongwoon menggoda guru muda itu.

Semua murid juga penasaran, termasuk Hyukjae.

“Err, i’m single. I don’t have any girlfriend or boyfriend maybe? Tsk. So, i’m not celebrate it.” Jawab Donghae dengan bahasa inggris.

Jongwoon terkekeh lalu menyikut lengan Hyukjae di sebelahnya.

“Wae? Kenapa kau menyikutku?” tanya Hyukjae.

Masih dengan tersenyum mencurigakan Jongwoon berucap,”Dia belum punya pacar Hyuk, cepat katakan cintamu padanya.” Goda Jongwoon.

Kedua pipi Hyukjae merona merah,”A-apa maksudmu Hyung.” Hyukjae agak salah tingkah, ia membolak-balikan buku pelajarannya.

“Aku tahu belakangan ini sikapmu pada Songsaenim agak—peduli. Sepertinya kau ada rasa. Cinta mungkin.” Ucap Jongwoon.

Hyukjae memandang sebal pada Jongwoon,”Jangan sok tahu!”

Tapi Jongwoon memang tahu. Mengetahui perasaan yang di simpan sang sahabat karib. Mengetahui bahwa Hyukjae mengubah rasa bencinya menjadi sebuah perasaan kecil di namakan CINTA.

.

.

.

“Songsaenim!!” panggil Hyukjae pada Donghae yang berjalan beberapa meter didepannya. Pelajaran sudah usai dan semua murid sudah berjalan pulang menuju rumah masing-masing, termasuk Hyukjae dan Donghae.

“Hyukjae?” Donghae berhenti dari jalannya, menunggu Hyukjae yang berlari kecil mendekatinya.

“Kita pulang bareng oke?” ujar Hyukjae. Donghae mengangguk.

Februari membuat suasana kota menjadi merah muda. Simbol cinta terpajang di setiap jalan. Para pecinta pun sepertinya merayakan valentine mereka dengan suka cita.

“Kau sudah tidak sedih lagi?” tanya Hyukjae yang memulai obrolan siang teduh itu.

“Tidak. Sungmin pasti bahagia di surga, dari pada harus tetap hidup tapi tersiksa dengan kankernya.” Jawab Donghae dengan tersenyum ikhlas.

Suasana kasih sayang itu menjadi kesedihan. Hyukjae terdiam saja dengan tetap berjalan bersama Donghae.

“Biasanya setiap valentine, aku selalu merayakannya dengan Sungmin. Tapi tahun ini tidak lagi.” ujar Donghae masih dengan tersenyum dan menghilangkan rasa dukanya.

Hyukjae memandangi senyuman Donghae yang baginya sangatlah manis di bandingkan rasa gulali.

“Songsaenim…” Panggil Hyukjae yang lantas mengehentikan langkah kakinya. Ia mengambil sesuatu yang tersimpan di saku jas seragamnya,”White Chocolate for you.” Ucap Hyukjae seraya memberikan coklat putih terbungkusi kertas kado berwarna merah muda tersebut.

“Untukku?” tanya Donghae memastikan walau dirinya sudah mengambil coklat tadi dari tangan Hyukaje.

Hyukjae mengangguk,”Ayo…rayakan valentine bersamaku—tahun ini.” Ucap Hyukjae dengan nervous.

Donghae tersenyum lebih manis, ia kembali berjalan pulang dengan—menggandeng tangan Hyukjae.

“Tahun ini, tahun depan dan tahun-tahun berikutnya…” ucap Donghae sembari berjalan dan menghirup segarnya udara februari penuh cinta itu

“Em. Maksud mu?” tanya Hyukjae dengan hati gugup karna Donghae menggandeng tangannya.

Donghae menoleh memperhatikan Hyukjae di sampingnya,”Kalau bisa, aku ingin merayakan valentine bersamamu, tahun ini, tahun depan dan tahun-tahun berikutnya.” Ujar Donghae lalu menghentikan lagi langkah kakinya. Berdiri di hadapan Hyukjae dan memberikan ciuman valentine untuk murid tercintanya itu.

“I love you.” Bisik Donghae di telinga Hyukjae.

Mereka berciuman kembali, di iringin salju februari yang turun membasahi tubuh mereka berdua.

= = = = =

END

 

[2012-02-13]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: