Posted by: blackcloudies | February 8, 2012

FF — Beijing Romance [Hangeng special Bday]

Title : Beijing Romance

Author : DweeRae

Cast : pairing!Hangeng/Heechul

Genre : Romance/Sho-ai/Yaoi

Rating : PG 17

Length : Oneshot

Disclaimer : The fic is belong to DweeRae

A/N : I hope they’re REAL  ~///~ *nyalain lightstick sambil nyanyi Destiny SJM bareng Jongwoon*

= = = = =

 

“Happy birthday.” bisik Heechul, ia memeluk Hangeng dari belakang dan mencium pipi kiri pria itu. Dari pantulan cermin di hadapan mereka, raut wajah bahagia terlihat menyelimuti hari bahagia ini. 9 februari

“Hadiah untukku?” tanya Hangeng yang memperhatikan wajah Heechul dari pantulan cermin tadi. Heechul tersenyum,”Aku lupa beli.” Jawabnya dengan malu. Hangeng juga ikut tersenyum.

“Heechullie,” panggil Hangeng dengan suara halus.

“Em?”

“Kau—mau ikut aku ke Beijing?” tanya Hangeng yang harus menunggu agak lama tentang jawaban Heechul.

“Terserah kau mau ajak aku kemana, asal bersamamu aku pasti akan ikut.” Jawab Heechul lalu mencium leher Hangeng dan tengkuk kekasihnya itu.

.

.

.

BEIJING

Mobil taksi yang di tumpangi Hangeng dan Heechul berhenti di depan sebuah perkarang rumah besar. Hangeng yang keluar dari mobil itu terlebih dahulu sesudah memberikan beberapa lembar uang untuk ongkos taksi yang ia tumpangi.

“Selamat datang.” Ucap Hangeng seraya membuka pintu mobil dan mempersilahkan Heechul untuk menginjak tanah perkarangan rumah milik keluarga besar Hangeng –di Beijing.

“Wah, rumahmu besar Han—dan terlihat seperti bangunan kerajaan china.” Puji Heechul memperhatikan setiap bentuk pahatan khas negeri tirai bambu tersebut yang berada di semua sisi bagian luar rumah.

“Yaa,” Hangeng merangkul Heechul,”…Anggap saja ini memang sebuah kerajaan, aku rajanya dan kau ratuku.” Tambah Hangeng.

Heechul mencubit pelan perut bidang Hangeng,”Aku kan pria. Masa’ jadi ratu. Stupid!” ucapnya.

“Oke, aku adalah raja dan kau pangeranku.” Ralat Hangeng yang membuat kedua pria itu tertawa geli.

.

.

.

Pintu rumah yang besar itu terbuka secara otomatis. Hangeng menggandeng tangan Heechul yang terasa dingin karna gugup tersebut, lalu mengajaknya masuk.

“Papa Mama.” Hangeng melepaskan genggamannya pada Heechul kemudian berjalan agak cepat mendekati kedua orang tuanya –mereka berpelukan.

Heechul hanya berdiri dengan terdiam memperhatikan mereka bertiga. Ia sangat gugup karna ini pertama kalinya bertemu kedua orang tua Hangeng di kediamannya langsung.

Heechul sudah dua kali bertemu dengan Ayah dan Ibu Hangeng tersebut. Pertama saat di korea ketika Hangeng mengajak kedua orang tuanya berlibur di pulau Jeju, lalu kedua di Hongkong ketika mereka berlibur ke disneyland saat musim dingin tahun kemarin.

Dan ini adalah pertemuan ketiga, tapi entah mengapa rasanya begitu berbeda.

“Heechullie, kemarilah.” Ibu Hangeng menarik lengan Heechul dan mengajaknya kesebuah ruangan, dimana banyak hidangan lezat sudah tertata rapi di atas sebuah meja besar dan panjang.

“Kau pasti lapar, ayo makan.”

Heechul duduk di sebuah bangku di antara deretan bangku lain, Hangeng menemaninya di samping.

Heechul terharu karna kedatangannya di sambut dengan ramah. Seperti sikap Tuan dan Nyonya Tan yang ramah kepadanya. Ia merasa sudah menjadi bagian dari keluarga kekasihnya itu.

“Wah, sepertinya enak. Apa anda yang membuatnya?” tanya Heechul kepada Nyonya Tan yang malah di balas oleh Tuan Tan,”Istriku sudah tua. Mana bisa dia masak, itu semua kami pesan langsung dari restaurant asia.” Ujarnya.

Heechul menunduk malu. Niatnya ia ingin memuji sang calon mertua, tapi ternyata salah kira.

“Nanti kalau kalian sudah menikah, ajari dia memasak Han.” Ucap Tuan Tan lagi, Hangeng mengangguk,”Iya Pa.”

“Walau dia seorang pria, tapi memasak itu bisa di lakukan oleh siapa saja kan’ jadi dia harus bisa memasak, mengurusmu juga.” Tambah Tuan Han.

“I-iya Pa.” Jawab Hangeng  lagi dengan agak kikuk.

Heechul memasang senyuman palsunya. Sebuah senyuman yang terlihat di paksakan. Entah mengapa, perkataan Tuan Tan padanya membuat Heechul sedikit lesu. Yang tadinya lapar pun, Heechul menjadi kenyang dan tak bernafsu lagi.

Hangeng menoleh kesampingnya, memperhatikan tangan cantik Heechul yang sedikit bergemetar. Hangeng meraihny, menyatukan telapak tangan mereka,”Heechul itu pandai masak, aku pasti akan sangat terurus jika hidup bersamanya di masa depan nanti.” Ucap Hangeng –berbohong.

Belum ada satu menit Hangeng berkata seperti itu, tapi Heechul sudah mengklarifikasinya,”Tidak. aku tidak bisa masak, aku tidak pandai—aku hanya bisa memasak mie instan, tapi aku janji akan belajar masak.” Ucapnya tanpa menoleh sedikit pun pada Hangeng yang sedang memperhatikannya.

“Bagus kalau begitu. Jadi aku tidak usah khawatir lagi tentang Hangeng.” Ujar Tuan Tan lalu menyeruput kopinya.

“Dulu aku juga sepertimu Heechullie, aku hanya bisa masak mie instan saja. Tapi lama kelamaan aku jadi bisa masak masakan rumah.” Ucap Nyonya Tan yang membuat Heechul menjadi tenang.

Ketenangan itu tak lama saat Tuan Tan mengucapkan sebuah pertanyaan lain—pertanyaan yang agak sensitif,”Lalu bagaimana dengan anak kalian?”

Nyonya Tan terlihat seperti tak enak hati saat mendengar suaminya bertanya hal itu. Ia hanya bisa terdiam.

“Maksud Papa apa?” Hangeng berbalik bertanya, ia semakin kuat mengenggami tangan Heechul.

“Anak ya anak. Aku tahu—kalian tidak mungkin bisa. Tapi apa kalian punya rencana yang lain, ya—seperti mengadopsi anak atau apa?”

Heechul tertunduk sedih, ia tidak sangka hari kedatangannya yang semula di sambut dengan keramahan ternyata menjadi terbalik saat sang Ayah dari pria yang di cintainya mengutarakan beberapa kalimat tadi.

“Aku akan mengadopsi anak. Satu atau dua mungkin.” Jawab Hangeng mencoba santai walau sebenarya ia tak bisa menipu perasaan kesalnya terhadap sang ayah.

“Ya, itu pasti sangat sulit untuk kalian. Tapi berusahalah.” Ujar Tuan Tan.

.

.

.

.

.

Seusai makan siang yang kurang menyenangkan tadi, Heechul memutuskan untuk membantu Nyonya Tan membereskan hidangan makanan yang tersisa maupun beberapa piring cucian yang kotor.

“Hangeng itu anak rumahan, dia jarang bermain dengan teman-temannya di luar rumah. Makanya dia sering membantuku di dapur, dulu.” Ucap Nyonya Tan mengenang masa kecil Hangeng. Heechul tertarik dengan cerita tersebut, ia pun ingin lebih mendalami kisah masa lalu kekasihnya.

“Apa dia anak yang nakal?” tanya Heechul dengan kedua tangan mencuci beberapa peralatan makan yang kotor. Nyonya Tan menggeleng,”Tidak. Han pendiam tapi dia murid yang pandai di sekolahnya. Dia sangat suka ballet dan menari, Hangeng sangat ahli di bidang itu.” Cerita Nyonya Tan.

Heechul tersenyum, ia pun membagi kisah tentang Hangengnya pada sang calon ibu mertua,”Tapi Han juga pandai menyanyi. Dia—sering menyanyi di apartment kami.” Ucapnya yang membuat Nyonya Tan sedikit histeris,”Waa, aku jarang mendengar dia bernyanyi. Err—bagaimana kehidupan kalian di korea? Apa Hangeng mengalami banyak kesulitan?” tanya Nyonya Tan serius.

Heechul mengangguk kecil,”Sedikit. Tapi Han bisa mengatasi semua itu.” Jawabnya.

Nyonya Tan mengelus rambut hitam Heechul, sama seperti yang sering ia lakukan kepada Hangeng,”Aku tahu, bersamamu Hangeng tidak akan pernah kesulitan. Aku selalu mendukung kalian berdua.” Ucapnya. Heechul merasa kedua matanya agak basah dan hangat. Ia sadar akan sesuatu kalau di dunia ini kehidupan di bumi memang seperti bentuk bumi itu sendiri, bundar. Dan terdapat dua bagian, atas dan bawah. Sama seperti hati manusia, kadang ia merasa berada di atas kebahagiaan, kadang berada di bawah keterpurukan. Heechul faham tentang itu—ketika Tuan Tan seperti kurang menyukainya, tapi ada orang-orang yang akan selalu memberikan dukunganya, seperti Nyonya Tan yang begitu baik hati.

= = = = =

Heechul berjalan pelan menuju sebuah kamar yang berada di lantai dua. Baru saja ingin membuka kenop pintu kamar besar tersebut, Hangeng di buat penasaran pada sebuah ruangan yang berada di samping kamar itu.

Ruangan itu sebeneranya besar, tapi karna banyak barang-barang yang berada di dalamnya membuat ruangan itu agak sempit. Beberapa lemari rak buku ada di dalam sana-menyimpan ratusan buku-buku dan beberapa dvd film.

Di bagian setengah ruangan itu sudah di padati oleh sofa besar dan meja berbentuk lingkaran yang besar juga –lalu di depannya ada sebuah layar flat televisi yang sangat besar.

Di sekeliling ruangan itu banyak terpajang foto-foto. Heechul tersenyum senang saat melihat beberapa potret di sana kebanyakan memajang foto Hangeng, dari yang umur belia hingga dewasa seperti sekarang.

“Lucu sekali kau Hannie.” Ucap Heechul saat melihat foto Hangeng yang sedang berpose lucu dan sedang mengenakan seragam SMP.

Heechul beralih ke meja belajar yang terletak di dekat lemari-lemari tadi. Heechul memperhatikan beberapa patung-patung kecil yang berada di atas meja tersebut—lalu senyumnya menjadi hilang saat ia melihat sebuah foto kecil yang terpajang di atas meja tersebut.

Itu adalah foto Hangeng bersama seorang wanita, sangat cantik dan mereka terlihat serasi. Walau tahu itu foto lama yang terlihat dari seragam SMU Hangeng dan wanita itu, tapi entah mengapa Heechul menjadi cemburu.

“Kau sedang apa? Aku menunggumu di kamar tapi kau tidak datang juga, ternyata kau kesini.” Hangeng yang memasuki ruangan yang sama sedang berkata kepadanya, tapi Heechul seperti menghiarukan. Pandangannya tetap terfokus pada foto itu.

Hangeng yang sadar Heechul sedang melihat foto lama dirinya langsung mengambil paksa bingkai kecil itu,”Jangan di lihat.” Ucapnya, lalu dengan kasar menutup foto tersebut ke atas meja,”Kembalilah ke kamar.” Ajak Hangeng pada Heechul, tapi pria korea itu masih saja penasaran,”Dia—Zhang Liyin?” tanyanya. Kedua mata mereka bertatapan dengan kosong.

“Dia pasti Zhang, mantan kekasih mu itu kan’?” tanya Heechul lagi.

Hangeng tak menjawab apapun, ia segera menarik lengan Heechul dan mengajaknya untuk kekamar.

.

.

.

“Kau kan tahu itu adalah masa lalu dan lagipula aku tidak suka membahas yang sudah usai, jadi lupakanlah Hee.” Ucap Hangeng yang duduk di ranjang besarnya—bersama Heechul.

“Arra!! Aku kan tadi hanya bertanya saja, kenapa kau jadi marah?!”

“Karna aku tidak ingin kau salah faham.”

Heechul merangkul lengan Hangeng dan menyenderkan kepalanya pada bahu milik Hangeng.”Aku selalu mempercaimu Han. aku—mana mungkin menjadi salah faham hanya karna sebuah foto.” Ujar Heechul.

Kamar Hangeng yang luas itu kebetulan menghadap langsung kearah barat –dimana biasanya saat sore matahari tenggelam bisa di lihat dari sana.

Seperti sekarang, warna jingga yang di pantulkan awan-awan di langit itu membuat matahari terlihat semakin cantik. Tenang dan damai.

“Ini Beijing.” Ucap Hangeng pelan. Ia menoleh memperhatikan wajah Heechul. Hangeng melihat di kedua bola mata Heechul ada matahari jingga yang sangat indah—seperti Heechul. Malah terlihat kalah dari wajah Heechul.

“Apa malam terlihat keren dari sini?” tanya Heechul.

“Hum, sangat. Kau pasti akan takjub. Lampu-lampu di kota terlihat seperti fire works.” Jawab Hangeng.

“Benarkah?? Wah aku penasaran ingin melihat pemandangan malam Beijing, pasti sangat-sangat memukau.”

Hangeng mengangguk,”Sangat indah Hee. Tapi—malam ini sepertinya kita tidak bisa melihat pemandangan Beijing yang indah itu.” Ujarnya, Heechul segera membangunkan kepalanya dari pundak Hangeng.

“Wae??! Kenapa tidak bisa lihat??! Memang kita mau kemana Han?”

Hangeng tersenyum manis saat melihat wajah penasaran Heechul, ia belum membalas dengan ucapan lain, tapi Hangeng membalasnya dengan sebuah ciuman mesra dibibir.

“Karna, malam ini kau harus memberi hadiah ulang tahun untukku.” Ucap Hangeng lalu melanjutkan ciuman mereka. Menjatuhkan tubuh mereka keatas ranjang dan bercinta sepanjang malam di kota Beijing.

Beijing Romance

END

[2012-02-03] DweeRaegnusey

*___________*

 

Advertisements

Responses

  1. suka ^^

    • ghamsa ^^

    • makasih 🙂

  2. Hanchul keren kangen hanchul, daebak thor!

  3. […] Story […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: