Posted by: blackcloudies | January 22, 2012

FF — Apple Love

APPLE LOVE ~

 

By. DweeRae and Ira

 

Genre    : Romance

Rate       : T-PG17

Cast       : YEWOOK-main! Kim Heechul and Kim Sungrae (fiction!)

A/N       : This fic special for Ryeowook’s birthday and special too for YEWOOK shipper ^^ miahne, it’s too lateeeeeee ;____;

Disclaimer          : Yesung is Dweerae’s eternal prince and Ryeowook is Ira’s lilbro ^^ and they (Yesung and Ryeowook) are cute couple kekeke^^~ and, The Story is OURS!

Warning              : YAOI !

 

= = = = =

Kau, seperti apel.

Seperti,

Pacific rose apple…

Begitu manis, harum dan cantik.

= = = = =

“Kapan Wookie bisa tumbuh besar?”

Pertanyaan yang selalu membuat Kim Heechul pusing tujuh keliling. Pertanyaan ini berwujud  dari sebuah pandangan dimana Kim Ryeowook –anaknya- yang sudah menginjak usia remaja masih aja kelihatan seperti anak-anak. Bukan akal pikirannya, tapi tubuhnya yang kelihatan kecil dari dulu.

Ryeowook mempunyai tubuh yang mungil dengan mata bulat dan kecil serta kedua pipinya yang dihiasi semburat berwarna merah muda. Bibir pink-nya mempunyai garis yang lembut dan terkesan imut dengan hidungnya yang juga kecil tapi mancung. Rambutnya berwarna coklat madu dan kelihatan halus bila disentuh.

Apa yang ada di dalam pikiran kalian setelah melihatnya? Dia terlihat seperti gadis kecil bukan? Tapi sayangnya dia seorang namja. Namja remaja yang terjebak di tubuh yang mungil dan kebetulan mempunyai wajah yang  cantik.

Kim Heechul bukanlah type orang yang menuntut kesempurnaan. Tapi pendeskripsian tentang Ryeowook tadi yang membuatnya bingung. Bingung dengan tubuh Ryeowook yang begitu lamban.

Maka dari sinilah semua dimulai. Disebuah Fruit Market yang berada tak jauh dari apartemen baru mereka. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk belanja buah-buahan segar, yang kata Heechul bagus untuk pertumbuhan Ryeowook.

“Pokoknya Wookie harus banyak makan buah  biar tinggi kayak Daddy. Liat tuh, tubuh kamu kelihatan imut dari dulu.”

Sejak mereka sampai disini, Heechul terus-terusan mengomel tentang pertumbuahan Ryeowook. Tangannya yang cekatan sibuk memilah buah-buahan yang segar, lalu di masukkan ke dalam troli yang di dorong Ryeowook.

Sunkist

Pear

Apple

Ryeowook yang kesal cuma bisa menunduk dengan wajah cemberut yang memerah  menahan malu. “Dad, berhentilah membuatku malu…” ujarnya pelan. Dia berusaha memberitahu kalau sekarang mereka jadi pusat perhatian. Lagian kenapa harus ngomel-ngomel disini coba?

Tapi kayaknya Heechul nggak dengar tuh , atau pura-pura tidak mendengar? Mulutnya tidak berhenti mengomeli Ryeowook yang kini berharap mempunyai jubah menghilang ala Harry Potter. Malu banget jadi pusat perhatian begini.

Strawberry

“Daddy… Rae mau strawberry…” Kim Sungrae, bocah perempuan yang nggak kalah imut dari Ryeowook menarik-narik celana jeans Heechul. Ayah cerewet itu tidak mendengar permintaan si bungsu karena sibuk menasehati Ryeowook.

“Daddy! Aku mau strawberry~ huweeee…” Tangan mungil Sungrae kini menarik-narik tangan Heechul. “Strawberry, daddy…”

Heechul berhenti mengomel setelah si kecil berteriak dengan mata yang berkaca-kaca mirip anak kucing yang minta susu. Kayaknya Ryeowook harus ngucapin makasih buat adik kecilnya ini.

“Ada apa Rae?” tanya Heechul. Dia mensejajarkan tubuhnya dengan Sungare, lalu mengusap rambut coklat anaknya.

“Rae mau strawberry!” katanya dengan terbata-bata.

“Nanti ya, Daddy harus bicara dengan Oppa-mu.” Heechul melirik Ryeowook yang masih masang tampang cemberut di balik troli belanjanya.

“Rae maunya sekarang!” tuntutnya.

Heechul menghela nafas berat. Menjadi single parent itu gampang-gampang susah, terlebih lagi menghadapi putri bungsunya. Seandainya aja mamanya anak-anak masih ada, pasti dia nggak serepot sekarang.

“Rae bisa ambil sendiri ‘kan?”

Sungrae nggak protes, tapi dalam hati dia berkali-kali menggumamkan kata, ‘Daddy jahat!’

.

.

.

HUP!

Sungrae melompat-lompat kecil meraih kotak strawberry yang pendisplayannya ada di rak lantai tiga. “Daddy,” panggilnya. “Strawberry-nya tinggi banget aku nggak nyampe. Tinggi aku kan imut,” lirih Sungrae yang kelelahan karena upaya mengambil strawberry tadi. Tapi dilihatnya Heechul sedang sibuk memilih-milih sunkist.

Akhirnya dia hanya bisa mengembungkan pipi chubby-nya sampai sepasang tangan mungil mengambil sekotak strawberry segar untuknya.

“Ini strawberry-nya nona kecil,” si tangan mungil lalu mengacak-acak rambut coklat Sungrae.

“M- makasih…” Sungrae  menggenggam kotak strawberry-nya erat-erat. “Makasih om tampan…” ucap Sungrae berbinar-binar. Matanya berkedip-kedip lucu memperhatikan si ‘om tampan’.

Ryeowook yang menyusul Sungrae karena kelamaan, sedikit waspada sama orang asing yang sedang berbicara dengan adiknya. “Rae, oppa nyariin kamu dari tadi.” Ryeowook menghampiri Sungrae yang sedang menatap si pemilik tangan mungil dengan malu-malu. “Rae, ini siapa?” tanya Ryeowook curiga. Dia memicingkan matanya, memperhatikan si tangan mungil dari atas kebawah.

Laki-laki yang tampan dengan kulit putih yang pucat. Rambutnya hitam agak kecoklatan dan sedikit berantakan, Bibirnya  kecil dipadu dengan hidungnya yang mancung. Mata bulan sabitnya dibingkai eyeliner hitam, hingga membuat matanya kelihatan tajam namun teduh dengan kedua pipi chubby ketika dirinya tersenyum manis. Sepertinya dia bekerja disini, itu terlihat dari seragam yang dikenakannya.

“Ini om tampan yang nolongin aku, oppa…” sahut Sungrae tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah laki-laki itu.

”Yak Rae! Oppa ‘kan pernah bilang jangan dekat-dekat dengan orang asing, apalagi om-om,” tuding Ryeowook.

Eh? Om?

“Hei! Aku masih muda, jangan panggil aku om-om,” kata orang itu sewot. Dia lalu menunduk, mensejajarkan tingginya dengan Sungrae. “Hei gadis kecil, panggil aku Yesung oppa, oke?” sambungnya kemudian.

Belum sempat Sungrae menjawab, Ryeowook langsung membawa kabur adiknya. “Dasar om-om mesum!”

.

.

.

Ini sudah menit yang ke 45, Kim Heechul dan kedua buah hatinya masih menusuri pusat penjualan buah terbesar di kota tempat tinggal mereka tersebut.”Daddy aku lelah, ayo kita pulang.” Ajak Sungrae yang merasa kedua lututnya udah nggak sanggup lagi meneruskan pemburuan Heechul akan buah-buah segar di toko tersebut.”Tunggu sebentar lagi Rae-ah.” Jawab Heechul dengan tidak menghiraukan princess kesayangannya tersebut. Padahal troli sudah memuat banyak belanjaan yang Heechul beli dan membuat Ryeowook susah payah mendorong trolinya.

“Ah…” Heechul melegakan otot lehernya, mungkin ia juga telah kelelahan.”Baiklah kita pulang ajah, lagian persedian buah yang kita beli udah lebih dari cukup.” Katanya lagi. Senyum kelegaan tergambar dari bibir manis Ryeowook dan Sungrae.

“Um, Daddy…” panggil Ryeowook dengan tampang kecut. Ada sesuatu yang Ryeowook harus dan segera ia lakukan pada dirinya sendiri. Dan itu sangat urgent.”Kenapa lagi Wookie?” Tanya Heechul segeranya setelah panggilan itu. Ryeowook memasang tampang melas dengan kedua kaki kecilnya di hentakan pelan,”Aku…aku kebelet pipis, aku mau ke toilet sebentar. Boleh?” tanyanya dengan berharap.

“Aish…yasudah cepat sana kamu ke toilet, Daddy dan Sungrae nunggu kamu di parkir nanti ya.” Jawab Heechul yang belum selesai di teruskan namun Ryeowook sudah berjalan cepat menuju kesebuah tempat yang terpampang tulisan ‘Toilet’ di atas sudut ruangan tersebut.

.

.

.

6 menit

Bukan, 7 menit telah berlalu dan sosok mungil Ryeowook belum juga tampak mengahampiri Heechul dan Sungrae yang sudah menungguinya di depan parkir market itu.

“Lama banget Wookie-oppa! Rae mau cepet-cepet pulang Daddy…” rengek Sungrae.”Shh, mungkin Wookie bersemedi di dalam toilet. Kebiasaan yang buruk.” jawab Heechul seadanya.

10 menit berlalu

“Lama Wookie-Oppa!!!…” keluh Sungrae lagi dengan tampang masam nya –menunggu sang kakak yang belum juga tiba. Di samping ia berdiri, Heechul juga terlihat kesal menanti putra-nya tersebut. Dengan kedua kantung plastic yang berisi banyak belanjaan, semakin membuatnya kesal dalam situasi itu. Kemana Wookie?

Sebuah panggilan masuk dari ponsel milik Heechul yang tersimpan dalam saku celananya. Langsung saja ia mengangkat panggilan dari seberang tersebut.”Hallo, iya saya Kim Heechul…”

“Ke-kenapa?”

“…………………”

“WHAT DA HELL?!!! Kebakaran??” tak lama panggilan singkat itu terputus. Wajah Shock terpampang sekali dari raut wajah cantik Heechul. Dia panik.

“Daddy~ kenapa? Please jangan acting menakutkan begitu.” Tanya Sungrae ingin tahu.

Heechul menoleh perlahan ke arah Sungrae, menatapnya dengan penuh kegetiran.”Sung-rae-ah…r rumah kita…” Heechul menghela nafasnya.

“Rumah kita, kebakaran Rae!.” Tambahnya. Sungrae membulatkan matanya, dan menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua telapak tangan imut-nya.

“Kkk-Kura-kura ku Daddy, pasti mereka ikut gosong. Bagaimana ini.” Sungrae yang menghawatirkan keadaan tiga ekor kura-kura nya ikutan panik pula.

“Cepat, kita pulang Rae-ah!.” Ajak Heechul yang berjalan duluan menuju tempat parkir mobil. Dan Sungrae menyusul sang ayah dari belakang.

Mereka berdua, sesegera mungkin meninggalkan toko buah tersebut. Dan beranjak pulang kembali.

Berdua, saja.

.

.

.

Pintu kaca yang bersih dan tebal itu terbuka. Udara dingin petang hari itu langsung terasa segar menyerubungi pipi manis Ryeowook dan membuat rambutnya berantakan.

“Daddy?~” panggilnya pelan. Ryeowook sudah berada di depan toko buah nya. Tapi, ia nggak melihat tanda-tanda keberadaan Daddy-nya maupun Sungrae. Ia menoleh kesegala penjuru,”Daddy…Sungrae?” panggilnya pelan dengan kedua mata masih jeli mencari sosok kedua orang terdekatnya.”Dimana kalian?” tanyanya yang kini mulai dengan kecemasan.

“Daddy…”

.

.

.

Juni yang dingin.

Ryeowook masih berdiri di depan toko. Hari petang kini hampir gelap. Dalam diam-nya Wookie, sapaan akrabnya, sedang sedih dan putus asa. Ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia menahan tangisan air matanya.

Seorang pria muda di kota yang baru saja ia datangi, sendirian di sebuah toko, tanpa uang dan ponsel. Parahnya, dia sama sekali nggak tau dengan alamat pasti rumah barunya. Bocah malang yang kini amat kesepian.

‘Daddy kau jahat sekali.’ Dalam hati, berulang-ulang Wookie mengutuk akan semua yang terjadi pada dirinya sekarang.’Aku takut Daddy.’ Benaknya dengan cemas. Wajahnya kini bersemu merah, hampir menangis. Tepatnya, menangisi sebuah kebodohan.

“Aku lapar.” Ucapnya pelan.”…Dan, takut.” Tambahnya bersemu.

Ryeowook menyender pada pinggir kaca toko tersebut. Dengan lemas.

Tok

Tok

Tok

Terasa bunyi nyaring dari balik kaca tersebut. Ryeowook pun menoleh pelan –melihat seseorang dari dalam yang mengetuk kaca itu.”Ih, om om aneh itu lagi.” Ucapnya pelan. Ryeowook melihat Yesung dari dalam tokonya,  sedang berkata sesuatu namun ia kurang bisa dengar dengan jelas karena begitu tebalnya kaca yang membatasi mereka.

“Apa?” Tanya Ryeowook tidak mengerti apa yang Yesung katakan kepadanya.

Yesung terdiam sebentar, lalu mengacak-acak rambutnya. Tak lama ia mengambil ponsel-nya dan mengutak atik sesuatu pada ponsel tersebut.

Tap

Yesung menempelkan ponselnya pada layar kaca, dan membuat Ryeowook dengan mudah membaca sebuah kalimat yang tertulis di layar ponsel tersebut.

‘Sedang apa kau di luar sana?’

“Oh, aku…tertinggal di sini sendirian.” Jawab Ryeowook lemas. Dari dalam toko Yesung malah sama tidak mengertinya karena suara Ryeowook yang tidak begitu jelas terdengar.

Ryeowook menunduk lesu. Ia lupa kalau dirinya tidak membawa ponsel. Jadi bagaimana bisa dia melakukan conversation via ponsel dengan Yesung di dalam sana.

“Kenapa kau belum pulang? Aku…dari tadi melihatmu di luar, kau seperti anak kehilangan.” Dengan jelas sekali terdengar seseorang berkata dan bertanya pula kepada Ryeowook.

Ryeowook mengangkat kepalanya dan melihat kearah sesosok pria yang berada di dalam tadi. Ia –melihat Yesung, yang sudah tepat di depan dirinya berdiri.

.

.

.

“Ini…pacific rose apple untukmu.”

Tangan mungil itu mengadahkan sebuah apel berukuran sedang dengan kulitnya yang berwarna merah terang –ke kehadapan Ryeowook yang sedang duduk bersila dan dengan kepala yang ia senderkan pada dinding sebuah gudang kecil.

“Untuk-ku?” tanyanya dengan wajah polos dan semakin membuat Ryeowook terlihat imut.

Yesung menganggukkan kepala-nya dua kali –masih menyodorkan apel tersebut.”Iya, kau pasti lapar? Makannya ini apel untuk kamu.” Ucapnya dengan senyum simpul.

Ryeowook meraih apel-nya, mengelap apel tersebut dengan sweeter yang ia kenakan, dan langsung melahapnya.

“Kau aman di sini, dan tenang saja nanti begitu selesai kerja, akan ku antar kau pulang sampai rumahmu.” Ucap Yesung dengan kedua mata memandang fokus Ryeowook yang sedang dengan lahapnya memakan apel lezat itu.

“Ne, thanks Yesungie…” jawab Ryeowook. Yesung tersenyum kepada Ryeowook yang baru ia kenal beberapa waktu lalu. Yesung kembali melanjutkan pekerjaannya di toko tersebut.

‘Dia…pria yang baik, dan manis.’

.

.

.

Ryeowook masih terduduk bersila, dan menyender pada dinding di dalam gudang. Gudang kecil yang berada di dalam toko buah tempat Yesung bekerja. Yah, walau dengan susah payah Yesung membawa Ryeowook masuk ke gudang lama dan tidak terpakai itu. Tapi, setidaknya sekarang Ryeowook aman dan lebih nyaman berada di dalam gudang itu dari pada di luar sana yang ber-udarakan dingin. Dengan tenang, pria mungil itu menunggu jam kerja selesai dan menagih janji pada Yesung yang katanya akan mengantarkan dirinya untuk pulang dengan selamat.

“Huftt…” ia membuang nafas beratnya. Menatap sekeliling penjuru ruangan sesak itu.

Ada sebuah kaca kecil yang berada di tengah pintu gudang itu. Kaca yang terlihat gelap dari luar, namun bisa terlihat dengan jelas dari dalam. Ryeowook membangkitkan tubuh mungilnya, lalu berjalan pelan kearah pintu itu. Berdiri di sana, dan…melihat situasi di toko tersebut.

Ramai, dan sesak.

Tentu saja toko terlihat ramai dan sesak saat malam hari, karena pada jam segitulah konsumen biasanya datang untuk berbelanja buah segar. Lagi pula, di kota ini hanya ada satu toko buah besar, dan itu adalah toko buah tempat Yesung bekerja.

Ryeowook penasaran dengan keadaan di luar gudang. Ia ingin sekali melihat keramaiaan di dalam toko tersebut.

Dengan kedua mata sipitnya, Ryeowook melihat keadaan ramai itu. Dan, tidak bisa di pungkiri, kedua pandangannya juga memperhatikan seseorang yang sedang berada di sana pula. Seseorang yang baik hati dan mempunyai senyum amat manis. Seseorang yang ia kenal bernama Yesung.

Yesung.

Ryeowook melihat pria itu. sedang mendisplay apel. Membantu customer memilih buah yang baik. Menjelaskan rasa dari buah-buah yang berada di pendisplay-an.

Melihatnya tersenyum, tertawa riang ketika melihat sesuatu yang heboh.

Melihat keramahannya.

Melihat tingkahnya, yang abstrak.

Melihatnya menyeka keringat ketika saat ia kelelahan.

“Yesungie.” Ucap Ryeowook pelan dengan senyum simpul yang paling manis.

.

.

.

.

.

“Terimakasih udah nganterin aku pulang.” Ucap Ryeowook pada Yesung dengan membungkukan tubuhnya 45 derajat.

“Eum, aku juga harus berterimakasih padamu, karna kau menemaniku dalam perjalanan pulang hari ini. Yah, walau rumah kita tidak satu arah, tapi malam ini jadi menyenangkan.” Balas Yesung.

Mereka berdua telah sampai di sebuah rumah kecil bergaya minimalis. Terlihat di dalam rumah itu, lampu-lampu masih menyala dengan terangnya menandakan sang pemilik rumah belum terlelap.

“Tanpa kau Yesungie, aku pasti jadi gembel jalanan. Sekali lagi terimakasih.” Ujar Ryeowook berterimakasih untuk kedua kalinya. Yesung tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan.”Aku, hanya membantu saja. Lagian, pria manis seperti mu, tidak baik berkeliaran seorang diri di malam hari.” Jawabnya.

Pria manis? Ucapan jujur Yesung benar-benar membuat kedua pipi Ryeowook merona merah.

“Oh ya, lebih baik cepat kau masuk. Udara malam di sini dingin, dan aku juga harus segera pulang.” Tambah Yesung.

Di acak-acakannya rambut Ryeowook oleh kedua tangan imut Yesung.”Selamat tinggal.” Katanya dan segera berlari menuju arah tempat mereka berjalan tadi.

“Selamat –tinggal…?” Tanya Ryeowook seorang diri –terus memperhatikan punggung Yesung dari belakang.

“Ya~ seharusnya dia bilang ‘Sampai jumpa Wookie’ atau ‘Semoga bertemu kembali suatu saat’.” Gerutu nya dengan lugu. Ryeowook merapikan rambutnya yang berantakan karena Yesung mengacaknya tadi. Ia tersenyum –membayangkan kejadian tadi. Semua kejadian pada hari ini. Saat dirinya di selamatkan oleh Yesung, di berikan Yesung sebuah apel yang manis, saat Yesung mengantarkannya pulang kerumah –walau dalam perjalanan di bus mereka berdua diam seperti orang asing, saat mereka sampai di rumah, saat Yesung bilang kalau dirinya ‘Pria manis’ dan, ketika Yesung mengacak-acak rambutnya.

Itu, kejadian yang indah.

“Yesungieee~” panggilnya dengan gemas. Ia melipat kedua telapak tangannya seraya berdoa.”Tuhan, semoga kami bertemu kembali.” Doa-nya.

“Good night Yesungie.” Ujarnya seorang diri seperti orang yang tidak waras.

.

.

.

.

.

“Oppa-oppa! Kemana saja kau? Kami mencarimu.” Sungrae langsung memeluk kaki Ryeowook ketika Oppa-nya itu baru saja pulang.”Ya~ Wookie, kau kemana saja. Membuat kami khawatir.” Heechul dengan tampak cemas, langsung memeluk putra pertamanya itu. memeriksa keadaannya juga.

“Harusnya aku bertanya pada kalian, kenapa aku di tinggal di Toko? Kenapa kalian langsung kabur begitu saja?” Ryeowook bertanya dengan nada sengit.

“Oppa~ kau tahu tadi aku dan Daddy mendapat hoax dari tetangga, mereka bilang rumah kita kebakaran.” Jawab Sungrae dengan polos.”Ia, langsung saja Daddy dan Sungrae pulang kerumah. Tapi, ternyata yang kebakaran itu kandangnya Heebum.” Tambah Heechul menceritakan kesalah pahamannya tadi.

“Untung ajah kura-kura ku nggak lagi bermain di kandangnya Heebum. Kalau nggak, bakal habis kebakar mereka.”

“Ah, Rae-ah. Kandang Heebum kebakaran juga karna Kura-kura kamu, kalau ajah mereka nggak sengaja numpahin bensin, pasti peristiwa ini nggak akan terjadi.”

Sementara Heechul dan Sungrae sedang berdebat tentang peristiwa kebakaran kecil itu, Ryeowook malah berlalu menaiki tangga menuju kamarnya. Dengan masih memutar kembali memory-memory indah yang ia alami tadi bersama Yesung.

“Daddy jangan fitnah Kura-kura ku!. Karna nggak ada bukti yang kuat kan kalo kura-kura ku salah.”

“Habis, siapa lagi yang patut di salahin. Pasti ketiga Kura-kura kamu itu yang bandel!”

“Daddy!!!!!”

.

.

.

.

.

Tiga hari selanjutnya, Kim Heechul bersama kedua buah hatinya berbelanja kembali di fruit market tersebut. Sepertinya persediaan buah di lemari pendingin rumah mereka telah habis, oleh karena itu mereka berniat berbelanja kembali.

Tidak seperti Heechul dan Sungrae yang biasa saja memasuki toko buah tersebut, Ryeowook di dalam hati kecilnya merasa nervous dan gugup saat ia melangkahkan kaki kecilnya memasuki toko tempat seseorang yang ia kenal pasti sedang bekerja di dalamnya. Yesung…ia mencari sosok pria itu dalam keramaiaan toko di sore hari yang teduh tersebut.

Yup. Ia berhasil menemukan sosok Yesung yang ia cari. Sedang berada di depan tempat pen-display-an jeruk. Yesung sedang melayani dua orang –kekasih?

“Untuk membuat parcel, biasanya buah standar yang di pakai itu…Apel, pear, anggur, dan jeruk. Bagaimana?” Tanya Yesung pada dua orang pria yang sedang memikirkan buah apa yang bagus untuk di buatkan parcel.

“Bagaimana Ming?” Tanya salah satu pria di antara mereka.”Terserah kau saja Kyu.” Jawab pria satu-nya lagi yang mengenakan scarft berwarna merah muda. Mereka berdua terlihat sedang berdiskusi kecil, sedangkan Yesung hanya diam saja berdiri di dekat mereka. Menunggu keputusan yang akan di ambil oleh kedua pasangan itu.

“Ah, baiklah kami akan mencari-cari dulu buah yang bagus, setelah itu baru di buatkan parcel.” Jawab salah satu diantara mereka yang bertampang iblis, evil.

Yesung mengangguk dan tersenyum –menunjukan loyalitasnya sebagai karyawan yang baik.

“Yesungie~” panggil Ryeowook pelan dari seberang meja tempat pendisplay-an jeruk. Yesung yang berada di seberang meja sepanjang 2 meter tersebut langsung menoleh.

“Wookie!!!” sahutnya dengan antusias,”Ya~ kau kemari lagi. Aku senang sekali melihatmu kembali. Wookie…” tambahnya dengan bahagia.

Kedua pipi Ryeowook memerah. Jantungnya pun berdegup dengan tak biasanya, apalagi saat kedua langkah Yesung mendekati dirinya berdiri.”Wookie…” panggil Yesung dengan riang.

“Kau kemari dengan keluarga-mu?” Tanya Yesung dengan ramah.

“I-iya, aku kemari bersama Daddy dan Sungrae, kami mau beli…” jawaban Ryeowook terputus ketika dua sepasang ‘Kekasih’ mendekati Yesung,”Kalau pear sinco ini, apa bagus buat di bikin parcel?” tanyanya.”Ah, Kyu…pear itu terlalu besar, lebih baik dengan pear xianglee saja.” Jawab yang satu-nya.”Oke, pear yang kau pilih saja Ming.” Jawab pria yang dipanggil ‘Kyu’ .

Ryeowook kembali melanjutkan percakapannya.”Aku ingin membeli apel yang kemarin kau tawarkan kepadaku Yesungie. Apa masih ada?” tanyanya.

Yesung mengangguk dan dengan cepatnya ia menjawab.”Tentu, tentu masih ada. Bahkan untuk mu akan ku pilih apel dengan kualitas yang masih bagus.” Jawab Yesung.

“Thanks Yesungie. Oh iya aku juga ingin membeli…” untuk kedua kalinya ucapan Ryeowook terpotong kembali karena si sepasang ‘Kekasih’ itu kembali bertanya suatu hal kepada Yesung.”Kalau Anggur, jenis apa yang bagus untuk di buat parcel?” kali ini pria yang di panggil Ming yang bertanya.

Yesung mengela nafasnya, ia sedikit bingung dengan situasinya kini. Di satu sisi ia harus konsentrasi pada kerjanya, tapi di sisi lain pesona Ryeowook tidak bisa ia lepaskan begitu saja dan menghiraukan pria manis itu.

“Hum, bagaimana kalau anggur red globe Australia. Manis dan banyak airnya, juga pasti akan terlihat cantik kalau di tata untuk di buat parcel.” Jawabnya. Yesung melirik Ryeowook yang berada di samping, terlihat begitu murung dan sebal.

“Ah, baiklah. Bisa kau buatkan parcel dengan buah yang kau bilang tadi?” Tanya Kyu,”…Dan, tolong buatkan parcel-nya sebagus mungkin. Bisa kan?.” Tambah Ming. Yesung mengangguk mengerti.

Kyu dan Ming berjalan-jalan sebentar mengitari toko sementara Yesung akan membuatkan parcel  yang mereka pesan. Ryeowook yang tadinya datang ke toko dengan aura penuh semangat, kini malah menjadi malas dan merasa bad mood.

“Wookie-ah…bagaimana kalau kau membantu ku untuk membuat parcel? Mau?” Tanya Yesung. Ryeowook langsung mengangguk dan tersenyum lebar.

“Eh…” Ryeowook menyadari sesuatu,”Tapi, Daddy-ku dan bos-mu bagaimana? Pasti kau dan aku akan di marahi.” Tambahnya dengan kecewa. Segurat senyum Yesung membuat suasana kecewa hilang.” Tenang, toko tidak begitu ramai, lagi pula bos ku sedang pergi keluar kota. Dan juga, tidak lama untuk membuat sebuah parcel.” Jawabnya.

“…Dan juga, kalau kau ada di sampingku, aku…jadi semangat Wookie~” tambahnya.

“Tetap di sampingku. Oke.” Yesung tersenyum manis, semanis delima yang warnanya sudah memerah menyala. Semanis peach, mungkin lebih manis rasanya di banding manis yang berasal dari buah semangka.

“Yesungie, manis.”

.

.

.

Sebuah parcel cantik berisi banyak macam buah, apel fuji sunmoon, jeruk Sunkist navel usa, pear xianglee premium, dragon red fruit, mangga cherry dan anggur red globe Australia, telah tersusun dengan rapi dan indahnya di tata oleh Yesung dan Ryeowook berdua.

“Wuah, cantik sekali Ming, seperti mu.” Ucap Kyu ketika melihat hasil karya itu. Ming mencubit pipi Kyu sekali,”Kau ini.” Ucapnya.

Kyu dan Ming sangat serasi, mereka pun terlihat mesra berdua. Membuat Yesung dan Ryeowook agak sedikit risih.

“Kau…juga cantik.” Bisik Yesung pada telinga Ryeowook.

Cantik? Dulu, manis? Lalu…besok apa lagi yang akan Yesung katakan pada pria imut itu. Mungkin seribu bahasa cinta lain.

“Well, terimakasih telah membuatkan parcel cantik ini. Oh iya, aku baru saja membuka restaurant baru di seberang toko ini. Mungkin kalian berdua bisa berkunjung kesana.” Ucap Ming sembari menyodorkan sebuah kartu nama kepada Yesung.”Yea~ di sana kalian bisa berkencan di temani musik-musik romantis.” Tambah Kyu.

Yesung dan Ryeowook saling pandang sekilas, dan saling tersenyum.”Kami hanya teman.” Jawab Yesung dengan malu-malu kucing.”Yea~ bisa ku lihat kalian hanya teman. Karna itu, pergi lah kesana sekali, nikmati suasananya, mungkin saja akan membuat kalian berdua merubah pertemanan kalian menjadi sebuah hubungan yang –lebih dari itu.” jawab Kyu lagi.

Teman

Apa salahnya, kalau lebih dari itu.

“Baiklah, suatu saat kami akan kesana.” Jawab Yesung. Kemudian ia membaca tulisan yang tertulis di kartu itu.

Apple restaurant – CEO Lee Sungmin

.

.

.

.

.

Seminggu setelahnya, Heechul kembali berbelanja ke Fruit Market. Hanya bersama Sungrae.

Dimana Ryeowook?

“Tidak ada yang murah di dunia ini.” Ucap Sungrae pada Yesung di salah sudut ruangan toko. Sementara Heechul sedang memilah-milih apel, Yesung malah fokus mencari tahu tentang keberadaan Ryeowook yang tidak menampakan dirinya hari ini.

“Ah, baiklah Rae-ah, bagaimana kalau sate strawberry dengan balutan coklat panas yang lezat. Kau mau?” Tanya Yesung menawarkan sesuatu sebagai penyuap gadis kecil itu agar ia mau membuka mulutnya perihal keberadaan Ryeowook.

Mata Sungrae berbinar-binar membayangkan sate strawberry kegemarannya itu.”Baiklah, akan ku katakan di mana Wookie-oppa, asal Yesung-oppa janji akan memberikan makanan lezat itu oke?” ujar Sungrae.

Yesung mengangguk pasti.”Janji! jadi, dimana Ryeowook?”

Sungrae menatap datar lantai toko dengan wajah penuh kesedihan.“Wookie-oppa, kasihan…”

“…Sudah dua hari, dia di rawat di rumah sakit karena tifus.”

.

.

.

.

.

Gugup. Itulah perasaan Yesung. Sekarang dia sedang berdiri di depan sebuah kamar, tempat dimana Ryeowook dirawat. Setelah menyogok Sungrae dengan sate strawberry akhirnya dia mendapat informasi tentang keadaan Ryeowook.

Ryeowook masuk rumah sakit. Entah kenapa Yesung terus menerus kepikiran tentang Ryeowook. Sakit apa dia? Apa sakitnya parah? Kumohon, cepatlah sembuh. Pikiran-pikiran seperti  itu terus memenuhi kepalanya. Setelah jam kerjanya berakhir, dia memutuskan untuk menjenguk Ryeowook.

Setelah rasa gugupnya sedikit teratasi, dia memutar kenop pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu, karena dia tau hanya ada Ryeowook di kamar itu. Tadi sebelumnya dia melihat Heechul dan Sungrae keluar kamar menuju ke kantin Rumah Sakit. Sepertinya ingin makan.

Yesung melangkah pelan memasuki kamar inap, lalu menutup pintunya rapat-rapat. Dia mendekati  Ryeowook yang sedang tertidur pulas dengan dengkuran halus. “Aku datang…” ucapnya dalam sebuah bisikan kecil.

Tangannya tak tahan untuk tidak menyentuh setiap inci wajah Ryeowook. Bermula dari rambutnya yang halus, lalu turun ke matanya, hidung kecilnya, dan terakhir bibir mungilnya yang sedikit terbuka. Rasanya Yesung pun tak tahan untuk tidak menyentuh bibir itu dengan bibirnya sendiri. Dia mengelus pipi Ryeowook dengan lembut.

“Engh…” Ryeowook menggeliat kecil, sedikit terganggu dengan sentuhan yang tiba-tiba. “Daddy?” panggil Ryeowook.

“Bukan, ini aku. Yesung,” sahut Yesung pelan. Wajahnya terasa panas karena kegugupan menghampirinya lagi. Untung saja dia buru-buru menarik tangannya sebelum Ryeowook sadar sepenuhnya.

“Ka- kau ada disini?” tanya Ryeowook yang tak kalah gugup. Dia kemudian bangun, bersender di kepala ranjang dibantu oleh Yesung.

“Hari ini ayahmu datang ke toko kami dan kau tidak kelihatan. Jadi kuputuskan untuk bertanya pada Sungrae,” jelas Yesung pelan. “Dan kau tau? Sungrae membuatku sedikit jengkel hari ini.” Keduanya terkekeh geli. Gadis kecil itu memang penuh kejutan.

“Apa… kau mencemaskanku?” tanya Ryeowook hati-hati.

Yesung berdehem sekali, lalu menganggukkan kepalanya pelan. “Sepertinya… begitu.”

Mendengar jawaban itu, Ryeowook menunduk malu sambil mengulum senyumnya. Dia tidak menyangka Yesung begitu perhatian kepadanya.

“Ah, aku membawakan apel untukmu. Apa kau mau?” Yesung menunjuk sekeranjang kecil buah-buahan yang dibawanya tadi. Ryeowook tersenyum lalu mengangguk malu-malu. Matanya diam-diam mengekori setiap gerakan Yesung. Saat Yesung mengelap apel, saat Yesung mengupas apelnya, saat Yesung memotong apel-apel itu dan ah… hanya dengan melihat gerakannya saja membuat Ryeowook terpukau.

“Jangan terus memperhatikanku. Nanti kau bisa terjerat pesonaku.” Yesung berbicara tanpa mengalihkan fokusnya pada apel.

“Eh? Aku? Ak- aku tidak memperhatikanmu, aku hanya…”

“Hanya?” Yesung menunggu kata lanjutannya, tapi Ryeowook telah kehilangan kata-katanya. Dia tersenyum kecil saat wajah Ryeowook merona, membuat wajahnya semakin cantik. ”Ah sudahlah, aku hanya bercanda. Ini, makanlah.” Yesung menyerahkan potongan-potongan apel yang disusun dipiring kecil.

“Ayo di makan.” Kata Yesung menyuruh Ryeowook buat makan apelnya. Tapi Wookie menggeleng pelan dan hanya menjawab,”Makasih, tapi nanti ajah Yesungie. Aku bakal makan kok apelnya.”

Yesung memandang dingin wajah Ryeowook dan membuat aura dinginnya menyelimuti kebersamaan mereka itu. Dia meletakan kembali piring tadi, lalu di ambilnya sebuah apel segar yang sebelumnya ada di dalam kantung bawaannya.”Makanlah, ini apel yang manis.” Ucapnya mencoba lembut.

“Buat kamu yang manis.” Godanya.

Ryeowook tersenyum kecil mendengar ucapan tak biasa dari Yesung itu. Di tambah dengan sikap berbeda kepadanya, sikap hangat yang membuat siapa saja nyaman berada di sampingnya.

“Iya deh, aku makan.” Ucap Ryeowook.

Ryeowook meraih apel yang berada di tangan mungil Yesung. Dan langsung saja ia menggigitnya dengan semangat. Sebuah gigitan kecil pada daging buah apel tersebut.

“Pahit.” Katanya pelan sambil mengunyah buah apel itu.”Apel nya pahit Yesungie.” Tambahnya lagi.

Pahit?

Yesung mengambil apel bekas gigitan Ryeowook itu lalu ikut mencicipinya. “Tapi apelnya manis, Wookie-ah,” ujar Yesung.

Ryeowook menggeleng pelan dengan tidak bersemangat. “Aku mual, semua yang kumakan tidak terasa.”

“Maaf.” Lirih Ryeowook merasa tak enak.

“Aku, kehilangan rasa.” Ucapnya lagi dengan pelan.

.

.

.

Yesung tersenyum dan duduk dipinggir ranjang Ryeowook. “Jadi… kau benar-benar ingin merasakan rasa manis?” tanyanya pelan. Matanya menatap wajah cantik Ryeowook.

Ryeowook menganggukkan kepalanya dua kali, matanya juga menatap wajah tampan Yesung. “Ya, aku ingin.”

Yesung tersenyum semakin manisnya. Menatap dalam mata Ryeowook. Perlahan, ia semakin memperkecil jarak diantara mereka. Hidung mereka mulai bersentuhan. Hembusan hangat yang kian menerpa wajahnya membuat Ryeowook memejamkan mata hingga sesuatu yang lembut dan basah menempel dibibirnya. Keduanya merasakan kedekatan yang sangat nyata, membiarkan nafas mereka saling berbicara. Ketika detak jantung mereka semakin berpacu, sesuatu yang lembut itu mulai bergerak, melumat pelan bibir mungil Ryeowook. Ryeowook meremas bahu Yesung lalu ikut membalas ciuman hangat itu.

“Kau ingin yang lebih manis?” bisik Yesung setelah dia melepaskan bibir Ryeowook. Dia menyatukan dahi mereka lalu mengelus bibir basah Ryeowook dengan ibu jarinya.

Ryeowook memejamkan matanya kembali, dirinya tak kuasa menolak pesona lelaki yang telah mencuri ciumannya. “Berikan aku yang lebih manis,” katanya. Dan sekali lagi Yesung kembali menjerat Ryeowook dengan pesonanya.

.

.

.

Musim panas kali ini begitu menyiksa walaupun ditempatnya bekerja, AC terus hidup selama 24 jam penuh. Yesung yang mudah berkeringat kini sedang menata apel-apel manis di rak display. Yesung teringat, seminggu yang lalu ia mencium Ryeowook untuk pertama kalinya. Bukan hanya sekali-dua kali mereka berciuman, kalau saja mereka tidak kepergok oleh perawat yang mengecek keadaan Ryeowook mungkin mereka akan menghabiskan sisa hari dengan ciuman-ciuman manis yang memabukkan. Bahkan rasa manis yang ditinggalkan Ryeowook dibibirnya masih terasa sampai sekarang. Begitu manis sampai menjadi candu baginya.

Ngomong-ngomong tentang Ryeowook, Yesung menginginkan sosok itu berada disampingnya saat ini. Hanya sekedar melihat wajahnya mungkin bisa membuat udara panas menjadi sejuk.

“Aku ingin beli apel.”

Oh… bahkan saking rindunya, dia bisa mendengar suara Ryeowook sekarang. Begitu jelas dan nyata.

“Hei, kau tidak dengar ya? Aku ingin membeli apel.”

Yesung terperangah melihat Ryeowook berada dibelakangnya. “Wo- Wookie? Kau sudah sembuh?”

“Jadi kau berharap aku terus sakit, huh?” Ryeowook berjalan mendekati Yesung dengan wajah cemberut.

“Apa apel ini manis?” Ryeowook mengambil apel yang ada ditangan Yesung. Memperhatikan apel tersebut dengan wajah imutnya. Ah~ Yesung selalu tidak tahan melihat ekspresi wajah itu. “Hei, ayo jawab. Apel ini manis nggak?” ulang Ryeowook sekali lagi.

Sekali lagi Yesung tergagap, “Tentu saja itu manis. Itu adalah Apple Ambrosia import dari USA,” jelasnya dengan lugas. Ryeowook menggeleng pelan, tampak tidak puas dengan penjelasan Yesung.

Um?

“Bagaimana dengan yang ini? Ini adalah Apel varietas RS103-130 yang dikembangkan dari gen Apple Floribunda. Apel ini tahan lama sampai 2 minggu dan rasanya akan tetap manis. Pasti ini yang kau mau ‘kan?”

Lagi-lagi Ryeowook menggeleng. Dia mengembalikan apel itu ditempatnya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Yesung.

Yesung merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Deruan nafas yang hangat menyapu lehernya ketika laki-laki mungil itu  berbisik, “Aku ingin apel yang lebih manis dan lembut, yang rasanya seperti waktu itu. Yang kau berikan padaku dengan sepenuh cinta,” lirihnya. Kedua matanya bertemu dengan mata sabit Yesung, “Kau mengerti ‘kan maksudku?”

Dengan suara yang terpatah-patah Yesung menjawab, “Aku mengerti.”

.

.

.

.

“Turtle turtle turtle turtle~ naega naega naega moncheo, naege naege naege ppajyeo~ ppajyeo ppajyeo boryeo bebeehh~” Sungrae semangat bernyanyi sambil berlari-lari kecil di dalam toko. Hari ini ia sepertinya sangat senang.

“Hei~ Rae-ah cute. Sedang menyanyi apa?” Tanya Yesung ramah ketika ia dengan mudah menangkap sosok gadis kecil riang itu. Sungrae berhenti berlari dan langsung menatap Yesung yang bertanya padanya. Tak lupa ia merapikan rambut dan membenahi poninya yang sedikit berantakan. Yah, sisi genitnya kambuh saat ia bertemu dengan Yesung ‘Pangeran masa depannya.’

“Euh, itu lagu terkenal. Dari boyband terkenal pula. Yesung-Oppa tidak tahu?” jawab Sungrae di lanjutkan dengan pertanyaan-nya. Yesung menggeleng pelan.

“Itu, lagu Super Junior? Oppa tidak tahu? Payah~~~” tambah Sungrae lagi. Yesung menyipitkan kedua matanya.”Ah, aku tidak tahu. Lupakan! Eh~ kemana Wookie? Eum maksudnya, kemana Daddy dan Oppa-mu?” Tanya Yesung penasaran.

Sungrae yang mengetahui kedekatan Yesung dengan Oppanya itu langsung memasang wajah jealous.”Aku hanya datang bersama Daddy. Kenapa?! Pasti Oppa bertanya di mana Wookie-Oppa kan?! Mengaku ajah.” Jawabnya agak sadis dan sinis.

Yesung berlutut mensejajarkan tingginya dengan tinggi Sungrae,”Ne~ Oppa ingin tahu di mana Wookie-Oppa mu? Kenapa kalian tidak belanja bersama? Oh! Apa Wookie sakit lagi?” tanyanya dengan akhiran cemas.

Sungrae menggeleng pelan dengan sedikit lesu,”Hem, Wookie-Oppa baik-baik saja di rumah. Aku dan Daddy sengaja tidak mengajaknya karena kami akan membuat kejutan khusus untuk dia.”

jawab Sungrae bersemangat.

Kejutan –khusus?

“Eh, kejutan? Dalam rangka apa?” Tanya Yesung menyelidiki.

Sungrae diam seribu bahasa dengan kedua mata menatap kebawah lantai toko.

“Kejutan apa? Apa Rae?” Tanya Yesung lagi sangat penasaran. Sungrae menggeleng kepalanya dan tetap diam tidak menjawab.

Yesung berdiri dari berlututnya, menatap Sungrae penuh kecurigaan dan memutar otaknya agar si gadis cilik itu mau buka suara dengan hal apa yang membuatnya penasaran.

“Ah begini Rae, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan. Jika kau menjawab pertanyaan Oppa, kau akan Oppa belikan sesuatu yang kau sukai di sini. Mungkin buah atau makanan lain?” tawar Yesung.

Sungrae menatap Yesung dengan pandangan setuju akan penawaran tadi.”Benarkah?” tanyanya memastikan.

“Iya, pasti.” Janji Yesung dengan mengadahkan telapak tangannya seraya bersumpah.

“Oke.” Jawab Sungrae setuju.

Yesung dan Sungrae ber-high five.”Jadi, kejutan dalam rangka apa yang akan kau dan Daddy berikan untuk Oppa mu ha?” Tanya Yesung langsung.

“Euh, kejutan –untuk merayakan –pesta…Ulang tahun Wookie-Oppa.” Jawab Sungrae dengan riang.

Ulang tahun. Ternyata itu kejutan yang akan Heechul dan Sungrae berikan buat Ryeowook. Dan, Yesung pun tidak ingin melewatkan hari special kekasih-nya itu.

“Wuah, jadi Wookie berulang tahun ya. Dia, pasti bahagia.” Ucap Yesung ikut senang.

“Oppa~ Oppa~” Sungrae menarik-narik celana jeans hitam Yesung.”Oppa tidak lupa kan dengan janji mu?” Tanya Sungrae dengan polos.

Yesung mengangguk pelan,”Ne~ aku ingat. Jadi, apa yang kau sukai di sini? Aku akan membelikannya untuk mu.” Ujarnya.

Sungrae berfikir sebentar dan kemudian sebuah jawaban singkat keluar dari mulut mungil Sungrae.

“Yesung-Oppa! Aku suka Yesung-Oppa.”

“APA?!!! A-aku?” Tanya Yesung shock.

Sungrae mengaguk pasti,”Iya, belikan aku ‘Yesung-Oppa’ please~” jawabnya.

“Cih…anak kecil!.”

.

.

.

.

.

Wookie, temui aku di toko malam ini

Sebuah kejutan menunggumu 🙂

Love you, and Happy birthday^^

-From Yesungie

Beberapa kalimat itu Ryeowook baca berulang-ulang. Dengan terpesona dan tersipu malu, ia melipat kertas kecil yang ia dapat dari Sungrae, dan ia taruh kertas itu di tengah buku novel berjudul “Why I Like Apple?”*

*fict novel

“Oppa~ Yesung-oppa tulis apa di kertas itu? lihat Oppa!~”

“Dia bilang ‘Saengil chukae –Wookie’ hanya itu. hehehe.”

.

.

.

.

.

Jantung Ryeowook berdegup dengan kencangnya saat ia memasuki Fruit Market. Ia tidak bisa membayangkan dengan kejutan apa yang akan Yesung berikan padanya di hari ulang tahunnya ini.

“Maaf, Yesung-sshi tidak berkerja hari ini.” Jawab seorang karyawan bernama Donghae. Ryeowook menunduk lesu. Sangat jelas tadi Yesung memintanya untuk datang ke toko –agar ia menemuinya, malam hari pula. Yesung benar-benar telah membuat Ryeowook kesal malam ini. Malam di mana seharusnya ia bersenang-senang akan hari peringatan ulang tahun-nya.

“Tapi, dia menitipkan sesuatu untuk mu.” Ujar Donghae lagi. Ia mengambil sebuah tas kantung kertas berwarna biru muda dengan pita biru tua bercorak gambar tumpukan awan putih.

Ryeowook meraih tas itu dan ia lihat di dalamnya. Tiga buah apel. Apel yang tak asing lagi ia lihat.

Pacific rose apple.

Apel, yang pertama kali Yesung berikan padanya.

Apel, yang Yesung berikan pula saat di rumah sakit.

Dan, kini apel itu di berikan kembali oleh Yesung saat ia berulang tahun.

“Thanks.” Jawab Ryeowook pelan –masih kecewa.

Ryeowook berjalan menuju pintu luar, ia berniat segera pulang. Mungkin di perjalanan ia akan menangisi hari ini.

“Hei…” panggil seseorang. Ryeowook memfokuskan pandangannya yang ternyata  masih berada di dalam toko,  dan baru tersadar kalau dirinya sedang di lihat oleh puluhan orang yang berada di dalam toko buah itu.

“Apa kau mencuri?” Tanya seseorang yang memanggil tadi. Ryeowook yang di tuduh sebagai pencuri itu langsung menggelengkan kepalanya.”Tidak, aku tidak mencuri.” Bela-nya dengan kedua tangan bergemetar.

Pria itu mendekati Ryeowook.”Bisa ku lihat tas kantung yang kau bawa?” tanyanya. Dengan tangan penuh gemetaran, Ryeowook menyodorkan tas itu.

“Apel?”

“Jadi ini semua apel yang kau curi ha?” Tanya pria itu dengan sinis.

“Bukan! Tidak! Anda salah paham tuan! Aku tidak mencurinya…aku…” Ryeowook bingung ingin berkata apa. Kekecewaan semakin melanda dirinya, banyak rasa kecewa yang ia terima karena sosok seorang pria yang baru saja mengisi hatinya. Yesung.

Tubuh Ryeowook lemas, bahkan kedua lengannya yang di tarik paksa karyawan itu pun membuatnya tidak bisa berkutik. Sekarang, di kepalanya hanya ada rasa kecewa karena Yesung.

“Bawa dia ke kantor.” Perintahnya pada karyawan lain.

.

.

.

Ryeowook menaiki tangga hingga berada di lantai tiga di toko tersebut. Begitu sepi keadaannya. Ia berdiri tepat di sebuah pintu besi.”Masuklah, dan urus masalahmu dengan bos kami di dalam.” Ucap karyawan tadi. Kemudian, Ryeowook di tinggal sendiri saja di depan pintu besi itu.

Bruk.

Ryeowook membanting tas kantung tadi dari tangannya, dan membuat tiga buah apel segar itu rusak dan bergelinding entah kemana.

Ia mendengus kesal. Dalam niatnya, akan ia katakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia akan membela dirinya semaksimal mungkin.’Aku tidak bersalah.’

Ryeowook mulai mendorong pintu besi itu. Tidak ia fikirkan betapa buruknya keadaan yang akan terjadi di ruangan itu. baginya, semua itu sudah terserah.

“Ehng?” hawa dingin malam terasa. Langit malam terlihat membentang begitu luasnya, dan sepoy angin segar menerpa tubuh Ryeowook.

Pemikirannya salah. Ternyata bukan sebuah ruangan yang ia datangi. Melainkan sebuah tempat terbuka di lantai paling atas gedung –dengan suasana malam yang amat indahnya. Penuh dengan bintang-bintang dan,

“Yesungie?”

Yesung berada di sana berdiri dengan gagah, memakai blazer hitam yang di padukan dengan t-shirt putih berleherkan V dan celana jeans hitam yang ia senadakan dengan sepatunya juga yang berwarna hitam. Rambut coklat nya terlihat rapi kali ini, namun sedikit tertiup angin. Di samping ia berdiri sebuah meja dengan dua kursi berhadapan mencolok pada keadaan sepi di atas sana. Terlihat romantis.

Dengan langkah keci, Ryeowook berjalan mendekati Yesung. Kekecewaannya perlahan mengilang.

“Happy birthday my Wookie.” Suara baritone Yesung terucap dengan tulusnya untuk pria mungil itu.

Yesung meraih kedua lengan Ryeowook ketika pria imut itu telah berada tepat di depan dirinya.”Happy birthday. Ini hari special-mu, dan aku ingin menjadi bagian memory yang tak terlupakan oleh mu. Setidaknya, malam ini saja –bersamaku.” Ucap Yesung. Kemudian, di ciumnya kedua punggung telapak tangan Ryeowook. Dan dilanjutkan dengan sebuah kecupan mesra di kening Ryeowook.

“Thanks.” Jawab Ryeowook.

Sebuah meja kecil, dengan dua batang lilin yang menyala dengan terang-nya di tengah meja tersebut. Membuat suasana romantic menjadi sangat kentara.

“Silakan duduk.” Yesung mempersilahkan Ryeowook untuk duduk di salah satu kursi yang berada di antara meja tersebut.

“Apel?” Tanya Ryeowook diakhiri tawaan kecil yang begitu imutnya.

Candilight dinner, dengan menu sebuah apel segar pada tengah piring. Di tambah sebuah pisau kecil dan garpu pada kanan dan kiri piring tersebut.

“Oh, iya. Really sorry Wookie-ah. Aku hanya bisa menyajikan apel ini untuk ulang tahun-mu.” Jawab Yesung. Ryeowook hanya tersenyum tidak percaya. Apel?

“…Ah~ tadinya aku ingin mengajakmu untuk ke Apple Restaurant yang berada di seberang itu. tapi, aku masih jam kerja.” Tambah Yesung.

“R-really thank you Yesungie. Bagiku kejutan ini saja, sudah membuatku amat senang dan….” Ryeowook tidak melanjutkan ucapannya. Ia sudah cukup bahagia dengan suprise-nya.”I love you~”

“Aku, juga mencintaimu.”

Mereka berdua saling pandang dari jarak tempat duduk. Menatap dalam satu sama lain.”Wookie-ah. Apa…kau mau tau apel apa yang paling manis di dunia ini?” Tanya Yesung tiba-tiba. Ryeowook tersenyum geli.”Kau menggoda-ku Yesungie!~

“Engh? Kenapa memangnya? Aku kan hanya bertanya.”

“T-tapi, pertanyaanmu membuatku sedikit –mengingat, kejadian itu di rumah sakit!~”

“Kejadian apa?? Huh?”

“Ya~ Yesungie.”

.

.

.

.

.

Ryeowook memasuki Fruit Market itu dengan wajah yang merona. Ditangannya ada sekotak pie apple yang masih hangat. Pie apple buatannya sendiri sebagai rasa terima kasihnya atas kejutan yang diberikan Yesung semalam.

Tanpa menunggu lama lagi dia langsung berjalan ke bagian apel, tempat dimana biasanya Yesung membenahi apel-apel di rak display. Tapi bukan Yesung yang ada disana, melainkan karyawan lain.

“Hm, maaf. Apa Yesung tidak bekerja hari ini?” tanya Ryeowook pelan.

Orang yang sedang menata apel-apel itu menoleh. “Yesung-shi?” Ryeowook mengangguk. “Tidak, dia tidak bekerja hari ini.” Ryeowook mendesah pelan. “Tidak juga untuk selamanya. Dia dipecat kemarin malam karena lalai dalam bekerja,” sambungnya lagi.

Apa katanya? Yesung dipecat? Ryeowook merasa lemas. Bahkan pie apple yang ada di tangannya jatuh begitu saja. Kesalahan apa yang dibuatnya? Apa Yesung dipecat karenanya? Tidak! ini mimpi buruk, sama buruknya ketika dia kehilangan Ibunya. Dan kini dia  harus kehilangan Yesung juga? Dengan perlahan dia mundur kebelakang, “Ini tidak mungkin!”

.

.

.

.

Tak ada nomor telepon, tak ada alamat rumah dan tak ada informasi apapun tentang Yesung. Sejauh yang diingatnya, mereka memang tidak pernah memberitahukan apapun tentang diri mereka masing-masing. Ini kesalahan terbesar yang diperbuat Ryeowook. Bagaimana bisa setelah semuanya terjadi dia tidak tau apa-apa tentang Yesung? Semuanya gelap. Dia bahkan mengutuk dirinya berkali-kali karena kebodohannya itu.

“Wookie, bisa kau bantu Daddy?” tegur Heechul. Entah apa yang terjadi pada anaknya, yang jelas Heechul sering memergoki Ryeowook sedang melamun dengan wajah yang sedih. Bahkan Ryeowook juga melamun saat mereka ada diruang publik. Seperti saat ini, sekarang mereka ada disebuah super market untuk berbelanja.

“Wookie…” Heechul menepuk pelan bahu Ryeowook.

“Ya Dad?” Ryeowook sadar dan buru-buru bersikap normal.

“Kau dengar yang Daddy katakan?”

Ryeowook menggeleng, “Maaf aku nggak dengar.”

“CEPAT AMBILKAN BROCCOLI!”

Ryeowook mengangguk dan secepat mungkin lari ke bagian sayur-sayuran sebelum ayahnya berteriak lebih keras lagi. Tak ada yang lebih mengerikan ketika Kim Heechul mengamuk, apalagi ini di tempat umum.

.

.

.

Ryeowook kini berdiri didepan rak sayur-sayuran dengan pandangan kosong. Seandainya aja sekarang dia ada di Fruit Market. Seandainya broccoli ini berubah menjadi apel. Seandainya Yesung ada disini membantunya memilih broccoli. Seandainya… yah seandainya dia bertemu Yesung lagi dia berjanji, sayur-sayuran ini –terutama broccoli- akan menjadi makanan favorite-nya walaupun dia benci harus makan sayur-sayuran.

Dalam hatinya dia menjerit ‘Aku kangen Yesung.’

“Ada yang bisa kubantu, Tuan?” suara seseorang disampingnya membuyarkan angan-angan Ryeowook bertemu Yesung -dan juga diam-diam berencana mengganti calon makanan favoritnya-.

“Aku butuh beberapa…” Raut wajah Ryeowook berubah ketika matanya menangkap sosok itu. Senyumannya yang sempat hilang selama berhari-hari sepertinya telah kembali. “Aku butuh beberapa bongkol broccoli, bisakah kau memberikannya kepadaku?” sambung Ryeowook malu-malu.

Orang itu mendekatkan wajahnya dan berbisik, “Akan kuberikan dengan sepenuh cinta, seperti waktu itu. Kau ingat ‘kan?”

Ryeowook menunduk malu dengan wajah yang memerah, “Aku ingat.”

.

.

.

.

.

“Daddy, ada apa dengan oppa?” bisik Sungrae kepada Heechul. Mereka memicingkan matanya melihat Ryeowook yang makan dengan lahapnya. Bukan hal yang aneh sebenarnya kalau Ryeowook begitu. Yang aneh adalah Ryeowook bisa makan sayur-sayuran tanpa ada paksaan! Bukankah sayur-sayuran adalah musuh abadinya? Apa mungkin antara dia dan sayur-sayuran sudah mencapai kesepakatan damai? Hah, entahlah.

“Uwowow, bahkan oppa menghabiskan semuanya,” teriak Sungrae heboh.

Ryeowook mengelap mulutnya dengan serbet lalu berkata, “Daddy, bukannya sayur-sayuran juga bagus untuk pertumbuhan remaja sepertiku?”

Heechul mengangguk.

“Mulai sekarang aku akan banyak makan sayur biar tinggi kayak Daddy.”

Pernyataan Ryeowook tadi sukses membuat mulut Heechul dan Sungrae ternganga lebar. Mudah-mudahan Ryeowook tidak dalam keadaan mabuk sekarang.

Ternyata benar kata orang tua dulu. Kalau kita jodoh, kita pasti akan bertemu lagi.

Dan, dia si Ryeowook kita yang imut itu –pada akhirnya bertemu lagi dengan si pangeran apel.

Oops, pangeran broccoli maksudnya.

The end

 [2011-06-28] DweeRae – Cloudira –ELF!

Advertisements

Responses

  1. Keren! ceritanya simple, manis, dan happy ending. I like it! ^^

    • thankyu ^^

  2. Ceritanya bagus..simple.. so sweet ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: